Sukses

Raup Laba di Tengah Pandemi, Apa Rahasia Bank Syariah?

Liputan6.com, Jakarta - Industri perbankan syariah mencatatkan kinerja positif di tengah pandemi Covid-19. Namun, sejumlah tantangan harus dijawab pelaku industri perbankan syariah saat ini. Salah satunya, harus terus menggencarkan upaya meningkatkan tingkat inklusi dan literasi keuangan syariah masyarakat.

Ketua Perkumpulan Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Toni EB Subari mengatakan, tantangan bagi pelaku perbankan syariah yakni meningkatkan rasio inklusi dan literasi keuangan syariah masyarakat. Sebab secara konsep, layanan yang ditawarkan perbankan syariah jelas berbeda dengan bank konvensional.

Pria yang juga menjabat sebagai Direktur Utama Bank Mandiri Syariah ini menjelaskan, bisnis perbankan syariah disebutnya sejalan dengan prinsip keuangan berkelanjutan yang mengutamakan pengembangan manusia, alam, serta keuntungan (people, planet, profit). Perbedaan lainnya, setiap laba bersih bank syariah sudah dipotong zakat 2,5 persen.

Menurut Toni, hal tersebut menunjukkan adanya keseimbangan bank syariah dalam menggapai keuntungan serta membawa manfaat bagi masyarakat di tengah pandemi corona.

"Contoh, pada 2019 lalu Mandiri Syariah menyalurkan zakat sebesar Rp 44 miliar dari keuntungan yang diperoleh. Konsep ini menjadi relevan di masa pandemi karena sangat menjunjung keadilan, seimbang, dan membawa maslahat," tuturnya dalam pesan tertulis, Sabtu (26/9/2020).

Pernyataan tersebut diamini Ekonom dan Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) 2015-2020, Fauzi Ichsan. Menurutnya, data-data dan kondisi saat ini menunjukkan bahwa industri perbankan syariah memang memiliki kemampuan bertahan dari segala dampak negatif yang timbul akibat pandemi. 

Dari sisi pembiayaan, perbankan syariah tumbuh lebih pesat dibanding pertumbuhan kredit perbankan umum, dan ini didukung pertumbuhan dana pihak ketiga yang tinggi.

"Dengan keterpurukan sektor finansial global tapi perbankan syariah masih resilient. Bahkan karena perbankan syariah relatif muda usianya di Indonesia, beberapa bank sudah mengembangkan layanan digital lebih baik dan robust daripada bank konvensional," ujar Fauzi.

2 dari 2 halaman

Bank Syariah Mandiri Peroleh Untung Rp 957 Miliar di Agustus 2020

Bank Syariah Mandiri mencatatkan perolehan laba bersih sebesar Rp 957 miliar hingga Agustus 2020 atau naik 26,58 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2019 sebesar Rp 756 miliar.

Direktur Utana Bank Syariah Mandiri Toni E. B Subari menyatakan, perolehan laba yang lebih tinggi ditopang oleh penyaluran kredit serta Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tinggi.

"Kami sampaikan sevara menyeluruh pembiayaan atau kredit, Alhamdulillah masih lebih baik dibanding perbankan konvensional, yang artinya perbankan syariah ini semakin diminati masyarakat," kata Toni dalam workshop daring, Jumat (25/9/2020).

Data Bank Syariah Mandiri mencatatkan nilai pembiayaan mencapai Rp 76,66 triliun atau tumbuh 6,18 persen. Kemudian, dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 99,12 triliun atau tumbuh 13,17 persen yoy.

Kemudian, non performing financing atau NPF (rasio pembiayaan bermasalah) gross juga tercatat turun menjadi 2,51 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 2,78 persen.

Secara industri, perbankan syariah mencatatkan kinerja positif yang lebih tinggi dari perbankan konvensional, mulai dari nilai aset, pembiayaan, hingga DPK.

"Alhamdulillah baik pembiayaan, aset, DPK, relatif baik," katanya.

Hingga Juli 2020, aset perbankan syariah naik 9,88 persen yoy, pembiayaan naik 10,23 persen yoy, dan DPK naik 8,78 persen yoy.