Sukses

Rupiah Perkasa Sentuh 15.430 per Dolar AS, Investor Fokus Data Tenaga Kerja AS

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat ini. Pada perdagangan Kamis kemarin, nilai tukar rupiah juga menguat tajam. 

Pada Jumat (2/12/2022), rupiah dibuka menguat 133 poin atau 0,85 persen ke posisi 15.430 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 15.563 per dolar AS.

"Pasar menanti data utama tenaga kerja AS yang dapat menjadi faktor dalam jalur kebijakan moneter," tulis Tim Riset Monex Investindo Futures dikutip dari Antara.

Fokus saat ini beralih ke data ketenagakerjaan nonpertanian atau Non Farm Payrolls (NFP) yang akan dirilis hari ini. Para investor dan pelaku pasar mengharapkan data ini menunjukkan bahwa pasar pekerjaan sedikit mendingin pada November.

Namun sektor tersebut tetap kuat tahun ini, dengan bank sentral menyatakan akan mencari lebih banyak moderasi karena memperketat kebijakan.

Setiap tanda-tanda kekuatan tak terduga di pasar pekerjaan memberi The Fed dorongan yang cukup untuk terus menaikkan suku bunga, yang bisa menjadi skenario yang negatif bagi pasar.

Gubernur The Fed Jerome Powell dalam pidatonya pekan ini kembali mengukuhkan niat The Fed untuk menurunkan kenaikan tingkat suku bunga acuan yang sedang berjalan.

Sebelumnya, The Fed menaikkan tingkat suku bunga sebesar 75 basis poin pada empat pertemuan terakhir dan sudah menaikkan tingkat suku bunga sebesar total 3,75 persen hanya dalam tahun 2022 ini saja.

Powell menyebutkan masih akan menaikkan suku bunga acuan hingga dapat menekan turun inflasi di AS, tetapi menghindari kenaikan suku bunga secara agresif seperti yang sudah terjadi.

Kendati demikian, pelaku pasar masih was-was terhadap batas tertinggi tingkat suku bunga di AS dengan ekspektasi kenaikan suku bunga sebesar 50 basis poin pada pertengahan bulan Desember dan kebijakan hawkish masih dapat berlanjut hingga pertengahan 2023.

Pada Kamis 1 Desember 2022, rupiah ditutup menguat 169 poin atau 1,07 persen ke posisi 15.563 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 15.732 per dolar AS.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 5 halaman

4 Hal Ini Pengaruhi Naik Turun Rupiah Terhadap Dolar AS

Nilai tukar Rupiah masih berada di rentang level Rp 15.500 hingga 15.600 per dolar AS hingga saat ini. Meskipun secara fundamental ekonomi Indonesia memperlihatkan kinerja yang cukup baik ternyata hal ini belum mampu menopang penguatan nilai tukar Rupiah.

Pada kuartal III 2022, ekonomi (PDB) Indonesia tumbuh cukup tinggi sebesar 5,72 persen (yoy), yang berarti dalam empat kuartal terakhir tumbuh di atas 5 persen (yoy) secara berturut-turut.

Kepala ekonomi The Indonesia Economic Intelligence (IEI), Sunarsip menilai terdapat setidaknya 4 faktor yang mempengaruhi perkembangan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS, baik dari sisi eksternal maupun internal.

Suku Bunga The Fed yang Tinggi

Pertama, dari sisi eksternal, pergerakan nilai tukar Rupiah selama 2022 lebih dipengaruhi oleh dinamika yang terkait dengan kebijakan suku bunga acuan yang diambil oleh bank-bank sentral negara lain, terutama The Fed Fund Rate (FFR).

Kenaikan FFR secara agresif telah menyebabkan terjadinya capital outflow secara masif dan memperlemah nilai tukar Rupiah.

“Berdasarkan kalkulasi IEI, selama 9 bulan pertama 2022, Indonesia mengalami capital outflow sekitar Rp 161 triliun dari saham dan surat berharga negara (SBN) dibanding posisi pada akhir 202,” kata Sunarsip dalam sebuah diskusi, Sabtu (19/11/2022).

 

3 dari 5 halaman

Interest Rate Indonesia Kurang Menarik

Faktor kedua, masih dari sisi eksternal, IEI menyebut investor portofolio asing masih melihat real interest rate Indonesia kurang menarik, karena beberapa negara emerging market lainnya telah memiliki yang positif seperti Brazil, Meksiko dan China.

“Dengan posisi tersebut, para investor portofolio memiliki lebih banyak opsi dalam menempatkan dananya di luar pasar keuangan Amerika Serikat,” lanjut Sunarsip.

 

4 dari 5 halaman

Pengaruh Demand Valas di Indonesia

Faktor ketiga, Snarsip memaparkan, dari sisi internal pergerakan nilai tukar Rupiah, dipengaruhi oleh demand valas di Indonesia yang masih tinggi sedangkan sisi pasokannya (supply) cenderung stagnan.

Tingginya capital outflow dan demand valas di dalam negeri belum diimbangi oleh suplai valas yang cukup. Surplus neraca perdagangan yang tinggi, belum cukup kuat untuk mendorong peningkatan posisi cadangan devisa Indonesia karena tingginya demand valas. Keterbatasan suplai valas antara lain tercermin dari indikator loan to deposit ratio (LDR) valas yang meningkat tajam selama 2022.

Kenaikan LDR valas mencerminkan kebutuhan pembiayaan valas tinggi namun suplai valas dari masyarakat terbatas. Selain itu, demand valas juga diperlukan untuk impor, repatriasi, dan pembayaran utang luar negeri (ULN).

 

5 dari 5 halaman

Perkembangan Penerbitan Emisi di Pasar Modal Indonesia

Faktor keempat, perkembangan penerbitan emisi efek di pasar modal selama 2022 kurang atraktif dibanding tahun lalu. Hal ini antara lain terlihat nilai emisi efek selama 2022, yang menurun dibanding tahun lalu meskipun jumlah korporasi yang menerbitkan efek baru relatif sama banyaknya dibanding tahun lalu.

“Penurunan nilai emisi efek baru tersebut terutama terjadi pada IPO dan Right Issue. Selain dari sisi nilai, kurangnya emisi dari emiten big player, big name selama 2022 juga berpengaruh dalam menarik modal asing portofolio masuk ke pasar modal Indonesia,” pungkas Sunarsip.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS