Sukses

Jangan Terkecoh, Kenali Tujuh Hoaks Ini

Liputan6.com, Jakarta - Perkembangan teknologi yang pesat dan canggih membuat manusia zaman sekarang begitu mudah mengakses beragam informasi dari seluruh dunia melalui dunia maya.

Informasi-informasi ini setiap detiknya begitu cepat menyebar ke semua lini. Apalagi di era zaman sekarang, dengan masifnya penggunaan media sosial di semua kalangan.

Namun, tak semua informasi yang didapat itu berdasarkan fakta atau biasa disebut hoaks yang artinya kabar palsu. Tidak semua informasi yang memungkiri fakta cukup disebut hoaks.

Secara spesifik, ada tujuh jenis informasi palsu yang bisa dikenali melalui ragam dan cirinya yang berbeda-beda. Berikut tujuh jenis hoaks (misinformasi dan disinformasi) yang perlu diketahui seperti dikutip dari Mafindo:

1. Satire atau parodi

Satire merupakan konten yang dibuat untuk menyindir pada pihak tertentu. Kemasan konten berunsur parodi, ironi, bahkan sarkasme. Secara keumuman, satire dibuat sebagai bentuk kritik terhadap personal maupun kelompok dalam menanggapi isu yang tengah terjadi. Sebenarnya, satire tidak termasuk konten yang membahayakan. Akan tetapi, sebagian masyarakat masih banyak yang menanggapi informasi dalam konten tersebut sebagai sesuatu yang serius dan menganggapnya sebagai kebenaran.

2. Misleading content (konten menyesatkan)

Misleading terjadi akibat sebuah konten dibentuk dengan nuansa pelintiran untuk menjelekkan seseorang maupun kelompok. Konten jenis ini dibuat secara sengaja dan diharap mampu menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi.

 

2 dari 2 halaman

Selanjutnya

3. Imposter content (konten tiruan)

Imposter content terjadi jika sebuah informasi mencatut pernyataan tokoh terkenal dan berpengaruh. Tidak cuma perorangan, konten palsu ini juga bisa berbentuk konten tiruan dengan cara mendompleng ketenaran suatu pihak atau lembaga.

4. Fabricated Content (konten palsu)

Fabricated content terbilang menjadi jenis konten palsu yang paling berbahaya. Konten ini dibentuk dengan kandungan 100% tidak bisa dipertanggung-jawabkan secara fakta. Biasanya, fabricated content berupa informasi lowongan kerja palsu dan lain-lain. 5. False connection (koneksi yang salah)Ciri paling gamblang dalam mengamati konten jenis ini adalah ditemukannya judul yang berbeda dengan isi berita. Konten jenis ini biasanya diunggah demi memperoleh keuntungan berupa profit atau publikasi berlebih dari konten sensasional.

6. False context (konteks keliru)

False context adalah sebuah konten yang disajikan dengan narasi dan konteks yang salah. Biasanya, false context memuat pernyataan, foto, atau video peristiwa yang pernah terjadi pada suatu tempat, namun secara konteks yang ditulis tidak sesuai dengan fakta yang ada.

7. Manipulated content (konten manipulasi)

Manipulated content atau konten manipulasi biasanya berisi hasil editan dari informasi yang pernah diterbitkan media-media besar dan kredibel. Gampangnya, konten jenis ini dibentuk dengan cara mengedit konten yang sudah ada dengan tujuan untuk mengecoh publik.

(Natasya Naibaho)