Sukses

Tren Budaya 'Minimalis' di Jepang Dijamin Kurangi Sifat Konsumtif

Citizen6, Jakarta Apa yang kamu lakukan saat berkunjung ke rumah seseorang yang minim perabotan rumah? Seperti halnya rumah di apartemen yang ada di Jepang, nyaris tidak ada perabotan seperti kursi dan lemari. Bukan tidak mampu membeli atau ruangan terlalu sempit, itu adalah pilihan gaya hidup si empu rumah.

Begitulah rumah Fumio Sasaki. Ruang tamu apartemen satu kamar yang dimilikinya di Tokyo, Jepang, hanya berisi satu meja kecil saja. Tak heran, teman-teman Sasaki yang kerap berkunjung ke apartemen menyebut rumah Sasaki layaknya ruang interogasi.

Budaya "minimalis" ini terpengaruh tradisi Zen-Buddha Jepang. Alasan lainnya, kian hari ia mengaku ada sesuatu yang 'hilang'. Hobinya yang mengoleksi buku, CD, dan DVD dirasakan jenuh dan lelah.

Tempat menyimpan buku dan catatan

Peralatan makan yang sekadarnya saja

Demi memulai budaya hidup minimalis, ia memberikan harta benda pada teman-temannya. Yang tersisa hanya beberapa harta benda untuk kebutuhan primer sehari-hari saja. Berkat budaya minimalis, ia bisa mengurangi waktu membersihkan perabotan dan berbelanja.

Baju yang dipakai, sehari hanya satu baju saja

Gaya meminimalkan harta benda duniawi ini dapat mengurangi sifat konsumtif. Salah satu manfaatnya, waktu yang dimiliki Sasaki lebih banyak dihabiskan dengan aktivitas di luar. Ia menghabiskan waktu bersama teman-temannya dengan travelling.

Penasaran dengan kelanjutan artikelnya? Kamu bisa baca di sini.

Artikel Rekomendasi

Demi Hidup Dengan Boneks Seks, Pria Jepang Ini Tinggalkan Anak dan Istri

Habiskan 1 M untuk Pelat Nomor Cantik, Sopir Ini Ditilang 8 Kali  

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini.

**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum Liputan6.