Sukses

Risiko COVID-19 pada Penyandang Disabilitas

Liputan6.com, Jakarta COVID-19 bukan hanya memberikan dampak kesehatan bagi para lanjut usia dan orang-orang dengan masalah kesehatan yang mendasarinya. Belum lama ini, peneliti menemukan keterkaitan covid-19 dengan disabilitas intelektual.

Penelitian tersebut menunjukkan orang-orang penyandang disabilitas seperti cerebral palsy, down syndrome dan autisme lebih berisiko terinfeksi dan meninggal akibat covid-19, terutama pada usia muda.

Sebagian alasannya yaitu orang-orang yang memiliki intellectual and developmental disabilities (IDD) atau disabilitas intelektual dan perkembangan otak atau sering disebut dengan retardasi mental cenderung memiliki masalah kesehatan bawaannya yang meningkatkan risiko keparahan.

Studi tersebut dipublikasikan pada 24 Mei di Disability and Health Journal.

"Kurangnya data tentang tren covid-19 pada populasi IDD ini mengungkapkan bahwa pemantauan covid-19 masih belum memadai untuk masyarakat berkebutuhan khusus, terutama di populasi IDD ini," tulis peneliti tersebut di jurnalnya.

Ini bahkan semakin mengkhawatirkan populasi IDD yang berada di tengah tengah daerah dengan co-morbiditas tinggi. Ini karena risiko mereka jauh lebih tinggi untuk sakit parah jika tertular covid-19 hingga bisa menyebabkan kematian.

Mereka juga lebih cenderung memiliki hipertensi, penyakit jantung, penyakit pernapasan dan diabetes, yang merupakan penyakit-penyakit yang teridentifikasi risiko tinggi jika terpapar Covid-19.

Penelitian lain menunjukkan kalau orang yang mengidap IDD memiliki usia harapan hidup yang lebih rendah, menurut WHO.

 

2 dari 2 halaman

Apa yang studi tersebut temukan?

Para peneliti menganalisis data dari TriNetX, basis data rekam medis elektronik yang mencakup informasi dari 42 lembaga kesehatan. Dari 30.282 pasien yang terkonfirmasi positif covid-19: 474 diantaranya merupakan IDD dan 29.808 bukan seorang IDD. Pasien yang diteliti merupakan yang dinyatakan positif di antara waktu 20 Januari hingga 14 Mei.

Adapun tingkat fatalitas pasien dengan atau tanpa IDD berbeda-beda tergantung rentang usianya.

Untuk pasien yang berusia antara 0 dan 17 tahun, mereka yang menderita IDD memiliki tingkat kematian 1,6%, sementara mereka yang tidak mengalami IDD memiliki tingkat kematian kurang dari 0,1%.

Untuk mereka yang berusia 18-74 tahun, tingkat fatalitas kasus adalah 4,5% di antara pasien IDD dan 2,7% di antara pasien tanpa IDD.

Dengan kata lain, jika 100.000 orang dengan IDD terinfeksi coronavirus, sekitar 4.500 akan mati, dan di antara 100.000 orang tanpa IDD, diperkirakan perkirakan 2.700 akan mati, kata rekan penulis studi, Scott Landes, seorang profesor sosiologi di Universitas Syracuse di New York, kepada Forbes.

Pada saat yang sama, peluang tertular Covid-19 hampir sama antara orang dengan atau tanpa IDD,namun cukup tinggi bagi mereka yang cacat (26%) dibandingakn mereka yang tidak cacat (3%) pada usia 17 tahun atau lebih muda.

Analisis NPR terpisah di dua negara memberi hasil yang serupa.

Berdasarkan hasil NPR, di Pennsylvania, orang-orang dengan disabilitas intelektual dan autisme yang dites positif COVID-19 meninggal dua kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki IDD. Sedangkan di New York, orang dengan IDD tingkat kematian 2,5 kali lipat dari orang lain yang tertular virus.

Tingkat kematian yang tinggi akibat Covid-19 sudah cukup mengejutkan, namun kelompok IDD masih dikesampingkan, kata Christopher Rodriguez, direktur eksekutif Disability Rights Louisiana, yang memantau rumah-rumah untuk orang cacat. Dikutip dari Miami Herald.