Sukses

Dicap Mustahil Juara Grup F, Maroko Wujudkan Mimpi Indah ke 16 Besar Piala Dunia 2022

Liputan6.com, Jakarta - Dibayangi oleh berbagai kritikan terkait hak asasi manusia, termasuk persoalan LGBT, harus diakui Piala Dunia 2022 di Qatar melahirkan banyak kejutan yang mencengangkan. Siapapun tak menduga Arab Saudi mampu mengalahkan Argentina dan Jepang menaklukkan Jerman.

Kini dunia melihat hasil yang tak terduga pada diri Maroko yang bersama Jepang dipandang sebelah mata. Keduanya berhasil menjadi juara grup masing-masing dan lolos ke babak 16 besar. Pencapaian yang luar biasa.

Maroko melaju ke 16 besar Piala Dunia Qatar setelah menundukkan Kanada 2-1 dalam pertandingan terakhir Grup F yang juga dihuni Kroasia dan Belgia, Kamis (1/12/2022), di Stadion Al Thumama.

Kedua gol Maroko dilesakkan Hakim Ziyech pada menit keempat dan Youssef En-Nesyri (23). Kanada membalas berkat gol bunuh diri Nayef Aguerd pada menit ke-40.

Hasil ini membuat Maroko menyelesaikan Grup F dengan nilai tujuh. Sementara Kroasia yang bermain imbang tanpa gol melawan Belgia menjadi runner-up dengan raihan lima poin. Pada dua laga sebelumnya, Maroko bermain imbang 0-0 dengan Kroasia lalu menghajar Belgia 2-0.

Melihat perjalanan Maroko setelah melewati babak kualifikasi, tidak bisa disalahkan adanya pandangan meremehkan itu. Selain adanya pergantian pelatih, mereka juga sudah absen selama 20 tahun di Piala Dunia. Maroko baru tampil lagi di Piala Dunia 2018 meski gagal lolos di fase grup.  

Maroko yang punya julukan the Atlas Lions mempersiapkan diri dengan pergolakan di dalam tim. Tiga bulan menjelang bergulirnya Piala Dunia 2022 Qatar, mereka berganti pelatih. Vahid Halilhodzic yang membantu mereka ke Qatar digantikan oleh Walid Regragui.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 5 halaman

Pergantian Pelatih

Selama putaran kedua kualifikasi, Maroko mencatatkan diri sebagai tim dengan rekor sempurna, yang tak bisa dibandingkan dengan tim Afrika mana pun. Mereka melalui enam pertandingan tanpa pernah kalah melawan Guinea, Guinea-Bissau dan Sudan.

Lalu di putaran ketiga, mereka menghadapi RD Kongo, yang disingkirkan dengan kemenangan nyaman lewat agregat 5-2. Pencapaian itu memberikan kesan bahwa Maroko tim yang solid. 

Tapi kenyataannya tak seindah sampul yang ada. Suasana tegang menyelimuti tim. Lalu pecah hingga ke publik. Ketidakpuasan memuncak ketika Halilhodzic mengasingkan beberapa bintang papan atas seperti Hakim Ziyech dan Noussair Mazraoui.

Ziyech sempat menyatakan pensiun dari tugas negara pada Februari 2022. Alasannya, karena gelandang Chelsea itu disebut kerap berkonflik dengan Halilhodzic.

Penggemar yang tidak puas juga mempermasalahkan gaya bermain keinginan pelatih Bosnia itu, yang oleh sebagian orang dianggap terlalu membosankan dan mudah ditebak.

Tekanan publik, dan pengawasan ketat dari media, menjadi akhir bagi Halilhodzic dalam karier kepelatihannya. Ia lalu berpisah dengan Federasi Sepak Bola Maroko pada Agustus 2022, hanya tiga bulan sebelum dimulainya Piala Dunia.

