Sukses

Agar Tak Termakan Hoaks, Literasi Jadi Kunci

Liputan6.com, Jakarta - Adanya revolusi komunikasi lewat media sosial menjadikan cara publik berkomunikasi, berinteraksi, dan berkolaborasi mengalami perubahan. Ini terjadi baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Berita-berita hoaks pun makin merajalela.

Hal tersebut menawarkan cara berkomunikasi dan bertukar informasi secara cepat dan tepat melalui jaringan alias daring. Masalahnya, banyak akun-akun sosial media yang tidak resmi dan sering kali mengatasnamakan instansi pemerintahan bahkan individual.

Kemudian berita saat ini tidak hanya berasal dari media mainstream dan tidak lagi bersifat searah. Untuk itu dibutuhkan strategi komunikasi yang lebih piawai, lebih responsif, dan lebih cepat agar tidak termakan dengan berita miring atau hoaks.

“Saat ini, pemerintah juga sudah berpartisipasi melalui pembuatan undang-undang ITE dan juga menutup website-website yang terindikasi penyebar informasi hoaks,” ucap Anggota Komisi I DPR RI, Muhammad Iqbal, SE., M.Com. di Webinar Merajut Nusantara “Membangun Mindset Anti Hoaks Di Kalangan Milenial” Rabu (01/04/21) lalu.

Iqbal mengatakan, hal yang paling penting ialah dari diri kita sendiri. Jangan sampai kita menjadi pelaku penyebaran berita hoaks yang akan merugikan diri sendiri, teman, bahkan negara kita. Masyarakat dihimbau untuk memberikan informasi sesuai dengan adab dan aturan hukum yang berlaku di Indonesia.

“Untuk membangun mindset anti-hoaks dengan mengarahkan dan diimbangi dengan penerapan hukum ITE untuk melindungi diri dari new crimes, frauds and negative externalities. Harus support adanya UU ITE di Indonesia ini,” ujar KRMT. Roy Suryo Notodiprojo, Pemerhati Media dan Telematika Indonesia.

 

2 dari 4 halaman

Literasi Jadi Kunci

Sementara penulis Edrida Pulungan, M.Hi.,M.Si., menyebut literasi menjadi hal yang sangat penting. “Karena sebagian besar publik tidak bisa membedakan informasi bohong, maka salah satu kuncinya adalah literasi. Meningkatkan literasi informasi media dan media sosial. Hal tersebut bisa membuat kita tahu mana informasi, mana pengetahuan, dan mana propaganda,” ujarnya.

Di samping itu, para milenial juga bisa inisiatif dengan cara membuat kampanye anti-hoaks, mengikuti komunitas anti-hoaks, bahkan juga bisa ikut aktif menjadi fact checker. Nah, kalian bisa juga loh ikut ke dalam Pegiat Cek Fakta milik liputan6.com

(MG/ Retno Dwi Marcelina)

3 dari 4 halaman

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia. 

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu. 

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silakan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Cek Fakta di Bawah Ini