Sukses

AKHLAK PNS Dapat Rapor Merah, Menpan RB Kaget

Liputan6.com, Jakarta Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB), Abdullah Azwar Anas, mengaku tidak terkejut ketika aparatur sipil negara (ASN) atau PNS dapat rapor merah pada indikator Adaptif dalam core values AKHLAK (Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, Kolaboratif).

Alasannya, kebanyakan ASN saat ini masih bermain di zona nyaman dan belum mau merubah.

Hasil itu didapat setelah Kementerian PANRB dan tim melakukan survei indeks BerAKHLAK di kalangan ASN dan PNS dalam jumlah sangat besar, untuk memotret kinerja pemerintah.

"Tentu soal adaptasi di ASN ini sudah kita duga, karena sebagian kita ada di zona nyaman. ASN sebagian kan enggak mau berubah," kata Menpan RB Anas di The Westin Jakarta, Rabu (25/1/2023).

Namun, ia berkomitmen untuk mengubah itu dengan cara memaksa para ASN untuk mengikuti bentuk budaya kerja baru, yakni slogan BerAKHLAK yang diusung Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Ini harus berdampak. Jangan cuman melayani tapi berdampak. Jadi budaya kerjanya kita dorong dengan core value baru, kemudian target kinerjanya kita dorong yang berdampak," tegasnya.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Hasil Survei

Pada saat yang sama, Deputi Bidang SDM Aparatur Kementerian PANRB Alex Denni memaparkan hasil survei indeks BerAKHLAK yang dilakukan pada PNS, dimana indikator Adaptif mencatat rapor merah pada seluruh instansi pemerintah.

"Rapor kita yang merata merahnya adalah bicara tentang adaptif. ASN dituntut untuk fleksibel, agile oleh bapak Presiden. Tapi sayangnya core value adaptif kita raportnya merah berjamaah, hampir di semua pemerintah instansi pusat maupun daerah," ujarnya dalam Closing Ceremony ASN Culture Fest 2022 di The Westin Jakarta, Rabu (25/1/2023).

Menurut catatannya, nilai rata-rata indikator Adaptif pada PNS di seluruh instansi sebesar 38,9 persen. Untuk Kementerian nilainya 44,6 persen, sedangkan Lembaga 41,9 persen.

Sementara Pemerintah Provinsi (Pemprov) 40,0 persen, Pemerintah Kota (Pemkot) 39,2 persen, dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) 38,0 persen.

3 dari 4 halaman

Menteri Bahlil Minta Mahasiswa Tak Bercita-cita Jadi PNS

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia meminta para mahasiswa untuk tak bercita-cita menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau pegawai swasta. Ia justru berharap para mahasiswa menjadi pengusaha.

"Saya minta adik-adik untuk memiliki pandangan yang lebih luas. Jangan hanya bercita-cita menjadi PNS, karyawan, atau TNI Polri," kata Bahlil Lahadalia di hadapan 1.700 mahasiswa Universitas Kristen Maranatha Bandung, Jawa Barat, seperti dikutip dari Antara, Jumat (13/1/2023).

"Jadilah pengusaha yang mampu memberikan kontribusi nyata membuka lapangan pekerjaan dan memangkas angka pengangguran di Indonesia. Perguruan tinggi Indonesia tidak boleh jadi pabrik pengangguran intelektual," tambah Bahlil.

Ia pun menceritakan perjuangannya menimba ilmu di Papua dengan segala keterbatasannya. Ia mendorong generasi muda ikut membangun Indonesia dengan menjadi pengusaha dan mendorong penciptaan lapangan pekerjaan di Tanah Air.

"Saat ini sudah ada 7 juta pengangguran di negara ini. Angkatan kerja setiap tahun hanya mampu menyerap 2,9 juta tenaga kerja. Maka dari itu kita harus dorong investasi sektor swasta untuk menciptakan lapangan pekerjaan," kata Bahlil Lahadalia.

Dalam kesempatan yang sama Ketua Taruna Merah Putih Maruarar Sirait menekankan pentingnya nilai-nilai besar yang ditanamkan dalam generasi muda saat ini.

4 dari 4 halaman

Bangun Jaringan

Ia juga mengajak generasi muda membangun jejaring sejak dini agar bisa membuka peluang di masa mendatang.

"Kalau boleh adik-adik mulai masuk organisasi, mau apa saja silahkan, karena networking ini penting. Apapun latar belakang agama, suku, atau rasnya, kita harus menjadi generasi yang memiliki jiwa Pancasila yang sejati," kata Bahlil. 

Kalau jadi pengusaha lebih bagus rugi tapi tetap dipercaya, daripada untung tapi menipu orang. Anak muda harus berpikir besar dan memiliki nilai-nilai baik yang ditanamkan sejak dini," ujarnya.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS