Sukses

Melonjak Drastis, Transaksi Aset Kripto Capai Rp 370 Triliun hingga Mei 2021

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan melaporkan, transaksi aset kripto mengalami pertumbuhan yang sangat pesat.

Ketua Bappebti Sidharta Utama mengatakan, angka transaksi aset kripto hingga Mei 2021 mencapai Rp 370,4 triliun, dengan jumlah investor sekitar 6,5 juta pengguna.

Lonjakan besar investor ini cukup fantastis, mengingat pada periode Januari-April 2021 tercatat ada sebanyak 4,8 juta pengguna dengan nilai transaksi sebesar Rp 237,3 triliun.

"Pada 2020, jumlah nilai transaksi aset kripto di Indonesia berjumlah Rp 64,97 triliun. Sedangkan pada 2021 sampai dengan bulan Mei, transaksi aset kripto sudah mencapai Rp 370,4 triliun," jelas Sidharta saat rapat bersama Komisi VI DPR RI, Selasa (29/6/2021).

Sidharta menyatakan, kenaikan jumlah transaksi ini membuat Bappebti akan fokus melakukan pengaturan aset kripto. Tujuannya, untuk memberikan kepastian hukum dan memberikan perlindungan terhadap pelaku usaha pedagang aset kripto, selain juga bagi para investor.

"Selain itu dengan pengatur perdagangan aset kripto diharapkan bisa mencegah terjadinya pencucian uang, pendanaan terorisme," sebut dia.

Namun, Sidharta menilai perdagangan aset kripto saat ini masih menemui beberapa hambatan. Salah satunya, lembaga penyelenggara transaksi aset kripto saat ini belum terbentuk secara keseluruhan.

"Saat ini yang baru ada adalah pedagang aset kripto, sedangkan bursanya sedang dalam tahap pendirian. Ini yang jadi kendala, belum baiknya transaksi kripto," ujar Sidharta.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

2 dari 3 halaman

Indonesia Bakal Punya Bursa Aset Kripto Akhir 2021, Apa Untungnya?

Aset kripto diharapkan dapat memberikan manfaat yang optimal kepada perekonomian dengan kehadiran bursa khusus pada akhir tahun ini. Hal ini menyusul rencana Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappeti) yang sedang menyiapkan bursa khusus aset kripto.

Wakil Direktur Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listiyanto, mengatakan sejauh ini aset kripto belum berperan dalam pertumbuhan perekonomian negara. Tidak seperti instrumen investasi lain, misalnya obligasi yang terbukti memberikan manfaat untuk pembangunan.

BACA JUGA

Miliarder Meksiko Ricardo Pliego Berkicau, Harga Bitcoin Kembali Naik Sehingga, selama konteksnya belum bisa masuk ke dalam sektor riil, seperti obligasi, maka dampaknya tidak ada atau masih kecil terhadap perekonomian.

"Mudah-mudahan nanti ada (manfaat aset kripto) ketika pasar bursa hadir. Kita lihat nanti, apakah itu akan menjadi model atau sumber dana baru bagi perekonomian, atau hanya sekadar berputar di dalam transaksi mereka, tapi tidak masuk ke sektor riil. Sejauh tidak masuk ke sektor riil, ya sebetulnya manfaatnya kecil," jelas Eko dalam diskusi Plus-Minus Investasi Aset Kripto pada Kamis (24/6/2021).

Kendati demikian, Eko menilai teknologi yang digunakan dalam sistem aset kripto sebenarnya sangat bermanfaat. Dalam hal ini termasuk bisa digunakan untuk kebijakan moneter.

"Karena kalau misalkan ada mata uang digital, ongkos cetak uang menjadi lebih rendah. Kemudian digantikan untuk ongkos pengamanan teknologi dan lainnya," tuturnya.

Selain itu, teknologi blockchain yang bersifat cepat, real time, akuntabel, dan transparan, juga dapat mengatasi persoalan data pemerintah yang selama ini menjadi celah untuk potensi korupsi.

"Bayangan kami, teknologi blockchain akan menjadi tren ke depan di dunia, termasuk aspek tool untuk keuangan. Hanya bentuknya mungkin masih akan terus dieksplorasi oleh sejumlah negara yang bank sentralnya masih eksplorasi bagaimana bentuk yang pas menerapkan mata uang digital," ungkap Eko. 

 

3 dari 3 halaman

Intip Untung-Rugi Investasi Kripto

Peneliti Center of Innovation and Digital Economy INDEF Nur Komaria membeberkan peluang dan ancaman investasi kripto di Indonesia. Pertama, dari sisi peluang crypto asset mampu melakukan transaksi cepat, transparan dan efisien.

"Kemudian juga tanpa ada batasan ruang dan bisa keseluruh dunia," kata Nur dalam diskusi daring, Jakarta, Kamis (24/6).

Peluang selanjutnya, kata Nur adalah, dengan adanya diversivikasi produk investasi, crypto asset mampu menjadi alternative investasi yang potensial. Kemudian, aset kripto Ini juga didukung oleh perkembangan teknologi yang semakin masif.

"Ke.depan, crypto asset bisa menjadi alat transaksi yang sah terutama untuk beberapa platform digital seperti e-commerce dan fintech dan membantu UMKM," katanya.

Nur menambahkan, peluang lainnya adalah dengan adanya jumlah share yang masih mencapai 84 dari fintek. Aset kripto masih memiliki ruang untuk berkembang.

Sementara itu, ancaman yang bisa terjadi adalah regulasi keamanan data masih yang belum komprehensif (syber security). Kemudian, potensi scamming dan phising dalam praktif. Selanjutnya, investasi ini rentan mengalami fluktuasi harga yang sangat volatile.

"Artinya, untung sekejab kemudian bisa lenyap. Investasi ini tidak diatur oleh pihak ketiga. Selanjutnya, resiko bangkrut perusahaan cryptocurrency. Terakhir likuiditasnya tidak lancar," tandas Nur.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com