Sukses

Biaya Logistik Masih Jadi Masalah Utama yang Menghantui Ekspor Indonesia

Liputan6.com, Jakarta Ketua Kamar Dagang dan Industri atau Kadin Indonesia Arsyad Rasyid mengatakan, kondisi ekspor Indonesia masih dihantui oleh biaya logistik yang mahal meski kinerjanya meningkat.

Berdasarkan data BPS, kinerja ekspor pada September 2021 hanya USD 20,60 miliar. Nilai ini turun dibanding Agustus yang tercatat sebesar USD 21,43 miliar atau turun 3,84 persen (MoM).

Penurunan September 2021 didorong melemahnya ekspor migas sebesar 12,56 persen dan nonmigas sebesar 3,38 persen. Namun, nilai tersebut naik 47,64 persen dibanding tahun sebelumnya (YoY).

Pelemahan ekspor nonmigas September 2021, disebabkan kontraksi ekspor sektor migas yang turun 12,56 persen (MoM) dan sektor industri pengolahan yang turun sebesar 5,29 persen (MoM).

"Selama kita punya ekspor tinggi. Kita punya masalah, kenapa logistiknya tinggi. Memang itu masalah dunia," ujar Arsyad dalam pelantikan pengurus kadin 2021-2026, Jakarta, Rabu (20/10).

Dia pun meminta masalah ini harus mampu diselesaikan para pengusaha sehingga ekspor yang tinggi memberikan hasil maksimal. Di mana kemudian dampaknya semakin baik untuk ekonomi negara.

"Secara Indonesia kita harus memikirkan, bagaimana supaya logistik kita murah, supaya cost of logistik turun, ekspor kita meningkat lebih efisien. Disitu lah di mana kita bekerja sama walau kita berkompetisi sebagai pengusaha. Mana hal yang bisa disatukan untuk berperan melawan negara lain," katanya.

Dia menambahkan, pada masa pendemi ini semua harus bahu membahu membangkitkan kembali perekonomian. Sebab ekonomi tidak bisa diandalkan dari penyebaran uang oleh Bank Indonesia maupun peningkatan utang.

"Harapan kita investasi yang masuk supaya banyak uang. Bicara utang, utang tidak boleh terlalu banyak. Kita harus bersatu dengan pemerintah. Bagaimana mengambil peluang dan memanfaatkan. Seperti saat ini peperangan China-AS menguntungkan kita, misalnya pada sektor meubel dan tekstil," tandasnya.

 Reporter: Anggun P Situmorang

Sumber: Merdeka.com

2 dari 2 halaman

Kinerja Ekspor

Neraca perdagangan mencatatkan surplus USD 4,37 miliar pada September 2021. Surplus neraca  dagang diklaim seiring tren pemulihan ekonomi Indonesia kembali berlanjut pasca gelombang kedua pandemi Covid-19.  

Surplus neraca perdagangan tersebut ditopang surplus neraca nonmigas sebesar USD 5,30 miliar dan defisit neraca migas sebesar USD 0,93 miliar.

Beberapa negara tercatat menjadi penyumbang surplus neraca perdagangan bagi Indonesia. Ini di antaranya Amerika Serikat (AS), India, dan Filipina dengan jumlah mencapai USD 2,68 miliar.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengungkapkan, surplus September 2021 melanjutkan tren surplus yang terjadi sejak Mei 2020, namun berada di bawah surplus bulan sebelumnya yang mencapai USD 4,75 miliar.

Secara kumulatif, surplus perdagangan periode Januari—September 2021 mencapai USD 25,07 miliar yang terdiri atas surplus neraca nonmigas USD 33,48 miliar dan defisit migas USD 8,40 miliar.

“Optimisme peningkatan ekspor ditunjukkan adanya peningkatan Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur September 2021 yang berada pada posisi 52,2. Posisi ini kembali memasuki periode ekspansif setelah selama dua bulan sebelumnya mengalami kontraksi,” tutur Mendag.

Sementara Australia, Thailand, dan Ukraina menjadi negara mitra penyumbang defisit perdagangan terbesar dengan jumlah USD 0,91 miliar.

Adapun kinerja ekspor pada September 2021 tercatat sebesar USD 20,60 miliar. Nilai ini turun dibanding Agustus yang tercatat sebesar USD 21,43 miliar atau turun 3,84 persen (MoM).

Penurunan September 2021 didorong melemahnya ekspor migas sebesar 12,56 persen dan nonmigas sebesar 3,38 persen. Namun, nilai tersebut naik 47,64 persen dibanding tahun sebelumnya (YoY).

Pelemahan ekspor nonmigas September 2021, disebabkan kontraksi ekspor sektor migas yang turun 12,56 persen (MoM) dan sektor industri pengolahan yang turun sebesar 5,29 persen (MoM).

Sementara ekspor sektor pertanian naik sebesar 15,04 persen (MoM) diikuti sektor pertambangan sebesar 3,46 persen (MoM).