Sukses

Bos BI Terus Waspadai Kenaikan Inflasi dan Tekanan ke Rupiah

Liputan6.com, Jakarta Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengaku terus mewaspadai 2 hal. Keduanya yaki potensi kenaikan inflasi dan tekanan terhadap rupiah pada 2022.

Inflasi berpotensi naik seiring meroketnya harga sejumlah komoditas utama setelah pulihnya permintaan global.

Meski demikian, dia menyakini laju inflasi tetap terjaga sesuai proyeksi pemerintah berada pada kisaran 3 plus minus 1 persen.

"Inflasi mengalami kenaikan pada 2022 akibat naiknya sejumlah komoditas utama," jelas dia dalam Annual Investment Forum 2022, Jakarta, Kamis (27/1/2022).

Selain kenaikan inflasi, nilai tukar Rupiah pada tahun ini berpotensi mengalami tekanan terhadap dolar AS.

Namun, dia tidak menyebutkan apa saja potensi-potensi yang akan menekan nilai tukar mata uang garuda tersebut.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi bersama Kementerian Keuangan.

"Nilai tukar Rupiah memang akan terjadi tekanan tahun ini. Tapi, komitmen kami untuk menjaga stabilitas nilai tukar berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan," jelas dia.

Di sisi lain, BI berencana menaikkan suku bunga acuan atau BI 7 days reverse repo rate (BI7DRRR) di akhir tahun. Saat ini suku bunga acuan BI berada di level rendah 3,5 persen yang sudah bertahan selama satu tahun ini.

Perry menjelaskan, Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuan jika angka inflasi terus merangkak naik. Suku bunga ini merupakan alat moneter untuk mengendalikan inflasi. Dalam perkiraannya, tren kenaikan laju inflasi terus terjadi sepanjang 2022.

"Suku bunga acuan masih berada di level 3,5 persen sampai ada tanda kenaikan inflasi. Kemungkinan akhir tahun ini (suku bunga acuan naik)," tutur dia.

Tren kenaikan inflasi sendiri dipicu oleh harga sejumlah komoditas utama dunia yang terus meroket setelah pulihnya permintaan global. Selain itu, kembali menggeliatnya dunia usaha juga ikut mengerek tumbuhnya permintaan tersebut.

Meski begitu, dia menyakini laju inflasi tetap terjaga sesuai proyeksi pemerintah. Yakni, di kisaran kisaran 3 plus minus 1 persen. "Inflasi tetap akan dikisaran 3 plus minus 1 persen," tekannya.

Ke depan, Bank Indonesia terus mengoptimalkan seluruh bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendukung upaya perbaikan ekonomi lebih lanjut.

 

Reporter: Sulaeman

Sumber: Merdeka.com

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Tahan Suku Bunga

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuan atau BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,5 persen pada Rapat Dewan Gubernur 19 dan 20 Januari 2022.

“Keputusan ini sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas inflasi, nilai tukar dan sistem keuangan, serta upaya untuk mendukung pemulihan ekonomi di tengah tekanan eksternal yang meningkat,” kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers virtual, Kamis (20/1/2022).

Selain itu, BI juga mempertahankan suku bunga deposit facility sebesar 2,75 persen, dan suku bunga lending facility diangka 4,25 persen.

Adapun di 2021, BI mencatat tingkat inflasi sebesar 1,87 persen, berada di bawah target BI 2 hingga 4 persen.

BI pun memprediksi di tahun 2022 ini, tingkat inflasi diperkirakan tetap terkendali sesuai target BI dikisaran 2 hingga 4 persen.