Sukses

Virus Corona Covid-19 Tak Pilih-pilih, Banyak Negara Kaya Jadi Korban

Liputan6.com, Milan- Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno L.P Marsudi menyampaikan lebih dari 7,5 juta orang dari 215 negara dan teritori telah terinfeksi Covid-19. Lalu lebih dari 3,8 juta orang di antaranya dinyatakan sembuh. Selain itu sebanyak 423 ribu atau sudah mendekati setengah juta orang meninggal dunia. 

Berdasar data terbaru WHO per hari Sabtu (13/6/2020), dalam satu hari itu saja penambahan kasus terinfeksi Covid-19 sekitar 142 ribu orang dan lebih dari lima ribu orang meninggal dunia.

Hal tersebut disampaikan Retno dalam diskusi Sinergi KAGAMA dan UGM, Mempersiapkan Normal Baru: Pengalaman Negara Lain, secara daring.

Lebih lanjut Retno mengatakan Amerika Serikat, negara super power, memiliki kasus positif Covid-19 lebih dari dua juta orang atau sekitar 27 persen dari seluruh kasus positif Covid-19 di dunia.

Demikian juga dengan negara Brasil yang kasusnya bertambah pesat. Brasil mencatat kasus terinfeksi lebih dari 802 ribu kasus, disusul Rusia dengan jumkah kasus lebih dari 520 ribu.

“Brasil mencetak rekor negara dengan penambahan kasus baru terbesar pada satu hari saja (13/6/2020) yaitu sebanyak 30.412. Disusul Amerika Serikat dengan penambahan kasus 21 ribuan orang, lalu India 11 ribuan.” 

“Kalau dilihat dari angka 10 besar kasus Covid-19, tujuh di antaranya adalah negara-negara G-20 yaitu Amerika Serikat, Brasil, Rusia, Inggris, Italia, India, dan Jerman,” ungkap alumnus Ilmu Hubungan Internasional UGM angkatan 1981 ini.

 

2 dari 3 halaman

Magnitude

Menurut Retno, angka itu menunjukkan kekayaan negara dan sistem kesehatan yang sudah lebih mapan tidak menjamin dapat menekan penyebaran Covid-19. 

Retno menegaskan data statistik tersebut sengaja disampaikan untuk menunjukkan magnitude (kedalaman) dari pandemi Covid-19 dan dampaknya dari aspek kesehatan.

Sementara dari aspek ekonomi, pandemi Covid-19 juga memberikan dampak yang luar biasa. Hampir semua negara di dunia saat ini, kata Retno, mengalami kontraksi, termasuk Amerika Serikat dan RRT. 

Pada kuarter IV tahun 2019 ke kuarter I tahun 2020, kata Retno, persentasi pertumbuhan ekonomi RRT turun dari 6 persen menjadi minus 6,8 persen, berarti turun 12,8 persen. Jerman dari 0,4 persen menjadi minus 2,3 persen. Perancis dari 0,9 persen menjadi minus 5 persen. Inggris dari 1 persen menjadi minus 1,6 persen. Amerika Serikat dari 2,3 persen menjadi 0,23 persen. Australia dari 2,2 persen menjadi 1,4 persen.

3 dari 3 halaman

India

Sedangkan India, masih mencatatkan pertumbuhan positif dari 4,1 persen menjadi 3,1 persen. Arab Saudi tetap di angka 0,3 persen, Indonesia 4,9 persen menjadi 2,97 persen, serta Afrika Selatan tetap di angka minus 0,5 persen.

“Dari 10 contoh negara G20, dari sisi ekonomi, hanya tiga negara yang masih mencatatkan pertumbuhan yang positif, termasuk Indonesia. Saya perkirakan tantangan di kuarter II tahun 2020 dan berikutnya, masih akan lebih dahsyat lagi,” jelas perempuan kelahiran Semarang, Jawa Tengah ini.

Mengutip data dari Bank Dunia, kata Retno, Covid-19 telah mendorong 71 juta orang dalam kemiskinan yang ekstrim. Jika penyebarannya tidak bisa dihentikan, maka angka ini bisa mencapai 100 juta orang. Angka yang hampir sama juga dikeluarkan oleh IMF.

Sementara data yang disampaikan UN University World Institute for Development Economics Research memperkirakan dampak ekonomi yang lebih buruk lagi. Jika penyebaran Covid-19 tidak bisa diatasi, maka akan mendorong 395 juta orang dalam kemiskinan ekstrim. Selain itu akan ada 1,2 miliar orang yang hidup dengan penghasilan kurang dari 1,9 USD per hari. 

“Belum lagi dari dampak sosial yg susah dihitung dengan angka seperti depresi, putus asa, kekawatiran, dan lain-lain,” kata Retno 

“Itu gambaran dunia yg kita hadapi saat ini. Apakah kita akan menyerah dengan kondisi yang memang berat ini? Jawabnya, pasti tidak. Kita tidak boleh menyerah. Walaupun kita harus bekerja lebih keras lagi agar kita tidak terlalu terpuruk dibanding negara lain”, ujar Retno memberi semangat. 

Retno yakin bangsa Indonesia mampu menghadapi dan melewati situasi sulit ini. Karena sebagai bangsa nilai resiliensi (kemampuan beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit -Red) masih cukup kuat, apalagi kalau ditopang dengan kuatnya nilai gotong royong yang Indonesia miliki.