Sukses

Neil Baldwin, Pria Disabilitas yang Kisahnya Diangkat Menjadi Film Legendaris di Inggris

Liputan6.com, Jakarta BBC2 kembali menayangkan film 'Marvellous', sebuah film yang menceritakan kisah nyata Neil Baldwin. Film berdurasi 90 menit tersebut begitu terinspirasi dari kisah nyata Balwin, seorang pria disabilitas intelektual yang menolak untuk menerima label kesulitan belajarnya dan betapa kisah hidupnya yang luar biasa.

Siapakah Neil Baldwin?

Baldwin lahir di Newcastle-under-Lyme di Staffordshire, Inggris pada Maret 1946. Dia didiagnosis dengan ketidakmampuan belajar sebagai seorang anak atau lebih sering disebut berkebutuhan khusus dan membutuhkan terapi wicara.

Dia meninggalkan sekolah pada usia 16 tahun untuk bergabung dengan Sir Robert Fossett's Circus, sirkus tertua di Inggris, dan dia tampil sebagai Nello the Clown selama tiga musim.

Ketika dia berusia 14 tahun, dia mulai datang ke Universitas Keele terdekat, tempat ibunya bekerja sebagai pembersih untuk menyambut siswa baru.

Baldwin tidak diminta melakukan ini, juga tidak dibayar, tetapi sikap cerianya dengan cepat membuatnya mendapatkan teman dan bahkan dikenal di universitas.

Dia pun dianugerahi bintang kehormatan Serikat Mahasiswa Universitas Keele pada 1968, dan pada 2013 dia menerima gelar kehormatan dari universitas.

Dia seperti maskot tidak resmi untuk universitas. Pada tanggal 12 Maret 2000, timnya sendiri dari mahasiswa Universitas Keele (Klub Sepakbola Neil Baldwin, dibentuk pada tahun 1967, yang presidennya adalah Kevin Keegan). 

Ia juga merupakan seorang badut terdaftar (hanya sekitar 100 badut terdaftar di Inggris kala itu), dan juga seorang mantan kit-man di klub asal Inggris, Stoke City.

 

2 dari 3 halaman

Pengaruh Baldwin di Stoke City FC

Peran Kit-man cukup berpengaruh dalam kesuksesan suatu tim sepak bola. Kit-man lah yang menyiapkan sampai membersihkan jersey dan sepatu mereka sesudah digunakan. Orang-orang ini selalu setia mengikuti dimanapun tim berlaga dan berlatih. Tanpa ada mereka, sebuah pertandingan sepak bola akan terganggu, bahkan bukan tidak mungkin sampai diurungkan.

Selain untuk urusan yang bersifat teknis sebagaimana disebutkan sebelumnya, mereka pun punya peran besar untuk urusan non-teknis.

Baldwin diangkat menjadi kit-man ke klub tersebut pada tahun 90-an oleh manajer Lou Macari. Baldwin yang sudah sejak lama mengidam-idamkan untuk bisa bekerja di Stoke City, akhirnya mampu mewujudkan mimpi itu.

Kisah masuknya Baldwin sebagai kit-man di Stoke City ini cukup dramatis. Kala itu, ia sedang menghadiri penyambutan pelatih baru Stoke, Lou Macari. Di acara penyambutan tersebut, bersama para pendukung Stoke lainnya, Baldwin tidak henti-hentinya meneriakkan nama Macari agar bisa membawa Stoke ke Divisi Utama Liga Inggris.

Tanpa sepengetahuan Baldwin, rupanya Lou Macari sudah memperhatikan gerak-gerik Baldwin yang dirasa cukup 'ganjil'. Hingga akhirnya Macari pun mendekati Baldwin dan mengajaknya berbincang. Setelah berbincang, entah karena rasa iba atau didasari kebutuhan, Macari pun akhirnya menawarkan Baldwin sebuah pekerjaan sebagai kit-man di Stoke. Tanpa pikir panjang, Baldwin pun segera menyetujui tawaran Macari.

Semenjak Baldwin menjadi kit-man di Stoke, ruang ganti pemain Stoke seketika berubah menjadi sangat cair dan penuh canda tawa. Sikap cerianya terhadap kehidupan mampu mengangkat moral di antara para pemain. Baldwin sangat mampu membuat suasana ruang ganti tak ubahnya seperti suasana ruang keluarga yang penuh kehangatan. Bahkan sesekali ia kerap diperintah Macari untuk menjadi motivator tim sebelum pertandingan.

Dan Stoke pun segera merasakan efeknya. Ketika suasana tim begitu kondusif, prestasi pun menjadi lebih mudah diraih. Stoke City akhirnya mampu menembus Divisi Utama Liga Inggris musim itu.

Pada tahun 1993 Mancari membawa Baldwin sebagai pemain pengganti selama lima menit dalam pertandingan testimonial Gordon Cowans melawan Aston Villa.

Mantan manajer itu juga mendedikasikan tujuh halaman autobiografinya untuk Baldwin, memanggilnya "pria tanpa sudut dan sangat langka dalam dunia sepak bola".

Pada tahun 2015, Stoke City menamainya sebagai pendukung terbaik tahun itu. Bahkan Macari mengambarkannya sebagai keputusan terbaik yang pernah ia buat.

Dari kisahnya ini, kita bisa melihat bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk memiliki kehidupan yang baik, tergantung bagaimana diri kita memandang kehidupan. Memiliki kekurangan tidak selalu membuat depresi atau tragis. Seperti Baldwin, kekurangannya telah tertutupi dengan segala hal baik yang ia bawa ke orang sekelilingnya. Saat orang mendengar nama Neil Baldwin disebutkan, hanya hal positif, semua hal baik untuk menggambarkannya. Dia terus memperluas lingkup pengaruhnya tanpa rasa takut dan penuh semangat.

3 dari 3 halaman

Simak Video Menarik Berikut Ini: