Sukses

Negara ASEAN Siapkan 5 Strategi Pemulihan Ekonomi Kawasan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan bahwa Indonesia dan sembilan negara anggota Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) lainnya berkomitmen melaksanakan integrasi ekonomi menuju ASEAN yang maju dan modern, melalui implementasi Prioritas Tahunan AEC 2025.

Hal ini disampaikannya ketika menghadiri Pertemuan ASEAN Economic Community Council (AECC) / Dewan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ke-19.

Dijelaskannya, dalam hal ini, ASEAN telah menyepakati kerangka kerja pemulihan ekonomi yang diberi nama ASEAN Comprehensive Recovery Framework (ACRF). Ini merupakan upaya ASEAN memulihkan perekonomian akibat pandemi.

"Ini merupakan tindak lanjut dari arahan pemimpin ASEAN pada KTT ASEAN ke-36 pada 26 Juni 2020 untuk melakukan pemulihan ekonomi akibat dampak Covid-19," jelas Airlangga dikutip dari keterangannya pada Rabu (3/4/2021).

Ada lima strategi di dalam ACRF yaitu meningkatkan sistem kesehatan, memperkuat ketahanan manusia, memaksimalkan potensi pasar intra ASEAN, mempercepat digitalisasi yang inklusif, serta maju menuju masa depan yang tangguh dan berkelanjutan.

Konektivitas di antara 10 negara anggota ASEAN juga semakin terintegrasi melalui Master Plan on ASEAN (MPAC) 2025 yang fokus pada lima area, yakni Sustainable Infrastructure, Digital Innovation, Seamless Logistics, Regulatory Excellence, dan People Mobility.

Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional Kemenko Perekonomian, Rizal Affandi Lukman, menambahkan MPAC 2025 merupakan kelanjutan dari MPAC 2010 yang menunjukkan kesungguhan ASEAN untuk tidak hanya meningkatkan konektivitas fisik melalui pembangunan infrastruktur, tapi juga konektivitas digital. Sejak terjadinya pandemi Covid-19, konektivitas digital menjadi semakin relevan dan merupakan bagian penting dalam pemulihan ekonomi.

"Ke depannya, post-pandemic ASEAN akan dihadapkan dengan perkembangan dan tren-tren ekonomi global yang dinamis. Beberapa isu yang mengemuka seperti restrukturisasi dan diversifikasi rantai pasok regional, transformasi digital, keberlanjutan, dan Revolusi Industri 4.0 harus dipersiapkan sebaik mungkin sejak saat ini," tuturnya.

Berbagai inisiatif, lanjut Rizal, telah Indonesia mulai untuk menghadapi era baru pasca Covid-19. Salah satunya berkaitan dengan transformasi digital dan Revolusi Industri 4.0, dan saat ini ASEAN sedang menyusun Consolidated Strategy on Fourth Industrial Revolution for ASEAN sebagai strategi memaksimalkan pemanfaatan industri 4.0 dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mempromosikan pembangunan ekonomi yang inklusif.

2 dari 3 halaman

Ketua ASEAN 2023

Lebih lanjut, Rizal menyoroti prospek Indonesia sebagai ketua ASEAN 2023. Indonesia telah tiga kali menjadi Ketua ASEAN, dan pada masa itu disebut telah lahir berbagai gagasan besar yang telah menjadi landscape kerja sama ASEAN, sehingga pada Keketuaan yang ke-4 pada 2023 mendatang diharapkan gagasan besar akan lahir kembali untuk memperkuat ASEAN, baik bagi negara anggota maupun mitra dialog yang semakin bertambah banyak.

"Pada Keketuaan di 2023, Indonesia harus kembali mampu menjawab tantangan dan kebutuhan dunia, terutama di tengah usaha keras perekonomian dunia untuk recovery dari dampak pandemi Covid-19. Jadi, upaya-upaya pemulihan ekonomi masih akan menjadi isu utama, termasuk diprediksi bahwa dinamika perekonomian di 2023 masih dibayang-bayangi dampak pandemi," ucap Rizal.

Rizal juga mengggarisbawahi sinergi antara Keketuaan Indonesia di ASEAN dengan berbagai forum internasional seperti G-20 dan Asia Pacific Economic Cooperation (APEC).

"Sinergi prioritas menjadi kata kunci untuk memastikan bahwa kepentingan Indonesia dapat diwujudkan di ASEAN, APEC dan G-20. Keterlibatan aktif dalam forum-forum ini tidak lain untuk mendukung upaya pemerintah dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi," ungkapnya.

Keketuaan Indonesia di ASEAN 2023 diharapkan dapat meningkatkan kepentingan ekonomi nasional dan kawasan.

Kekuatan ASEAN

ASEAN telah memperlihatkan kemajuan signifikan dari segi sosial, ekonomi, politik, dan budaya. ASEAN kini semakin berpengaruh baik di tingkat regional maupun global. ASEAN merupakan pasar terbesar ke-3 di Asia dan terbesar ke-5 di dunia serta merupakan salah satu pasar terintegrasi yang paling maju.

Jumlah populasi yang mencapai 660 juta jiwa, ASEAN disebut memiliki basis konsumen yang luas yakni terbesar ke-3 setelah China dan India secara global. Lebih dari 50 persen populasi ASEAN berusia di bawah 30 tahun, dan mereka merupakan bagian terbesar dari angkatan kerja saat ini dan di masa depan.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor pendorong peningkatkan jumlah Produk Domestik Bruto (PDB) ASEAN sebanyak 140 kali lipat sejak didirikan pada 1967, dari USD 23 miliar menjadi USD 3,2 triliun. PDB per kapita juga meningkat 40 kali lipat dari USD 122 menjadi USD 4.827. Nilai perdagangan ASEAN naik 282 kali lipat dari USD 10 miliar menjadi USD 2,8 triliun.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: