Sukses

Update Corona 22 Mei 2020: 634 Positif Covid-19, Total 20.796

Liputan6.com, Jakarta - Kasus positif virus Corona penyebab Covid-19 di Tanah Air mengalami penurunan ketimbang sehari sebelumnya, Jumat (22/5/2020). Total pasien mencapai 20.796 orang.

Berdasar covid19.go.id, terdapat penambahan kasus sebanyak 634 orang positif Corona dalam 24 jam terakhir. Angka tersebut menurun dari sehari sebelumnya yang mencatat rekor yakni 973.

Pasien sembuh bertambah 219 menjadi 5.057 orang. Sementara pasien meninggal dunia bertambah 48 menjadi 1.326 jiwa.

Data terkumpul dari akumulasi hingga pukul 12.00 WIB hari ini. Sebelumnya jumlah kasus positif Corona Indonesia berada di angka 20.162, dengan 4.838 di antaranya sembuh dan 1.278 meninggal pada Kamis (21/5/2020).

2 dari 2 halaman

Indonesia di Puncak Wabah?

Penambahan kasus virus Corona Covid-19 di Indonesia mencetak rekor tertinggi pada Kamis 21 Mei 2020. Tercatat sebanyak 973 orang diumumkan positif di hari itu.

Peningkatan ini menimbulkan tanda tanya apakah wabah tersebut tengah mencapai puncaknya di Indonesia. Jika demikian, apakah prediksi yang dulu ditargetkan Tim Gugus Tugas bahwa pandemi Covid-19 pada Juni-Juli mendatang akan berakhir harus direvisi.

Menanggapi hal itu, Pakar Epidemiolog dari Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad), Bony Wiem Lestari menyatakan, sulit memperkirakan masa wabah di Indonesia. Pasalnya, menurut dia, kurva epidemi saja Indonesia tak pernah mengumumkan.

"Kan enggak ada model yang sempurna, tapi paling tidak kalau berdasarkan ini kira-kira seperti apa. Contoh seperti Selandia Baru, Australia mereka punya kurva epidemi sehingga mereka yakin, sekarang tuh mereka sedang ada di ekor terbawah. Artinya sudah turun dan ada di bawah, artinya mereka sudah bilang bahwa epidemi itu sudah teratasi," ucap Bony kepada Liputan6.com.

Sementara Indonesia, menurut dia, karena tak memiliki kurva epidemi maka akan sangat sulit menentukan apakah saat ini tengah berada di puncak wabah atau baru mendekati puncaknya. Dia menjelaskan, kurva epidemi Bony merupakan kurva yang menunjukan berapa jumlah kasus yang terinfeksi saat ini berikut prediksinya dalam jangka waktu ke depan.

"Sebetulnya kalau dari estimasi sih banyak, masalahnya gini, setiap estimasi itu mempunyai asumsi yang berbeda. Nah pemerintah itu mau ambil yang mana, apa katakanlah sekarang kita sudah melewati puncak, apa periode puncak, apa belum puncak kan gitu," katanya.