Sukses

Acap Kali Disabilitas Jadi Objek Konten Prank, Ini Tanggapan Komika Jaka Ahmad

Liputan6.com, Jakarta Konten prank di beberapa saluran YouTube sering menjadi incaran warganet. Namun, tak sedikit pula para pembuat konten yang berperan sebagai seorang penyandang disabilitas demi menarik minat penonton.

Jaka Ahmad, seorang pembuat konten dan komika disabilitas berpendapat, pembuatan konten itu kembali pada orangnya sendiri. Apakah mereka membuat konten hanya untuk hiburan semata atau berbagi ilmu tentang disabilitas.

“Kalau menurut saya, semua itu sah-sah saja untuk dilakukan hanya saja kembali lagi apakah pembuat konten itu bisa mempertanggungjawabkan apa yang telah dia unggah,” ujarnya dalam webminar Konekin (4/7/2020).

Pria penyandang disabilitas netra ini sempat mengetahui salah satu konten prank tentang disabilitas. Menurutnya, ada beberapa kesalahan pembuat konten yang berdampak pada ketidaknyamanan para penyandang disabilitas.

“Ketika dia menganggap orang bisu, tuli, buta itu lucu ketika berbelanja, kekeliruan dia adalah menertawakan kondisi dari individu yang ditertawakan makanya dia mendapat banyak masalah.”

2 dari 3 halaman

Meningkatkan Kepedulian Masyarakat

Konten-konten prank disabilitas yang disampaikan secara sembarangan dapat membangun representasi yang salah tentang disabilitas di masyarakat umum. Untuk membangun kepedulian masyarakat tentang hal ini, Jaka menyebut keberanian difabel cukup berperan.

“Seberapa berani kita keluar, bukan keluar secara fisik tapi bagaimana kita menginformasikan keberadaan kita, menginformasikan nilai yang kita anut, dan menyuarakan apa yang kita yakini harus diubah di masyarakat.”

Ia memberi contoh konten prank sebelumnya, seberapa berani teman-teman difabel bergerak untuk menyadarkan pembuat konten. Menghubungi pembuat kontennya dan bicara bahwa hal tersebut salah, katanya.

“Hal lain yang biasanya kita keliru adalah ketika tidak setuju dengan sebuah konten, kita malah menyerang individunya, maka pesan perbaikan pun tidak kan sampai.”

Ia mencontohkan komentar yang seharusnya dilayangkan kepada pembuat konten agar sadar dan mengetahui di mana letak kesalahannya. Misal, memberitahu bahwa konten tersebut memperkuat stereotip masyarakat tentang penyandang disabilitas netra.

“Selama ini orang menganggap bahwa orang buta tidak bisa melakukan apa-apa, video itu memperkuat anggapan masyarakat bahwa orang buta benar-benar tidak bisa. Komentar seperti ini yang seharusnya diperbanyak,” pungkasnya.

Pada akhirnya, si pembuat konten melihat komentar itu dan mengakui kesalahannya.

3 dari 3 halaman

Simak Video Berikut Ini: