Sukses

5 Pemain Hebat yang Disia-siakan Real Madrid

Liputan6.com, Jakarta - Real Madrid termasuk salah satu klub besar yang sukses rebut banyak prestasi di empat tahun terakhir. Mereka jadi tim pertama yang sukses mempertahankan gelar Liga Champions dengan para pemain hebatnya.

Klub berjuluk Los Merengues itu merupakan impian bagi kebanyakan pemain. Sebab, mereka punya finansial yang bagus serta popularitas yang tak terbantahkan di dunia.

Real Madrid juga sering melahirkan legenda dunia, semisal Zinedine Zidane, Raul Gonzales, hingga Cristiano Ronaldo. Namun nyatanya beberapa kali mereka acap keliru dalam melihat talenta dalam skuatnya.

Samuel Eto'o contohnya. Didatangkan hanya dengan harga 4,4 juta pounds dari Mallorca, Madrid gagal memaksimalkan potensinya. Dia kemuidian dijual dan gabung tim seteru, Barcelona.

Bersama Barcelona, dia sangat sukses dengan mengantarkan beberapa gelar. Dia lantas hijrah ke Inter Milan dan meraih titel Liga Champions. Florentino Perez jelas menyesal pernah menjualnya.

Nah, ada lima pemain hebat lainnya yang disia-siakan Real Madrid. Siapa saja? Berikut daftarnya dikutip Sportskeeda:

 

 

 

 

 

1 dari 6 halaman

5. Mesut Ozil

Mesut Ozil pernah sukses bersama Real Madrid (AFP/Javier Soriano)

Sejak bergabung dengan Real Madrid dan kemudian cabut, Mesut Ozil telah membuktikan dirinya sebagai salah satu playmaker paling mematikan dari generasi sekarang. Gelandang Jerman itu mendapat apresiasi karena sukses menyingkirkan seorang Ricardo Kaka.

Dia mungkin tidak memenangkan banyak gelar sejak cabut dari Madrid. Akan tetapi, Mesut Ozil hampir tidak pernah mengecewakan soal penampilan individu. Dia menyamai rekor Thierry Henry dengan mengemas 19 assist dalam satu musim pada 2015-16.

Saat ini, Real Madrid memiliki pemain seperti Isco dan Marco Asensio yang cukup bagus. Namun, Mesut Ozil akan menjadi playmaker pilihan pertama yang jelas lebih baik andai Real Madrid memutuskan untuk tidak menjualnya.

2 dari 6 halaman

4. Angel Di Maria

Angel Di Maria sempat menjadi winger yang mematikan di Real Madrid (AFP Photo/Pierre-Philippe Marcou)

Angel Di Maria bergabung dengan Real Madrid pada musim panas 2010 dari Benfica. Lima musim kemudian, secara mengejutkan Los Blancos menjual pemain Argentina itu ke Manchester United, meski dengan label harga yang lumayan.

Dia gagal dalam satu-satunya musim di Old Trafford, tapi kembali ke performa terbaiknya bersama Paris Saint-Germain. Kedatangan Gareth Bale adalah salah satu alasan mengapa Di Maria beralih ke peran sentral di musim terakhirnya di Madrid.

Meskipun demikian, pemain asal Argentina itu efektif seperti biasa. Namun Madrid benar-benar buta terhadap kontribusinya dalam meraih gelar La Decima. Gareth Bale sendiri performanya naik-turun karena serangkaian cedera sedangkan Di Mariacukup sukses di Paris Saint-Germain.

Mengingat kejatuhan tak terduga dari Real Madrid dan kontribusi Bale secara bertahap menurun karena cedera, tidak diragukan lagi kehadiran Di Maria akan membuat perbedaan. Sayangnya, dia sudah tak di sana.

3 dari 6 halaman

3. Arjen Robben

Arjen Robben  (AFP PHOTO/PIERRE-PHILIPPE MARCOU )

Selain menjadi salah satu pemain terbaik dari generasinya, Arjen Robben juga merupakan salah satu dari tiga pemain tercepat di era sekarang. Pemain sayap Belanda itu hampir selalu jadi yang utama berkat kemampuannya untuk mengobrak-abrik bek lawan dengan kecepatannya itu.

Real Madrid sepertinya telah menutup mata terhadap bakatnya saat menjualnya ke Bayern Muenchen pada 2009. Itu, tentu saja, merupakan akibat dari era Galactico kedua di bawah Florentino Perez.

Pemain Belanda itu telah menjalani karier yang luar biasa sejak bergabung dengan The Bavarians. Dia memiliki sejumlah gelar liga untuk dibanggakan, bersama dengan medali Liga Champion dan sejumlah penghargaan individual.

Tentu saja, Real Madrid memiliki kecepatan pada diri Gareth Bale, tapi Robben pasti akan menjadi pilihan yang lebih baik. Terlebih dia lebih fit, itu yang wajib digarisbawahi.

4 dari 6 halaman

2. Clarence Seedorf

Clarence Seedorf, gelandang asal Belanda selama tiga musim dari 1996-1997 hingga 1998-1999 menjadi nomor 10 di Real Madrid. (Istimewa)

Seedorf mungkin pemain terbaik dari generasinya. Namun, pemikiran Real Madrid tampak justru sebaliknya saat membuang maestro Belanda itu pada awal masa jayanya, 1999.

Gelandang box-to-box itu sangat sukses di Inter Milan dan AC Milan. Lemari gelarnya dihiasi dengan empat medali Liga Champions selain dari sejumlah penghargaan lainnya di klub dan juga tingkat individu.

Membiarkannya pergi adalah pengulangan kesalahan yang mereka lakukan dengan Claude Makelele. Bayangkan keduanya bermain di sisi yang sama. Hampir tidak mungkin tim lawan bisa mencapai pertahanan Madrid, apalagi memecahkannya.

5 dari 6 halaman

1. Claude Makelele

Claude Makalele (kiri) dilepas Real Madrid ke Chelsea  (JIM WATSON / AFP)

Penjualan Claude Makelele untuk mengakomodasi David Beckham adalah kebodohan Real Madrid. Bahkan Zinedine Zidane menyalahkan klub karena membiarkan rekan setimnya bergabung dengan Chelsea.

Setelah cabut ke Chelsea, dia sangat memesona di bawah Jose Mourinho. Dia dikaitkan dengan definisi ulang peran gelandang bertahan modern, yang diberi nama 'The Makelele Role'.

Kepergian Makelele membuat Real Madird runtuh. Kebijakan Los Blancos untuk mengorbankan pemain defensif dan menggantinya dengan penyerang kemudian membayar harganya sangat mahal.

Penjualan Makelele telah disebut-sebut sebagai kesalahan transfer terbesar Real Madrid oleh banyak orang di dunia sepak bola. Klub ini telah membaik sejak saat itu, setelah mendatangkan pemain seperti Xabi Alonso dan Sami Khedira.

Eka Setiawan

Artikel Selanjutnya
Emery Tak Takut Dipecat Jika Kalah Lawan Real Madrid
Artikel Selanjutnya
Real Madrid Pertimbangkan Rekrut Cavani