Sukses

Harga Rumah Kian `Liar`, BI Siap Revisi Aturan KPR

Bank Indonesia (BI) cemas dengan kondisi peningkatan kredit di sektor properti seperti Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kepemilikan Apartemen (KPA). Bank Sentral ini pun berencana merivisi aturan terkait kredit di sektor properti.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Halim Alamsyah mengungkapkan jika hal ini terus berlangsung bisa membuat harga properti terus melambung dan kian tak terjangkau masyarakat.

"Melihat pertumbuhan ini, kita melihat adanya fenomena KPR tumbuh tinggi dan ini tentu saja dapat menimbulkan akses, termasuk kenaikan harga melampaui faktor fundamental. Terlihat juga kenaikan ini memicu kenaikan tipe-tipe kecil sehingga terjadi suatu fenomena masyarakat tidak mampu lagi mengambil KPR ataupun KPA," ujar dia di Gedung BI, Kamis (11/7/2013).

Data BI tentang jumlah debitor dari hasil sistem informasi debitur, total perseorangan yang memiliki KPR atau KPA lebih dari 2 mencapai 35,2 ribu orang senilai Rp 31,8 triliun.

Sedangkan jumlah debitor yang memiliki 2 KPR atau KPA yaitu sebanyak 31,3 ribu orang dengan total nilai mencapai Rp 22,9 triliun.

"Sementara yang memiliki debitor KPR lebih dari 2 sampai total 3 hingga 9 KPR ada 3884 orang dengan total Rp 8,2 triliun. Jadi ini memang cukup banyak ternyata. Belum lagi yang memiliki KPR 9 hingga 12 tapi jumlah tidak banyak ada juga 12 hingga 15 tapi sama jumlah hanya hitungan jari," tutur Halim.

Dengan adanya hal itu, Halim khawatir akan memunculkan banyak spekulan sebab fungsi rumah dan apartemen bukan lagi sebagai tempat singgah namun berubah menjadi sarana jual beli.

Sementara itu, berdasarkan data akhir Mei, total KPR dan KPA mencapai Rp 263 triliun. Penyerapan terbesar adalah KPR tipe 22-70 dengan jumlah mencapai Rp 109,6 triliun. Penyerap terbesar kedua tipe mulai dari 70 ke atas mencapai Rp 98,3 triliun, sementara untuk tipe lain seperti tipe 21 mencapai Rp 21,3 triliun.

"Sementara untuk apartmen pertumbuhan tinggi terjadi hampir di semua tipe. Pertumbuhan tertinggi adalah tipe 22-70 di mana pada bulan April ke Mei melompat dari 83,8% menjadi 111,1%, untuk tipe flat-21 dari 118,6% di bulan April menjadi 100,3% di bulan Mei. Lalu untuk tipe diatas 7 dari bulan April 71,4% pada bulan Mei menjadi 60,3%,"pungkas Halim. (Yas/Nur)