Sukses

Rupiah Perkasa Usai Jokowi Cabut Larangan Ekspor CPO

Liputan6.com, Jakarta Nilai tukar rupiah menguat pada perdagangan Jumat pagi ini. Penguatan rupiah seiring kebijakan pemerintah yang membuka kembali keran ekspor minyak sawit mentah (CPO).

Kurs rupiah pagi ini bergerak menguat 79 poin atau 0,54 persen ke posisi 14.640 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 14.719 per dolar AS.

Analis Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Revandra Aritama saat dihubungi di Jakarta, Jumat, mengatakan, rupiah sendiri pada hari sebelumnya memang sempat menguat menyusul dibukanya kembali izin ekspor CPO.

"Seperti diketahui ekspor CPO mampu memberikan sumbangan devisa yang besar bagi Indonesia. Selain itu neraca perdagangan kuartal I 2022 Indonesia juga surplus. Ini juga memberikan sentimen positif untuk rupiah," ujar Revandra.

Presiden Joko Widodo mengumumkan pemerintah akan membuka ekspor minyak goreng mulai Senin 23 Mei 2022 setelah sebelumnya melarang ekspor CPO dan produk turunannya mulai 28 April 2022.

Meski keran ekspor dibuka, pemerintah akan tetap mengawasi dan memantau dengan ketat untuk memastikan pasokan minyak goreng tetap terpenuhi dengan harga terjangkau.

Kendati demikian, lanjut Revandra, sentimen terhadap sikap hawkish  bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (Fed), masih cukup kuat sehingga berpotensi memberi tekanan terhadap rupiah.

"Perubahan terhadap situasi ini bisa dipengaruhi oleh hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dijadwalkan pekan depan," ujar Revandra.

Revandra memperkirakan rupiah hari ini berpotensi bergerak ke kisaran 14.670 per dolar AS hingga 14.770 per dolar AS.

Pada Kamis (19/5) lalu, rupiah ditutup melemah 44 poin atau 0,3 persen ke posisi 14.689 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 14.645 per dolar AS.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Waspada, Gejolak Inflasi dan Bunga Acuan Bisa Dorong Rupiah Sentuh 15.000 per Dolar AS

Sebelumnya, Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (The Fed) telah menaikan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 1 persen pada Mei 2022. Kenaikan tersebut dilakukan kala berbagai negara, termasuk Indonesia tengah menghadapi tekanan inflasi.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai, situasi ini mengancam nilai tukar atau kurs rupiah makin melemah ke posisi Rp 15.000 per dolar AS.

"Dengan kondisi ekonomi global yang terus bermasalah dan inflasi yang tinggi membuat bank sentral global menaikan suku bunga, ini akan berpengaruh terhadap pelemahan mata uang rupiah. ada kemungkinan rupiah akan melemah di 15.000 per dolar AS," tuturnya dalam pernyataan tertulis, Selasa (17/5/2022).

Bank Indonesia (BI) juga telah memberi isyarat untuk segera menaikan suku bunga acuannya yang telah tertahan di level 3,5 persen selama 14 bulan beruntun.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2022 sebesar 5,01 persen year on year telah memberikan harapan lebih baik lagi dibanding tahun sebelumnya. Namun demikian, negara masih akan menghadapi tiga tantangan utama.

"Pertama, normalisasi kebijakan moneter di negara maju. Kedua, masih terdapatnya dampak dari pandemi di sektor riil. Dan yang ketiga, berlanjutnya ketegangan politik antara Rusia dan Ukraina," ungkapnya beberapa waktu lalu.

Secara global, Destry melihat tekanan inflasi yang terus menguat. "Sehingga ini harus diimbangi dengan normalisasi yang agresif yang dilakukan bank sentral dengan meningkatkan suku bunga kebijakannya. Tentunya juga dengan mengurangi likuiditas sistem keuangan," imbuhnya.

Namun, ia menilai, kebijakan itu pastinya memberikan ketidakpastian lebih lanjut, dengan semakin terbatasnya aliran modal ke emerging market, termasuk juga ke Indonesia.

3 dari 4 halaman

Kebijakan Moneter

Meskipun demikian, Destry bersyukur karena dari sisi domestik di triwulan I 2022 pertumbuhan ekonomi kita bisa mencapai 5,01 persen secara tahunan.

"Ini tentunya memberikan harapan adanya perbaikan ekonomi, dan kita masih bisa sangat optimis bahwa perekonomian kita pada 2022 ini dapat tumbuh di range 4,5-5,3 persen," ujar dia.

Kendati begitu, pemerintah pun perlu mencermati beberapa hal yang masih dirasakan hingga saat ini. Diantaranya, efek memar atau scarring effect sebagai dampak akibat pandemi yang berkepanjangan sejak tahun 2020.

"Oleh karena itu, normalisasi kebijakan yang terlalu prematur akan sangat berisiko untuk pemulihan ekonomi. Namun, apabila terlalu lambat juga akan berdampak pada akselerasi risiko yang lebih cepat," sebut dia.

"Kebijakan moneter akan lebih diutamakan untuk pro stability untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Melalui bauran kebijakan tersebut, secara terukur Bank Indonesia akan mengambil kebijakan normalisasi yang diharapkan tidak mengakibatkan tertahannya pemulihan ekonomi," tandasnya. 

4 dari 4 halaman

Pelemahan Rupiah Tak Sedalam Ringgit, Rupee, dan Peso

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengakui bahwa nilai tukar rupiah melemah karena tekanan dari sentimen global. Namun jika dibandingkan dengan beberapa mata uang lainnya, pelemahan rupiah masih kecil.

Perry mencatat, nilai tukar rupiah terDepresiasi sekitar 0,42 persen sampai dengan 16 Maret 2022 dibandingkan dengan level akhir 2021. Angka ini relatif lebih rendah dibandingkan depresiasi dari mata uang sejumlah negara berkembang lainnya. Seperti ringgi Malaysia 0,76 persen (ytd), rupee India 2,53 persen (ytd), dan peso Filipina 2,56 persen (ytd).

"Dan alhamdulillah nilai tukar cukup baik yang depresiasi jauh lebih kecil dari negara lain," ujarnya dalam acara konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Rabu (13/4/2022).

Terjaganya nilai tukar rupiah ini didorong oleh berlanjutnya aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif terhadap prospek perekonomian domestik dan terjaganya pasokan valas domestikm

Ke depan, nilai tukar rupiah diprakirakan tetap terjaga didukung oleh kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang tetap baik.

Untuk itu, Bank Indonesia akan terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan bekerjanya mekanisme pasar dan fundamental ekonomi, melalui langkah-langkah mendorong efektivitas operasi moneter dan ketersediaan likuiditas di pasar.