Sukses

Kembali Masuk Resesi, Pemulihan Ekonomi Indonesia Disebut Lambat

Liputan6.com, Jakarta Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, menilai pemulihan ekonomi Indonesia berjalan lambat. Sesuai prediksinya, pertumbuhan ekonomi masih berada di zona resesi pada kuartal I 2021.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2021 minus 0,74 persen.

"Jadi tidak ada surprise. Sementara negara mitra dagang utama seperti AS, Singapura dan China sudah keluar dari resesi. Ini artinya pemulihan ekonomi Indonesia terbilang lambat," kata Bhima kepada Liputan6.com, Rabu (5/5/2021).

Konsumsi masih mengalami kontraksi cukup dalam -2,23 persen yoy, dan investasi juga masih negatif -0,23 persen khususnya investasi di sektor bangunan atau konstruksi dan peralatan lainnya.

Bhima mengatakan, itu bukti baik masyarakat dan dunia usaha masih butuh waktu untuk rebound.

Ia menjelaskan bahwa model pemulihan ekonomi juga berbentuk huruf K-shaped. Contohnya sektor transportasi masih terkontraksi -13,1 persen yoy, disusul akomodasi dan makan minum -7,26 persen yoy.

Sementara performa sektor infokom performa, mengalahkan sektor lain dengan tumbuh 8,72 persen. Menurutnya, terjadi ketimpangan antar sektor.

Masalah lain soal belanja pemerintah yang belum optimal. Pemerintah Daerah (Pemda) pemda masih lakukan pola anggaran yang sama dengan tahun lalu yakni parkir uang di bank sebesar Rp 182 triliun. Padahal, belanja Pemda dapat membantu pemulihan ekonomi.

"Kalau Pemda belum support maka ekonomi di daerah juga sulit pulih lebih cepat. Senses of crisis dari pemerintah terlalu rendah," jelas Bhima.

 

2 dari 3 halaman

Pengamat Sebut Proses Pemulihan Ekonomi Indonesia Dinilai Masih Timpang

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, menyoroti laporan Badan Pusat Statistik (BPS), yang merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2021 masih berada di zona resesi dengan tumbuh negatif 0,74 persen secara tahunan (yoy).

Menurut dia, Indonesia pada triwulan pertama tahun ini masih resesi lantaran proses pemulihan ekonomi yang masih timpang di masa pandemi Covid-19 saat ini.

Dia menganalogikannya dalam bentuk K-shaped, dimana pada sisi atas huruf menggambarkan adanya beberapa sektor yang booming di masa krisis, sementara pada sisi huruf K bagian bawah untuk menggambarkan sektor yang justru terkontraksi semakin dalam.

"Itu bukti baik masyarakat dan dunia usaha masih butuh waktu untuk rebound. Model pemulihan ekonomi juga berbentuk huruf K-shaped," kata Bhima kepada Liputan6.com, Rabu (5/5/2021).

Bhima mengambil contoh sektor konsumsi yang mengalami kontraksi cukup dalam minus 2,23 persen secara tahunan. Kemudian sektor transportasi yang tumbuh negatif 13,1 persen, serta akomodasi dan makan minum yang minus 7,26 persen.

Di sisi lain, sektor Infokom secara performa justru tengah melambung dengan pertumbuhan positif mengalahkan yang lain hingga 8,72 persen.

"Terjadi ketimpangan antar sektor," sambung Bhima.

Masalah lainnya, ia juga mengutip belanja pemerintah yang belum optimal. Khususnya untuk pemerintah daerah (pemda), yang masih memarkir dana anggaran pemerintah dan belanja daerah (APBD) hingga Rp 182 triliun di bank.

"Kalau pemda belum support maka ekonomi di daerah juga sulit pulih lebih cepat. Senses of crisis dari pemerintah terlalu rendah," ujar Bhima.

Oleh karenanya, dia tak heran jika Indonesia saat ini masih berada di zona resesi dengan pertumbuhan ekonomi negatif 0,74 persen di kuartal I 2021.

"Jadi tidak ada surprise. Sementara negara mitra dagang utama seperti AS, Singapura dan China sudah keluar dari resesi. Ini artinya pemulihan ekonomi Indonesia terbilang lambat," tandasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Ini