Sukses

Bola Ganjil: 2 Wajah Mutiara Brasil, Heleno de Freitas

Liputan6.com, Jakarta - Sudah banyak kasus pesepak bola Brasil yang kariernya berantakan karena hal-hal duniawi. Contoh yang tidak asing di telinga termasuk Ronaldinho dan Adriano Leite.

Namun, ada satu nama yang tidak banyak diketahui dan patut disesalkan. Sebab, jika Heleno de Freitas serius di sepak bola, Brasil bakal lebih cepat mendominasi dunia.

Menurut cerita, Heleno menangkap mata pemandu bakat ketika juggling jeruk di pantai. Salah satu klub lokal yakni Botafogo pun merekrutnya pada usia 17 tahun dan memberi Heleno debut di tim utama pada 1939.

Pada awal 1940-an, reputasi Heleno semakin besar berkat gol-gol yang dicetaknya. Namun, kebiasaan buruk membuat kariernya berantakan.

Heleno dikenal sebagai peminum berat, tukang judi, dan suka main perempuan. Memiliki karisma serta bertindak tanpa pikir panjang, dia juga diketahui kecanduan eter. Heleno kerap membasahi sapu tangan dengan senyawa itu dan mengendusnya untuk mabuk.

Gaya hidup demikian membuatnya terjangkit sifilis. Namun Heleno menolak perawatan karena mengkhawatirkan dampak negatif terhadap kariernya di lapangan hijau.

Padaha ambisi Heleno sebagai pesepak bola sangat tinggi. Dia bermimpi bisa membawa Botafogo menjadi juara regional. Sayang, walau mencetak 209 gol dari 235 penampilan bagi klub, capaian terbaiknya adalah jadi runner-up pada empat kesempatan.

Heleno juga ingin memimpin Brasil di Piala Dunia. Namun, dua edisi batal digelar akibat Perang Dunia. Heleno 'hanya' beraksi di Copa America 1945 dan 1946. Kembali dia gagal mengangkat trofi dan harus puas menduduki posisi dua.

Di luar lapangan, Heleno juga dikenal brilian. Dia memiliki gelar di bidang hukum. Sayang talentanya kembali disia-siakan. 

2 dari 5 halaman

Andai Ada Heleno, Maracanazo Terhindari?

Perilaku Heleno tidak kunjung membaik seiring berjalannya waktu. Botafogo akhirnya menjualnya ke klub Argentina, Boca Juniors, pada 1948. Carlito Rocha, presiden Botafogo saat itu, sadar masalah Heleno merupakan sumber masalah. Keputusan tepat karena mereka langsung jadi juara regional begitu sang bintang hengkang.

Sementara karier Heleno makin tidak terarah. Dia pulang kampung dan membela Vasco da Gama sebelum pergi ke Kolombia demi memperkuat Atletico Junior. Penampilan sporadis membuatnya gagal timnas untuk Piala Dunia 1950 yang digelar di Brasil.

Tanpanya, Brasil harus mengakui keunggulan Uruguay 1-2 di partai pamungkas. Tragedi Maracanazo tercipta. Apakah Selecao merasakan nasib berbeda jika Heleno dalam performa terbaik? Tidak ada yang tahu jawaban pasti.

3 dari 5 halaman

Merumput di Maracana

Merasa terasing, Heleno masih memiliki mimpi tersisa yakni tampil di Maracana, ketika itu baru dibangun untuk Piala Dunia 1950. Dia pun kembali ke Brasil dan memperkuat America.

Setidaknya harapannya kali ini terwujud meski tercoreng noda. Heleno diusir wasit meski baru bermain 25 menit karena menghina rekan setim. Itu adalah penampilan satu-satunya Heleno di stadion kebanggaan Negeri Samba tersebut.

4 dari 5 halaman

Depresi saat Brasil Juara Piala Dunia

Heleno akhirnya pensiun. Dia menjalani sisa hidup dalam depresi dan beberapa kali mencoba bunuh diri.

Kesuksesan Brasil merebut gelar pertama Piala Dunia pada 1958, mengandalkan pemuda berusia 17 tahun bernama Pele, juga tidak membuatnya bahagia. Melihat prestasi itu di sebuah fasilitas kesehatan, Heleno justru memakan potongan koran yang menceritakan kesuksesannya di lapangan.

Para suster memajang berita tersebut untuk mengembalikan semangatnya. Nyatanya capaian Pele menambah kesedihan karena Heleno bermimpi dirinyalah yang berada di posisi tersebut.

Kesehatan Heleno terus memburuk akibat demensia. Dia meninggal dunia setahun kemudian.

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Brasil Berikut Ini