Sukses

Harga Emas Antam Hari Ini 22 Februari 2021, Sama Seperti 2 Hari Lalu

Liputan6.com, Jakarta Harga emas Antam atau hasil produksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) beli maupun buyback masih sama seperti kondisi 2 hari lalu. Harga beli emas Antam berada pada posisi Rp 930 ribu per Gram, sedangan buyback emas Antam  sebesar Rp 807 ribu per gram.

Harga buyback ini adalah jika Anda menjual emas, Antam akan membelinya di harga Rp 807 ribu per gram. Saat ini, Antam menjual emas dengan ukuran mulai 0,5 gram hingga 1.000 gram.

Hingga pukul 08.38 WIB, Senin (22/2/2021) mayoritas ukuran emas Antam masih tersedia. Antam juga menyediakan emas dalam bentuk lain, seperti koin dinar, dirham maupun emas koleksi lainnya.

Seperti harga emas Antam bercorak batik dengan ukuran 10 gram ditetapkan Rp 9.650.000, sementara untuk ukuran 20 gram dijual Rp 18.660.000.

Harga emas Antam sudah termasuk PPh 22 sebesar 0,9 persen. Jika menyertakan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dapat memperoleh potongan pajak lebih rendah (0,45 persen).

Rincian Harga Emas Antam:

* Pecahan 0,5 gram Rp 515.000

* Pecahan 1 gram Rp 930.000

* Pecahan 2 gram Rp 1.800.000

* Pecahan 3 gram Rp 2.675.000

* Pecahan 5 gram Rp 4.425.000

* Pecahan 10 gram Rp 8.795.000

* Pecahan 25 gram Rp 21.862.000

* Pecahan 50 gram Rp 43.645.000

* Pecahan 100 gram Rp 87.212.000

* Pecahan 250 gram Rp 217.765.000

* Pecahan 500 gram Rp 435.320.000

* Pecahan 1.000 gram Rp 870.600.000

2 dari 3 halaman

Ramalan Morgan Stanley: Harga Emas di Bawah USD 1.800 Hingga Akhir Tahun

Morgan Stanley memprediksi harga emas bakal berada di bawah USD 1.800 per ons hingga akhir 2021. Prospek ini didasarkan pada harga emas yang diperdagangkan sekitar USD 1.850 per ons dan support USD 1.800 per ons.

Kepala Strategi Lintas Aset untuk Morgan Stanley Andrew Sheets mengatakan dalam sebuah laporan, meskipun inflasi diperkirakan akan naik pada 2021, hal itu tidak akan cukup untuk mengangkat harga emas.

"Ekonom Morgan Stanley memperkirakan inflasi AS akan naik sedikit di atas 2 persen selama dua tahun ke depan. Jadi emas bukan jenis skenario pelarian untuk inflasi yang paling cocok," katanya, mengutip laman Kitco, Senin (22/2/2021).

Lanjutnya, inflasi yang lemah ditambah dengan prospek ekonomi yang membaik, akan terus membebani harga emas

"Momentum harganya buruk, artinya komoditas yang sering turun cenderung terus turun. Dan data ekonomi saat ini, yang membaik, sering kali berarti emas berkinerja buruk di aset lainnya," katanya.

Harga emas tengah "berjuang" untuk naik dengan adanya ekspektasi pertumbuhan ekonomi optimis yang mendorong imbal hasil obligasi lebih tinggi. Imbal hasil obligasi 10 tahun saat ini diperdagangkan pada 1,2 persen, tertinggi dalam periode hampir satu tahun.

Analis mencatat, kenaikan imbal hasil nominal menyebabkan imbal hasil riil juga jadi lebih tinggi. Hal ini meningkatkan biaya peluang emas sebagai aset non-imbal hasil.

Morgan Stanley sendiri optimis akan ekonomi AS karena prediksi adanya kenaikan aktivitas konsumen pada paruh kedua tahun ini.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Ini