3 dari 5 halaman

Di Atas Bulan

Pemecatan itu sendiri bukan hal baru bagi Halilhodzic meski sudah mengantar tim ke Piala Dunia. Ia sudah mengalaminya saat menangani Pantai Gading dan Jepang, yang keduanya dibawa ke Piala Dunia.

Meski pergantian pelatih itu terjadi di waktu yang mepet, namun hal positif dari kejadian itu adalah kembalinya optimisme dan suasana positif dalam tim. Fans pun menerima Walid dengan tangan terbuka.

Antusiasme fans begitu luar biasa mendukung Maroko. Hal yang makin menambah kepercayaan diri pemain.

Begitu pertandingan dimulai, setiap gerakan maju Atlas Lions disemangati dengan gemuruh yang menggelegar. Pendukung mereka mencemooh dan mencemooh dengan keras setiap kali tim mereka dilanggar.

Maka, setelah peluit panjang ditiup, hanya ada satu pertunjukan di Stadion Al Thumama. Itu adalah kegembiraan para pendukung Maroko.

Lolos ke 16 besar merupakan pertama kalinya sejak Piala dunia 1986.  “Aku tidak hanya di atas bulan, aku jauh di atasnya. Ini adalah pencapaian luar biasa bagi negara kecil kami,” kata salah satu suporer Maroko, Sulaiman kepada Al Jazeera.

4 dari 5 halaman

Peluang Melaju

“Semua teman saya dari Tunisia atau Lebanon atau Qatar ada di belakang kami,” tambah pria berusia 36 tahun yang tinggal di Doha itu. “Piala Dunia di Timur Tengah sudah menjadi pencapaian besar. Sekarang kualifikasi ini, luar biasa.”

“Ini adalah kemenangan besar, bukan hanya untuk Maroko tapi semua orang Arab,” kata Mohammed Hisham, dari Marrakesh, kepada Al Jazeera.

Suporter lainnya dari Fez yakin Atlas Lions “pasti” memiliki peluang untuk melaju lebih jauh di turnamen. Mereka selanjutnya akan menghadapi Spanyol dalam pertandingan 16 besar.

“Saya pikir kami bisa memenangkan lebih banyak, bahkan mungkin turnamen,” kata Sulaiman sambil tertawa terbahak-bahak. Namun, apa pun yang terjadi selanjutnya, dia “sangat bangga” dengan tim kesayangannya.

“Mereka sudah membuat kami sangat bahagia. Saya tidak ingin memberi lebih banyak tekanan,”tambahnya.

5 dari 5 halaman

Selebrasi Tanpa Henti

Malek Alami dari Marrakesh mengatakan kemenangan hari Kamis adalah “momen paling membahagiakan dalam hidupnya”.

“Saya tidak punya kata-kata, hanya banyak perasaan – semuanya bahagia. Ini adalah pencapaian yang luar biasa bagi kami, ”kata Alami, sambal menambahkan bahwa kualifikasi akan “mempersatukan negara kita”.

Koordinator pariwisata berusia 37 tahun itu mengatakan akan ada perayaan tanpa henti di tanah air. “Pesta akan berlanjut hingga Subuh [sholat subuh untuk umat Islam], hari ini,” kata Alami.

Banyak suporter yang tetap bertahan setelah pertandingan usai dan melanjutkan selebrasi mereka di luar gerbang stadion. “Selalu Maroko,” mereka bersorak saat tertawa bersama teman dan keluarga, dan tentu saja, berswafoto untuk menandai peristiwa bersejarah itu.

Ratusan orang yang bersuka ria berkumpul di dekat panggung musik FIFA, banyak yang menggendong anak-anak mereka, meneriakkan "Viva la Maghreb", atau "Hidup Maroko".

Di lapangan, para pemain Maroko mengibarkan bendera Palestina, sesuatu yang juga dilakukan para penggemar sepanjang turnamen sebagai bentuk solidaritas dengan warga Palestina yang hidup di bawah pendudukan.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS