Sukses

Rupiah Perkasa, Ini Faktor Pendorongnya

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada perdagangan Kamis pekan ini. Kurs rupiah menguat seiring tertekannya imbal hasil obligasi Amerika Serikat.

Mengutip Bloomberg, Kamis (6/5/2021), rupiah dibuka di angka 14.415, menguat dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di 14.435 per dolar AS. Menjelang siang, rupiah terus menguat ke angka 14.372 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.371 per dolar AS hingga 14.421 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 2,30 persen.

Pengamat pasar uang Ariston Tjensdra mengatakan rupiah mungkin bisa menguat hari ini mengikuti sentimen positif pelaku pasar global terhadap aset berisiko. Pagi ini, terlihat indeks saham Asia menguat.

"Sentimen didukung oleh ekspektasi pemulihan ekonomi global. Selain itu, dukungan juga datang dari imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga tertekan di bawah 1,6 persen," ujarnya dikutip dari Antara, Kamis (6/5/2021).

Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun ke level 1,57 persen setelah data private payroll menunjukkan peningkatan sebesar 742.000 dari sebelumnya 565.000 pada April, tetapi sedikit lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 800.000.

"Tapi di sisi lain, penguatan rupiah mungkin akan tertahan dengan ekspektasi pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal kedua akan tertahan karena penurunan konsumsi akibat larangan mudik," ujarnya.

Ariston mengatakan rupiah hari ini berpotensi menguat ke kisaran Rp14.380 per dolar AS dengan potensi resisten di kisaran Rp14.430 per dolar AS.

Pada Rabu (5/5) lalu, rupiah ditutup melemah 5 poin atau 0,03 persen ke posisi Rp14.435 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.430 per dolar AS.

 

2 dari 3 halaman

BI Prediksi Rupiah Bakal Terus Menguat

Bank Indonesia (BI) mencermati nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus menguat. Hal ini didukung oleh berlanjutnya aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan, nilai tukar rupiah pada 18 November 2020 menguat sebesar 3,94 persen point to point dibandingkan dengan level akhir Oktober 2020.

"Perkembangan ini melanjutkan penguatan pada bulan sebelumnya sebesar 1,74 persen point to point atau 0,67 persen secara rata-rata dibandingkan dengan tingkat September 2020," jelasnya dalam sesi teleconference, Kamis (19/11/2020).

Menurut dia, selain karena peningkatan aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik, penguatan rupiah juga terjadi seiring dengan turunnya ketidakpastian pasar keuangan global, seeta persepsi positif terhadap prospek perbaikan perekonomian domestik.

Dengan perkembangan ini, Perry mencatat, rupiah sampai dengan 18 November 2020 terdepresiasi sekitar 1,33 persen secara year to date jika dibandingkan akhir 2019 lalu.

"Ke depan, Bank Indonesia memandang bahwa penguatan nilai tukar rupiah berpotensi berlanjut seiring dengan levelnya yang secara fundamental masih undervalued," ujar Perry

"Hal ini didukung oleh defisit transaksi berjalan yang rendah, inflasi yang rendah dan terkendali, daya tarik aset keuangan domestik yang tinggi, dan premi risiko di Indonesia yang menurun, dan likuiditas global yang besar," tandasnya.  

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: