Sukses

Produktivitas Padi Nasional Stagnan, Kementan Genjot Penyuluh Pertanian

Liputan6.com, Bogor - Produktivitas padi era orde baru pernah melonjak dari 2,8 ton-2,9 ton per hektare menjadi 5,4 ton-5,6 ton per hektare.

Akan tetapi, dalam kurun 10 tahun terakhir, produktivitas padi nasional cenderung stagnan di angka 5,1 ton-5,25 ton per hektare.

"Produktivitas padi stagnan di saat perkembangan teknologi digital semakin pesat sampai merambah sektor pertanian. Lalu ke mana penyuluhnya?," ujar Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Kementan, Dedi Nursyamsi, di Bogor, Kamis (17/12/2021).

Menurutnya, untuk dapat meningkatkan produktivitas padi nasional seharusnya tidak sesulit dahulu. Sebab, dengan pekembangan teknologi informasi dan komunikasi bahkan internet of things (IOT), proses produksi dan produktivitas serta kualitas produk pertanian bisa ditingkatkan.

Selain itu, varietas-varietas padi unggul juga sudah tersedia. Saat ini sudah ada varietas unggul baru (VUB), yang memiliki potensi hasil minimal 5 ton per hektare, teknologi informasi, dan komunikasi pun semakin mudah.

Akan tetapi, selama 10 tahun terakhir justru produktivitas pertanian nasional cenderung stagnan.

"Berarti yang harus digenjot adalah penembak jitunya yaitu penyuluh. Penyuluh itulah pendongkrak utama pertanian. Itulah amunisi kita saat ini," terangnya.

 

2 dari 2 halaman

Penyuluh Pertanian Jadi Strategi Efektif

Dosen Polbangtan Bogor, Momon Rusmono, mengatakan agar pembagunan pertanian dapat terus menciptakan lapangan pekerjaan dan mengurangi kemiskinan, maka diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, andal, punya kemampuan manejerial, kewirausahaan, dan organisasi bisnis.

"Salah satu strategi yang efektif, yang murah, dan masif adalah penyuluhan pertanian," ujar Momon.

Akan tetapi, di era revolusi industri 4.0 ke depan, penyuluh juga wajib beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi yang fokus pada peningkatan produktivitas.