Sukses

Kinerja Perbankan Syariah Lebih Moncer ketimbang Bank Konvensional

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama BCA Syariah, John Kosasih, mengatakan industri perbankan syariah mampu terus tumbuh positif kendati dihadang pandemi Covid-19. Bahkan, dia menyebut pertumbuhan yang terjadi melampaui industri perbankan konvensional.

"Bahwa memang pertumbuhan perbankan syariah lebih tinggi dari pada perbankan konvensional di tengah pandemi Covid-19," ujar dia dalam webinar bertajuk "Potensi Ekonomi Syariah Pasca Pandemi", Selasa (27/10/2020).

Menurutnya hal ini tercermin dari data OJK pada Juli 2020, dimana saat itu total industri perbankan syariah tumbuh hingga 10 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Sementara pertumbuhan aset industri perbankan konvensional hanya sebesar 5,5 persen secara (yoy).

"Jadi pertumbuhan industri perbankan syariah mampu tumbuh double digit. Dibandingkan bank konvesional yang hanya berkisar 5,5 persen," ucapnya.

Tak hanya itu, pembiayaan bank syariah juga tercatat tumbuh lebih baik hingga sebesar 10,3 persen secara yoy. Sedangkan pembiayaan bank konvesional hanya tumbuh sebanyak 5,5 persen secara yoy.

Serupa, Dana Pihak Ketiga (DPK) di industri perbankan syariah tumbuh hingga 8,8 persen secara yoy di tengah pandemi. Sebaliknya DPK di industri perbankan konvensional tumbuh tipis sebesar 8,5 persen secara yoy.

"Jadi, total pertumbuhan aset, pembiayan, maupun dana pihak ketiga perbankan syariah lebih tinggi dari konvesional. Ini tak leps dari jumlah penduduk Indonesia ybag mayoritas muslim hingga mencapai 87 persen dari total populasi penduduk yang ada," tuturnya.

Merdeka.com

 

2 dari 3 halaman

Wapres Ma’ruf Amin: Merger Bank Syariah BUMN Lengkapi Ekosistem Keuangan Dunia

Wakil Presiden Ma’ruf Amin mendukung penggabungan atau merger tiga bank syariah BUMN. Penggabungan ini akan melengkapi ekosistem syariah dan meningkatkan daya saing lembaga keuangan syariah dalam negeri.

"Dalam rangka melengkapi dan meningkatkan partisipasi Indonesia dalam perekonomian syariah global maka pemerintah saat ini telah memulai proses penggabungan 3 bank syariah yang dimiliki oleh himbara, yaitu Bank Syariah Mandiri, Bank Rakyat Indonesia Syariah dan Bank Negera Indonesia Syariah," ujar dia dalam webinar bertajuk "Potensi Ekonomi Syariah Pasca Pandemi", Selasa (27/10/2020).

Ma'ruf mengatakan, saat ini proses conditional merger agreement (CMA) telah diteken oleh ketiga bank terkait. Sehingga diharapkan bank syariah anyar itu mulai beroperasi pada Februari 2021 mendatang.

"Dengan bergabungnya ketiga bank syariah Himbara tersebut maka bank baru diharapkan akan mampu bersaing secara kompetitif di tingkat global," imbuh dia.

Kemudian terkait upaya melengkapi ekonomi syariah pemerintah berkomitmen untuk memperluas pendirian Bank Wakaf Mikro. "Sehingga akses masyarakat maupun pelaku usaha terhadap lembaga keuangan ultra mikro menjadi lebih mudah," jelas dia.

Tak hanya itu, kata Ma'ruf, pemerintah juga berkomitmen memberikan dukungan lebih besar bagi lembaga keuangan mikro Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) dan koperasi syariah agar terus berkembang kedepannya.

"Lalu, pemerintah akan memperbesar untuk melakukan intervensi melalui LPDB (Lembaga Pengelolaan Dana Bergulir) dalam Kemenkop UKM dan KUR syariah di bank syariah baik untuk UKM atau UMKM," paparnya.

Maka dari itu, dia meminta masyarakat khususnya pelaku UMKM tetap tenang atas kebijakan merger. Sebab rencana penggabungan ketiga bank syariah milik BUMN itu dipastikan tidan menutup akses pembiayaan bagi UMKM.

"Dengan berbagai kebijakan tersebut tidak ada alasan adanya kekhawatiran dari beberapa pihak bahwa rencana merger dari bank syariah akan menutup akses UMKM dalam mendapatkan permodalan. Justru pemerintah sedang menyiapkan ekosistem keuangan lengkap mulai A sampai Z yang mulai usaha paling kecil, mikro, kecil, menengah hingga besar," tutupnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: