Sukses

Studi: Olahraga 2,5 Jam Per Minggu Bisa Turunkan Risiko Kematian

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah studi ekstensif di mana lebih dari 116.000 orang telah berpartisipasi dan dipelajari selama lebih dari 30 tahun telah menemukan bahwa berolahraga bahkan 150 menit atau 2,5 jam seminggu bisa menurunkan risiko kematian.

Peserta berasal dari Kajian Kesehatan Perawat dan Kajian Lanjutan Tenaga Kesehatan (1988-2018). Mereka diminta untuk menjawab kuesioner dengan laporan diri rinci tentang aktivitas fisik.

Melansir dari Times of India, Kamis (22/9/2022), studi penelitian berjudul “Long-Term Leisure-Time Physical Activity Intensity and All-Cause and Cause-Specific Mortality: A Prospective Cohort of US Adults” diterbitkan pada Juli 2022 di Circulation, jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Lippincott Williams & Wilkins untuk Asosiasi Jantung Amerika.

Perlu dicatat bahwa penyakit jantung adalah salah satu penyebab utama kematian di seluruh dunia dan bertanggung jawab atas lebih dari 30% kematian.

Para peneliti menemukan bahwa aktivitas fisik, bahkan dalam durasi sedang, mengurangi risiko semua penyebab kematian.

Studi tersebut melihat penurunan risiko kematian pada orang-orang yang melakukan aktivitas fisik 150-599 menit per minggu.

“Peserta yang melaporkan 2 hingga 4 kali di atas minimum yang direkomendasikan untuk aktivitas waktu senggang jangka panjang (150-299 menit per minggu) atau aktivitas sedang (300-599 menit per minggu), memiliki 2 hingga 4% dan 3 hingga 13% tambahan angka kematian yang lebih rendah,” kata sebuah laporan kesehatan.

“Hubungan yang hampir maksimum dengan kematian yang lebih rendah dicapai dengan melakukan 150 hingga 300 menit/minggu VPA waktu senggang jangka panjang, 300 hingga 600 menit/minggu MPA waktu senggang jangka panjang, atau kombinasi keduanya yang setara,” studi menemukan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Kata para ahli

“Saat ingin berolahraga, lebih banyak mungkin lebih baik. Sebuah studi baru menemukan bahwa orang yang mengikuti rekomendasi untuk ativitas fisik menurunkan risiko kematian karena sebab apa pun sebanyak 21%,” kata American Heart Association (AHA) dalam tulisannya tentang penelitian dan pentingnya aktivitas fisik.

“Tapi orang dewasa yang berolahraga 2X hingga 4X jumlah yang disarankan akan menurunkan risiko kematian mereka sebanyak 31%,” lanjutnya.

3 dari 4 halaman

32% kematian di seluruh dunia terjadi karena masalah jantung

Salah satu penyebab utama kematian di dunia, penyakit jantung merenggut hampir 18 juta jiwa setiap tahunnya. Sebagian besar kematian yang terkait dengan penyakit jantung disebabkan oleh serangan jantung dan stroke.

Penyakit jantung juga menyebabkan kematian dini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, sepertiga dari kematian ini terjadi sebelum waktunya pada orang di bawah usia 70 tahun.

Dari 17 juta kematian dini (di bawah usia 70) akibat penyakit tidak menular pada 2019, 38% disebabkan oleh penyakit jantung.

Dalam laporan terbaru tentang penyebab utama kematian di seluruh dunia, WHO mengatakan bahwa penyakit jantung adalah pembunuh nomor satu di antara semua penyakit tidak menular.

4 dari 4 halaman

Faktor risikonya

Ada beberapa faktor risiko penyakit jantung. Terlalu sering menggunakan tembakau, konsumsi lebih banyak garam, kurang konsumsi buah dan sayuran, tidak ada aktivitas fisik dan minum alkohol berlebihan merupakan faktor risiko yang terkait dengan penyakit jantung.

“Efek dari faktor risiko perilaku bisa muncul pada individu seperti peningkatan tekanan darah, peningkatan glukosa darah, peningkatan lipid darah, dan kelebihan berat badan dan obesitas,” WHO memperingatkan.

Selain itu, hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi juga mempengaruhi penyakit jantung.

“Selain itu, pengobatan hipertensi, diabetes, dan lipid darah tinggi diperlukan untuk mengurangi risiko kardiovaskular dan mencegah serangan jantung dan stroke di antara orang-orang dengan kondisi ini,” kata badan kesehatan global itu.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS