Sukses

BSI Sebar Dividen Rp 757 Miliar

Liputan6.com, Jakarta - Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSIS) menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp 757 miliar dari laba 2021 yang tercatat Rp Rp 3,02 triliun. Di 2021 kemarin BSI mencatatkan kinerja yang cemerlang. 

Sekretaris Perusahaan Bank Syariah Indonesia Gunawan Arif Hartoyo menjelaskan, BSI membukukan laba bersih Rp 3,02 triliun di 2021, naik 38,45 triliun (yoy) dibandingkan sebelumnya.

Atas dasar itu, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pun kemudian menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp 757 miliar. Jumlah tersebut merupakan 25 persen dari laba bersih yang dihasilkan sepanjang 2021.

"Pemegang saham menyetujui pemberian dividen tunai 25 persen dari laba bersih sebesar Rp 757 miliar," kata dia dalam konferensi pers, Jakarta, Jumat (17/5/2022).

Secara rinci besaran dividen yang akan dibagikan kepada para pemegang saham yakni Rp 757.051.214.975. Dividen yang akan dibagikan ini sekurang-kurangnya ekuivalen dengan Rp 18,41 per lembar saham.

Pemberian dividen payout ratio sebesar 25 persen tersebut mempertimbangkan komitmen BSI untuk terus memberi nilai kepada shareholder. Termasuk menghadirkan value kepada stakeholder melalui rencana ekspansi bisnis ke depan.

“Keputusan tersebut juga mengindikasikan dukungan yang kuat dari pemegang saham kepada manajemen untuk mengakselerasi rencana ekspansi bisnis perusahaan,” imbuhnya.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Pencadangan

Kemudian 20 persen laba bersih disisihkan sebagai cadangan wajib perseroan. Sedangkan sisanya sebanyak 55 persen dari laba bersih tahun lalu dialokasikan sebagai laba ditahan.

"Adapun sebesar 20 persen disisihkan sebagai cadangan wajib dan sisanya sebesar 55 persen dialokasikan sebagai laba ditahan,” katanya.

Selain pembagian dividen tunai, dalam RUPST para pemegang saham juga menyetujui perubahan anggaran dasar perseroan. Sebab hal ini terkait langkah pemerintah untuk memasukan saham Seri A Dwiwarna ke BSI.

Saham Seri A Dwiwarna ini merupakan saham khusus Negara Republik Indonesia yang memberikan hak istimewa pada pemegang saham. Beberapa di antaranya menyetujui persetujuan rapat umum pemegang saham serta menyetujui perubahan permodalan perusahaan.

“Kami berharap adanya saham Dwiwarna ini semakin memperkuat BSI untuk menjadi motor bagi kemajuan industri keuangan syariah nasional,” pungkasnya.

3 dari 4 halaman

BSI Bakal Rights Issue Rp 5 Triliun pada Kuartal III 2022

Sebelumnya, PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI akan melakukan aksi korporasi untuk penambahan modal melalui mekanisme rights issue dengan nilai Rp5 triliun pada kuartal III 2022. Aksi korporasi emiten berkode BRIS ini pun untuk memenuhi aturan free float dan ekspansi bisnis perseroan.

Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo yang akrab disapa Tiko menuturkan, ada beberapa faktor pendorong di balik aksi korporasi tersebut. BSI akan didorong meningkatkan pangsa pasar di perbankan syariah dari 7 persen menjadi setidaknya 10 persen.

BSI pun perlu memperluas jaringan sehingga jangkauan bisnisnya lebih luas dan menjadi bank syariah yang universal.

Sebagai bank syariah komersial, kecepatan layanan melalui fitur produk BSI pun perlu ditingkatkan dengan tanpa mengurangi aspek kenyamanan. Hal itu dilakukan BSI salah satunya untuk menggaet nasabah milenial yang memang meningkat tajam.

 

4 dari 4 halaman

Minimal Free Float

“Rights issue BSI kita siapkan Rp5 triliun bahkan lebih dari pemegang saham eksisting, Bank Mandiri, BNI dan BRI. BSI pun dapat menjadi bank syariah yang lebih moderen dan dapat memenuhi kebutuhan generasi milenial. Harapannya akuisisi customer baru lebih cepat,” ujar Tiko, seperti dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (19/5/2022).

Adapun batas minimal free float atau saham publik yang beredar sebesar 7,5 persen. Sementara dalam laman resmi BSI disebut, komposisi pemegang saham BSI saat ini adalah adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, sebesar 50,95 persen, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, sebanyak 24,91 persen, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, sejumlah 17,29 persen.

Sementara itu sisanya adalah DPLK BRI sekitar 1,83 persen, BNI Life Insurance hanya 0,01 persen. Selain itu, pemegang saham lain dengan kepemilikan kurang dari 5 persen termasuk publik baru sekitar 7,08 persen.