Sukses

Indonesia Resesi, Kontraksi Ekonomi Terdalam di Bali, Nusa Tenggara dan Jawa

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia resmi resesi setelah pada kuartal III 2020 kontraksi ekonomi3,49 persen. Catatan ini melengkapi pencapaian di triwulan sebelumnya, dimana ekonomi nasional minus 5,32 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto melaporkan, dari sisi pertumbuhan ekonomi, seluruh pulau mengalami kontraksi dengan kedalaman yang berbeda-beda.

Kontraksi tertinggi terjadi untuk kawasan Bali dan Nusa Tenggara serta Pulau Jawa. Ekonomi di wilayah ini tercatat minus lebih dalam dibanding pertumbuhan ekonomi nasional yang -3,49 persen.

Suhariyanto mengatakan perolehan tersebut cukup ironi. Sebab Pulau Jawa memberikan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) tertinggi, yakni sekitar 58,88 persen. Sementara Bali dan Nusa Tenggara sebesar 2,92 persen.

"Bali dan Nusa Tenggara mengalami kontraksi ekonomi yang paling dalam yaitu sebesar -6,80 persen. Jawa yang sumbangannya paling besar masih mengalami kontraksi -4 persen," jelasnya, Kamis (5/11/2020).

Catatan serupa turut dibukukan Kalimantan. Pulau yang memberikan kontribusi terhadap PDB nasional sebesar 7,70 persen ini ekonominya mengalami kontraksi lebih tinggi dari 3,49 persen, yakni minus 4,23 persen.

Di sisi lain, untuk Sumatera sebagai pulau kontributor terhadap PDB terbesar kedua dengan 21,53 persen, pertumbuhan ekonominya terhitung negatif 2,22 persen. Sedangkan Maluku dan Papua yang memberikan kontribusi terhadap PDB sebesar 2,37 persen perekonomiannya juga -1,83 persen.

"Sementara di Sulawesi masih mengalami kontraksi ekonomi yang paling landai, yaitu sebesar 0,82 persen," tukas Suhariyanto.

2 dari 3 halaman

Indonesia Resesi, Ekonomi Kuartal III-2020 Minus 3,49 Persen

Indonesia masuk resesi. Ini terlihat dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) jika pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen (year on year/yoy).

Dengan data ini, Indonesia tercatat mengalami resesi usai 2 kuartal berturut-turut mengalami pertumbuhan ekonomi negatif. Di mana pada kuartal II-2020 sudah tercatat minus 5,32 persen.

Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, secara kumulatif pertumbuhan ekonomi selama Januari-September tercatat mengalami kontraksi sebesar 2,03 persen dibandingkan semester I tahun lalu.

"Kalau kita bandingkan dengan posisi triwulan ke III tahun 2019 ekonomi Indonesia pada triwulan II pada yoy masih kontraksi sebesar 3,49 persen. Tetapi kalau kita bandingkan dengan triwulan ke II 2020 ekonomi kita positif 5,05 persen. Sementara secara kumulatif kontraksi 2,03 persen," kata dia di Kantor BPS, Jakarta Pusat, Kamis (5/11/2020).

Dia mengatakan, meskipun ekonomi terkontraksi sebesar 3,49 persen di kuartal III-2020, tetapi kontraksinya tidak sedalam kuartal ke II-2020 yang sebesar minus 5,32 persen. Artinya terjadi perbaikan.

"Dan tentunya kita berharap di kuartal IV bisa lebih baik apalagi dengan adanya pelonggaran PSBB," tandas dia.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo atau Jokowi memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di angka minus 3,49 persen pada kuartal III 2020. Artinya, Indonesia akan mengalami resesi setelah pertumbuhan ekonomi terkontraksi minus 5,32 persen di kuartal II 2020.

"Kuartal ketiga ini kita juga mungkin sehari, dua hari ini akan diumumkan oleh BPS (Badan Pusat Statistik), juga masih berada di angka minus. Perkiraan minus 3 naik sedikit," ujar Jokowi saat memimpin sidang kabinet paripurna dari Istana Negara Jakarta, Senin (2/11/2020).

Jokowi mengaku telah meminta Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Panjaitan untuk menjaga laju investasi kuartal III 2020 agar tak minus di bawah 5 persen. Namun, hal tersebut belum terealisasi.

"Ternyata belum bisa. Oleh sebab itu, agar dikejar di kuartal IV-2020 dan kuartal I-2021," ucapnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini: