Sukses

Start Lambat Mourinho di MU

Liputan6.com, Jakarta - Jose Mourinho merupakan pelatih yang kenyang dengan prestasi. Namanya selalu dijadikan jaminan untuk memboyong trofi juara di klub mana pun dia melatih. Manchester United (MU) pun paham dengan reputasi Mourinho ini.

Maka itu, Setan Merah langsung menjadikannya pelatih pada musim lalu. Mourinho terkesan seperti merebut tampuk kepelatihan di MU dari Louis van Gaal yang pada musim 2015/16 sukses memboyong trofi Piala FA. Namun, trofi itu tak punya banyak arti karena MU sudah menyiapkan Mourinho sebagai pelatih.

Musim pertama dilalui Mourinho dengan cukup meyakinkan. Meski finis di peringkat enam klasemen Liga Inggris, Mourinho membawa MU ke Liga Champions karena memenangkan Liga Europa. Mourinho juga membawa MU memenangkan Piala Liga Inggris.

Mourinho gagal membawa MU juara Liga Inggris dan Piala FA di musim pertamanya. Ini masih bisa dimaklumi. Mourinho biasanya baru bisa membawa tim asuhannya juara di musim kedua.

Namun hingga pekan ke-31 Liga Inggris, tanda-tanda MU menjadi juara sepertinya sudah berakhir. Rival MU, Manchester City tinggal menunggu waktu. Sedangkan MU akan berusaha keras menjaga posisi kedua Liga Inggris hingga musim berakhir.

Untuk pertama kali sejak melatih FC Porto, Jose Mourinho gagal membawa klub yang dilatihnya menjadi juara liga di musim kedua. Tidak saat melatih Inter Milan dan juga Real Madrid. Apalagi saat dua kali bolak-balik menukangi Chelsea. Mourinho selalu mengulang prestasi juara di musim kedua.

Pelatih Manchester United, Jose Mourinho berjalan sambil tertunduk usai pertandingan melawan Sevilla pada leg kedua babak 16 Liga Champions di Old Trafford, Inggris (13/3). MU kalah atas Sevilla 2-1. (AFP Photo/Oli Scarff)Namun di MU, cerita Mourinho mulai berubah. Manajer asal Portugal ini sepertinya masih butuh waktu panjang untuk kembali membawa Setan Merah kembali berjaya. Faktanya, tak hanya juara Liga di mana Mourinho kesulitan. Dia juga gagal membawa MU berbicara banyak di Liga Champions.

Padahal, Mourinho minimal selalu sukses membawa tim asuhannya ke semifinal Liga Champions. Hasil MU di musim ini seakan mengulangi torehan Chelsea di 2014/15 saat masih ditangani Mourinho. Kala itu, Chelsea juga gagal melaju dari babak 16 besar Liga Champions karena kalah agregat dari Paris Saint-Germain (PSG).

Yang jadi pertanyaan, apakah sihir Mourinho sudah habis? Atau dia memang sedang menjalani start lambat di MU?

 

 

1 dari 3 halaman

Komentar Mourinho

Usai pertandingan, Mourinho tidak bereaksi berlebihan dengan kekalahan ini. Baginya, kegagalan MU di Liga Champions bukan sesuatu yang baru.

Ada kesan Mourinho pasrah dengan kekalahan MU. Dia mengaku tak bisa salahkan pemain karena sudah tampil bagus.

"Saya pikir penampilan kami tidak buruk. Saya tak menyesal. Saya sudah melakukan yang terbaik, begitu juga pemain. Kami mencoba, kami kalah dan itulah sepak bola," katanya seperti dikutip BBC.

Kekalahan ini membuat MU gagal mengikuti jejak Manchester City dan Liverpool yang sebelumnya sudah lolos ke perempat final Liga Champions. MU kini hanya bisa berharap rebut trofi Piala FA musim ini.

Torehan MU di Liga Champions dalam beberapa tahun terakhir juga buruk. Dari 9 laga fase knock out terakhir, MU hanya bisa memenangkan satu laga.

Striker Manchester United, Alexis Sanchez tertunduk sambil berjalan usai kalah dari Sevilla pada leg kedua 16 besar Liga Champions di Old Trafford, Selasa (13/3). Hasil ini membuat langkah Manchester United di Liga Champions terhenti. (Oli SCARFF/AFP)

Dalam tiga musim terakhir di Liga Champions, MU sudah tersingkir di babak 16 besar Liga Champions sebanyak dua kali. Secara berkelakar, Mourinho sebut MU sudah terbiasa gagal di Old Trafford.

Dia dengan usil mengungkit torehannya di masa lampau saat belum melatih MU. Dia pernah membawa Porto (2004) dan Real Madrid (2013) menang lawan MU di Old Trafford.

"Saya pernah dua kali duduk di kursi ini sambil melihat MU tersingkir dua kali. Ini bukan sesuatu yang baru untuk klub ini," ujar Mourinho dengan entengnya.

2 dari 3 halaman

Kehilangan Sentuhan Magis?

Pengamat sepak bola dari ESPN, Mark Ogden punya analisis terkait kegagalan MU di Liga Champions. Dia menilai kegagalan MU menyingkirkan Sevilla sebagai tanda Mourinho sudah kehilangan sentuhan magis di Liga Champions.

"Kerlingan di matanya sudah hilang. Yang ada sekarang hanya sepak bola negatif dan komentar-komentar salah tempat soal tak masalah gagal di 16 besar Liga Champions," tulis Ogden.

Dia menulis, kegamangan Mourinho terlihat saat memilih Marouane Fellaini sebagai starter ketimbang Paul Pogba atau Juan Mata. Jika strategi ini berhasil, fans MU tentu senang, seperti saat MU kalahkan Liverpool 2-1 di Liga Inggris.

Namun, strategi bertahan dan menanti gol lewat serangan balik ternyata tidak berjalan baik saat melawan Sevilla. Ini membuat kredibilitas Mourinho dipertanyakan. Apakah dia sudah kehilangan daya magisnya?

Bek Sevilla, Simon Kjaer berebut bola dengan striker Manchester United, Romelu Lukaku pada laga leg kedua 16 besar Liga Champions di Old Trafford, Selasa (13/3). Manchester United terhempas dari Liga Champions setelah kalah 1-2. (Oli SCARFF/AFP)

Beruntung, Mourinho masih sosok yang disegani. Bahkan, jajaran petinggi di MU tetap memberi kepercayaan penuh kepada Mourinho yang dinilai masih butuh waktu untuk membawa Setan Merah berjaya.

Komentar seenaknya Mourinho yang mengatakan kekalahan bukan akhir dunia masih bisa dimaklumi bos-bos MU. Ini tentu tidak berlaku jika seorang David Moyes yang mengatakan hal tersebut.

"Kami masih punya Piala FA untuk dikejar dan dimenangkan. Tim sangat bagus seperti Tottenham Hotspur juga hanya punya Piala FA dan Liverpool tak lagi di Piala FA, mereka hanya punya Liga Champions. Kami harus bangkit lagi," kata Mourinho.

Artikel Selanjutnya
Ini Resep Jitu Sevilla Bekuk Manchester United
Artikel Selanjutnya
MU Tersingkir, Scholes Kehabisan Kata-Kata