Sukses

Kisah Trias Poetri Bangkit Merenda Rezeki Kerajinan Tangan di Tengah Pandemi

Liputan6.com, Jakarta Wara-wiri di dunia bisnis kerajinan tangan, ternyata bisa membawa Trias Poetri B Sutisnawan berkeliling banyak wilayah di Indonesia dan dunia. Mengenalkan produk bordiran nan indah buatannya.

Trias mengaku bisa menjangkau lebih banyak lagi masyarakat Indonesia yang sudah jatuh cinta dengan hasil karyanya, berkat bantuan dari PT Pertamina.

Pertemuannya dengan BUMN energi ini berawal dari saat dia memandang stand pameran UMKM milik perusahaan negara itu sekitar tahun 2016. Rutinitasnya yang sering wara-wiri ikut pameran UMKM, membawa pada pertemuan dan mimpi menjadi lebih besar.

"Selalu terkesan looksnya sangat megah, rapih dan mempesona. Batin saya, kapan saya bisa ada di sana, bisa jadi mitra binaan Pertamina," kenang Trias kepada Liputan6.com.

Ternyata, angan-angan wanita yang sudah meniti usaha Green Craft&Design sejak 1983 itu terkabul di tahun yang sama.

Trias memulai dengan mendatangi PKBL, mengisi formulir, hingga direspon sangat cepat oleh tim Pertamina. Pasalnya, Trias langsung dihubungi beberapa pekan kemudian.

"Langsung ada kunjungan dari staf Pertamina ke workshop saya di bilangan Bintaro-Tangsel, melihat langsung usaha saya, menilainya, kemudian catatan keuangan saya juga dilihat dan dinilai, akhirnya di tahun itu saya mendapat modal Rp 30 juta untuk mengembangkan usaha saya," tutur Trias semringah.

Pertamina, kemudian membinanya selama 3 tahun, itu berarti hingga 2019. Merasakan manfaatnya, dia kembali mengajukan mitra binaan lagi pada 2019 hingga 2021, kucuran modal pun ditambah, sebesar Rp 70 juta bisa kembali dia olah.

"Usaha saya kan banyak melibatkan perajin bordir di Tasikmalaya, jadi saya tambah lagi mesin bordir di sana, untuk mempercepat produksi saya," tutur Trias.

Hasilnya, berbagai produk kerajinan tangan seperti mukena bordir, perlengkapan muslim lain, aksesoris pernikahan, serta kerajinan tangan lain, sudah melanglangbuana ke setiap penjuru Indonesia. Entah itu melalui pameran yang diikutsertakan Pertamina, ataupun pesanan klien yang terus tidak henti dia terima.

 

2 dari 3 halaman

Kala Pandemi Melanda

Namun ternyata tidak mudah mempertahankan usaha lebih dari 37 tahun, terlebih tri semester pertama 2020, Trias tidak menyangka bila Indonesia langsung dilanda pandemi virus Covid-19.

Segala cara agar tetap mempertahankan keberlangsungan nafkah puluhan karyawan, hingga memanfaatkan kain renda, membuat Trias, mampu tetap bertahan dari keterpurukan ekonomi.

"Pilihannya bertahan. Putar otak, atur lagi strategi, bagaimana caranya masih bisa produksi, menggaji karyawan di tengah pandemi begini," tutur wanita berusia 65 tahun ini.

Trias lantas menceritakan, pesanan Green Craft&Design, sempat tersendat pada awal mula pademi Covid-19 masuk ke Indonesia.

Padahal produksi olahan tangan seperti mukena, perlengkapan Muslim lain, aksesoris pernikahan, serta kerajinan tangan lain, sudah dia siapkan di akhir 2019.

Biasanya akan dia pasarkan untuk pameran, permintaan klien, sampai memenuhi panggilan bazaar keliling Indonesia.

"Tapi nyatanya tidak bisa, hasil produksi di akhir 2019 masih numpuk. Padahal biasanya di awal tahun itu sudah ada panggilan mengisi pameran di mal-mal. Jadi saya cari cara bagaiamana masih bisa laku terjual,"ungkap dia.

Akhirnya, produksi mukena bordir yang sudah dia selesaikan di Tasikmalaya Jawa Barat, Trias jual dengan harga miring. Begitu juga dengan hasil kerajinan lainnya, terpenting baginya, barang terjual dengan keuntungan yang sedikit bisa untuk menggaji karyawannya.

Hingga suatu hari, dia iseng melihat koleksi kain renda yang sebelumnya tidak terpikir olehnya akan dibuat kerajinan dan diminati banyak orang, terutama kaum hawa. Trias, menciptakan masker mulut cantik dengan motif renda harga bersahabat.

"Saya lihat koleksi renda-renda saya, karena kan memang sebelumnya saya suka iseng kemana gitu, beli renda. Akhirnya bisa saya gunakan sekarang, saya pikir bakal jadi pajangan koleksi saja," ungkap dia.

Hingga kini, sudah ribuan masker kain sudah dia produksi dan pasarkan. Membuatnya bisa bertahan, bahkan bangkit dari keterpurukan ekonomi akibat pandemi.

Bahkan, dia pun tengah menikmati menimba ilmu dari kursus singkat tentang UMKM yang Pertamina adakan secara daring atau virtual. Menurutnya, hal tersebut tak dapat dinilai atau digantikan dengan uang.

"Ilmu yang saya dapat itu enggak bisa digantikan dengan uang, tidak bisa dihargai dengan uang. Jadi kalau sudah ada sesi belajar online begitu, saya semangat sekali," katanya.

Dia pun berharap, pandemi Covid-19 ini bisa segera usai. Agar geliat ekonomi, perkembangan usaha UMKM di Indonesia, bisa kembali bangkit. (Pramita Tristiawati)

3 dari 3 halaman

Saksikan video di bawah ini: