Sukses

Tetap Berjaya di Tengah Covid-19, Nu Skin Indonesia Rambah Syariah

Liputan6.com, Jakarta - Halal awareness kian tumbuh di berbagai kalangan masyarakat seiring dengan produk makanan halal, farmasi dan kosmetik halal yang kian menjadi tren di Tanah Air. Apalagi dengan mayoritas penduduk muslim, peluang usaha produk halal semakin besar.

Menguatnya kecenderungan masyarakat akan gaya hidup halal dan Syariah menjadi pendorong bagi Nu Skin Indonesia untuk mewujudkan platform bisnis yang Syariah.

“Dengan sertifikasi Syariah yang kini dimiliki Nu Skin, kami bisa menjangkau lebih dalam ke segmen masyarakat yang sangat concern akan isu halal dalam setiap aspek hidup mereka, termasuk dalam hal berbisnis dan konsumsi," kata Kany V. Soemantoro, President Nu Skin Indonesia & Filipina, pada jumpa pers virtual, Jumat (20/11/2020).

Tepatnya, pada September lalu Nu Skin indonesia mendapatkan sertifikasi sebagai perusahaan Penjualan Langsung Berjenjang Syariah (PLBS) dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI). 

2 dari 3 halaman

Ikuti Tata Cara Berjualan Sesuai Aturan Syariah

Produk yang dijual lewat direct selling ini juga harus tunduk pada tata cara berjualan sesuai aturan Syariah Islam. 

“Untuk marketing plan kita tidak ada perubahan karena memang sudah sejalan dengan Syariah,” lanjut Kany.

Tata cara tersebut mengacu pada poin Fatwa no 75 Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) tahun 2009 mengenai MLM Syariah, di antaranya ada produk yang halal dengan harga yang wajar dan tidak ada excessive mark-up, tidak ada unsur riba, ghoror/penipuan dan maysir/ghoror dan kedzaliman dalam bisnisnya (ini berarti tidak dibolehkan ada passive income). 

Sertifikasi Syariah juga menjadi upaya Nu Skin untuk mereduksi stigma atau pandangan negatif terhadap bisnis MLM/direct selling yang antara lain terkait dengan kekeliruan pandangan mengenai skema piramida dan money game, serta mitos tentang passive income.

3 dari 3 halaman

Berjaya di Kala Pandemi

Meski di tengah pandemi Corona Covid-19, Nu Skin Indonesia tahun ini menargetkan angka penjualan Rp 1,5 triliun. Angka tersebut sama seperti yang dicapai tahun lalu, bahkan naik sekitar 5 persen.

"Banyak sekali tantangan tahun ini, apalagi ketika Maret diumumkan PSBB. Banyak linimasi yang kita alami terutama dari sisi logistik pengiriman dan supply produk waktu itu agak terhambat. Meski sudah ada produk lokal, tapi kita butuh support dari luar dan terkendala import," ujar Kany. 

Mengeluarkan produk baru dan menggelar virtual expo menjadi salah satu strategi untuk tetap bertahan di masa pandemi Covid-19 ini.

"Berbicara strategi, kita selalu berprinsip bagaimana caranya membuat para mitra kita selalu sibuk dalam menjalankan bisnis ini bukan malah merenungi nasib pandemi ini," tambahnya.