Sukses

Kelas Menengah Tumbuh Bikin Permintaan-Persediaan Barang Timpang

Dewan Tani Indonesia menyatakan pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir, menyebabkan jumlah masyarakat kelas menengah Indonesia meningkat. Hal itu berdampak terhadap permasalahan pasokan dan permintaan barang nasional.

Sekretaris Jenderal Dewan Tani Indonesia Anggawira mengatakan, telah terjadi ketimpangan antara permintaan dengan ketersediaan barang bagi konsumen.

"Karena tidak ada supply dan demand yang tinggi sehingga terjadi krisis barang yang akan dijual," ujar Anggawira saat menghadiri diskusi Kemandirian atau kelangkaan mencari solusi tataniaga buah dan holtikultura, di HIMPI Center, Selasa (23/4/2013).

Dia mencontohkan, kelangkaan komoditi buah dan sayuran di pasaran, mengakibatkan rantai ekonomi menjadi macet. Akibatnya, terjadi rush ekonomi di tingkat pedagang.

Anggawira menambahkan kalaupun ada pasokan, maka harganya selangit. Kondisi yang terjadi saat ini dinilai dampak dari aturan main (tata niaga) yang tidak sesuai dengan kondisi dan implementasi di lapangan dalam konteks impor.

Selain itu, penerbitan izin impor yang berlarut-larut menambah ketidakpastian yang menyebabkan realisasi rekomendasi produk impor hortikultura (RPIH) rendah, yang berimbas bukan hanya pada importir tentunya juga pada konsumen yang terkait dalam supply chain baik produksi dan distribusi.

"Perumusan kebutuhan yang tepat tentunya akan berdampak positif dalam pengambilan kebijakan dengan memperhatikan supply chain dan penjadwalan," ungkap dia.

Untuk itu, pemerintah harus serius memperhatikan stakeholder yang terkait mulai dari sisi produksi, distribusi dan komsumsi yang adil pada setiap komoditi. (Pew/Nur)