Sukses

Peran Difabel di Industri Film Amerika Meningkat Jadi 12 Persen

Liputan6.com, Jakarta Sebuah laporan menemukan jumlah karakter yang dimainkan aktor difabel di Hollywood meningkat. Pada 2016 jumlahnya 5 persen dan pada 2018 naik jadi 12 persen.

Dilansir dari nytimes.com, peran difabel di acara-acara TV naik namun sebagian besar digambarkan negatif. Contohnya, "Atypical,"  di Netflix, serial komedi yang menampilkan orang dewasa muda di spektrum autisme, dan "This Close," di Sundance Now, tentang  penyandang tuli.

Kedua tayangan tersebut merupakan bagian dari tren bertahap menuju pemeran karakter autentik dengan disabilitas. Tetapi menurut penelitian baru, mereka juga menyimpang.

Sebuah laporan dari Ruderman Family Foundation menemukan bahwa sekitar 80 persen dari semua karakter difabel di layar kaca diperankan oleh aktor yang tidak difabel. Ketidakseimbangan ini merupakan indikasi bahwa Hollywood masih jauh dari inklusif.

Penelitian, yang mencakup sekitar 280 jaringan dan streaming acara dari 2018, menemukan bahwa sekitar setengahnya menampilkan karakter dengan disabilitas fisik atau mental. Namun, laporan itu mengatakan, "bahkan di mana disabilitas hadir di televisi dan film, hampir selalu digambarkan sebagai orang yang tidak diinginkan, menyedihkan, dan terbatas."

Ada tanda-tanda pergeseran. Dari 10 tayangan berperingkat Nielsen teratas dari 2016, hanya 5 persen karakter difabel dimainkan oleh pemain yang difabel juga. Pada 2018, angka itu melonjak menjadi 12 persen.

Namun, angka-angka mentah menceritakan kisah yang kurang cerah. Pada 2018, hanya ada dua pemeran difabel dalam 10 tayangan. Gavin McHugh dari "9-1-1," dan Chrissy Metz dari "This Is Us." McHugh memiliki cerebral palsy dan Metz dimasukkan karena obesitas dianggap sebagai disabilitas.

Jay Ruderman, presiden Yayasan Keluarga Ruderman yang menerbitkan laporan tersebut berpendapat “Representasi rendah memiliki implikasi luas dalam membentuk sikap.”

2 dari 2 halaman

Kerja sama dengan Rumah Produksi

Penyandang disabilitas yang menghadapi tingkat pengangguran dua kali lebih tinggi dari teman sebayanya yang non-difabel memiliki sedikit pengaruh dalam industri hiburan. Hal itu perlahan berubah, katanya, sebagian besar pembuat keputusan dalam industri hiburan tidak melihat disabilitas sebagai bagian dari kehidupan umum.

Yayasan Ruderman telah menekan sejumlah studio dan jejaring untuk memasukkan lebih banyak difabel. Kemitraan juga dijalin dengan Academy of Motion Picture Art and Science untuk serangkaian inisiatif menuju tujuan tersebut.

CBS Entertainment menjadi yang pertama dan sejauh ini satu-satunya studio yang menandatangani janji dengan yayasan untuk mengaudisi aktor-aktor difabel.

"Ini masalah keadilan," kata Ruderman. "Ini adalah masalah lebih dari 20 persen populasi yang tidak terlihat," pungkasnya.