Sukses

Sudah Cerai, Miliarder Filantropis Ini Ditodong Rp 3,9 Triliun oleh Istrinya

Liputan6.com, Jakarta Masalah perceraian kadang kerap menghantui sebuah pasangan hingga bertahun-tahun ke depan.
 
Seperti dialami miliarder filantropis Sir Chris Hohn, yang ditagih untuk membayar USD 270 miliar (Rp 3,926 triliun, kurs Rp 14.542 per dollar AS) kepada badan amal milik mantan istrinya.
 
Pengadilan tertinggi Inggris pada Rabu (28/7/2020) kemarin memerintahkan agar badan amal untuk dana investasi anak yang dibawahi Hohn harus menyerahkan uang tersebut kepada badan amal milik istrinya, Big Win Philanthropy.
 
Perselisihan seputar dana amal ini ternyata sudah muncul sejak kedua pasangan resmi bercerai pada 2014.
 
Hohn yang mengelola Children's Investment Fund Foundation (CIFF) ditodong uang USD 337 juta (Rp 4,9 triliun) oleh mantan istrinya Jamie Cooper. Jumlah tersebut merupakan salah satu nilai uang untuk penyelesaian perceraian terbesar yang pernah ada.
 
Adapun CIFF yang didirikan Hohn beserta pasangannya di 2002 merupakan salah satu badan amal terbesar dunia, dengan aset sekitar USD 4 miliar. Lembaga amal itu dibuat untuk membantu anak-anak yang kesulitan di negara berkembang.
 
Perceraian itu membuat kedua pasangan kesulitan untuk mengelola badan amal yang dimiliki bersama.
 
Pasangan tersebut akhirnya sepakat dana USD 270 miliar akan ditransfer kepada badan amal baru milik Cooper, sebagai imbalan atas pengunduran dirinya di CIFF.
 
Kesepakatan itu mewajibkan persetujuan dari jajaran direksi CIFF yang hanya diisi tiga anggota, yakni Hohn, Cooper dan Marko Lehtimaki, salah seorang teman Hohn.
 
Hohn dan Cooper mengundurkan diri dari keputusan itu, dan menyerahkannya kepada Lehtimaki. Pengadilan tertinggi pada Rabu menguatkan putusan sebelumnya bahwa Lehtimaki harus memilih dan mendukung kesepakatan transfer.
 
"Saya sangat bersyukur dengan keputusan Mahkamah Agung. Ini akan memungkinkan Big Win Philanthropy untuk secara signifikan memperluas dukungannya kepada para pemimpin Afrika. Mereka mau meningkatkan kehidupan para anak-anak dan remaja di sana," kata Cooper, seperti dikutip The Guardian, Kamis (30/7/2020).
 
Sementara kuasa hukumnya yakni Matthew Dontzin menggambarkan keputusan tersebut sebagai kemenangan besar.
 
"Ini merupakan kemenangan yang pantas dan telah lama ditunggu Cooper. Dia telah mendedikasikan hidupnya untuk membantu anak-anak kurang mampu di negara berkembang, dan berencana menggunakan uang tersebut untuk melanjutkan misi pentingnya.
 
Di sisi lain, CIFF mengatakan putusan pengadilan tidak berdampak signifikan terhadap pekerjaan lembaga. CIFF menyatakan akan terus meningkatkan kehidupan anak-anak di seluruh dunia.
2 dari 3 halaman

Pasar Modal China Cetak 24 Miliarder Baru hingga Juni 2020

China terus menelurkan para miliarder baru selama masa pandemi Covid-19 ini. Bursa saham di sana memainkan peran penting, lantaran banyak investor ritel yang mencari pengembalian cepat dan menanamkan dananya di pasar modal Tiongkok.

Menurut catatan Bloomberg, China telah melahirkan dua lusin miliarder dari 118 pencatatan perdana saham (Initial public offering/IPO) tahun ini. Mayoritas perusahaan yang melakukan IPO berasal dari sektor kesehatan dan teknologi.

Seperti dilansir Bloomberg, Senin (27/7/2020), setidaknya ada 24 miliarder baru yang terlahir di pasar modal China hingga Juni 2020. Para orang kaya tersebut datang dari bermacam latar belakang, seperti mantan guru, akuntan, hingga pengembang perangkat lunak.

Sebanyak 118 perusahaan telah listing di Bursa Efek Shanghai dan Shenzen tahun ini, dan mengumpulkan USD 20 miliar sampai Juni.

Jumlah tersebut lebih dari dua kali lipat dibanding realisasi paruh pertama 2019. Shanghai kini jadi tempat pencatatan saham nomor 1 dunia, mengalahkan New York dan Hong Kong.

"Covid-19 tak memberikan banyak pengaruh pada kegiatan IPO di China daratan. Penjualan saham di China biasanya langsung melonjak di hari pertamanya," kata Kepala IPO China Terence Ho.

Di bursa efek China, listing baru sering melonjak hingga batas 44 persen pada hari pertama perdagangan.

Para miliarder China angkatan IPO 2020 memiliki kekayaan gabungan USD 70 miliar pada pertengahan Juli. Sebagian besar datang dari industri kesehatan dan teknologi, yang kegiatan bisnisnya menanjak selama pandemi.

"Kita berharap perusahaan dari sektor industri yang tidak terdampak virus corona akan terus mendominasi daftar rencana IPO hingga tahun depan," ungkap John Lee, Vice Chairman and Head of Greater China UBS Global Banking.

UBS Group mencatat, pengusaha China sukses menyalip Rusia di posisi kedua negara dengan kelompok miliarder terbesar dunia pada 2018. Kekayaan mereka naik tiga kali lipat dalam 5 tahun jadi USD 982,40 miliar.

Adapun hasil analisis dari tahun sebelumnya menunjukan, China mencetak dua miliarder baru setiap pekannya dari sektor publik dan swasta pada 2017.

Merujuk data Bloomberg, terdapat 68 miliarder asal China yang masuk dalam daftar 500 orang terkaya dunia pada awal 2017, dengan kekayaan bersih gabungan mencapai USD 849 miliar.

"Kesuksesan IPO merupakan proses dari menambah nilai pada saham perusahaan, sebab investor cenderung memberikan premi untuk aset dengan likuiditas tinggi dan melepas kekayaan tersembunyi para miliarder," jelas Ho.

Negeri Tirai Bambu sendiri telah meningkatkan pergerakan di pasar modal dan membuatnya lebih mudah untuk berdagang saham, termasuk langkah mempercepat IPO. Seperti di Bursa Efek Shanghai, perusahaan rata-rata memakan waktu hanya 288 hari untuk go public, dibandingkan 754 hari di tempat lain di bursa China.

Kepala Konsultasi Manajemen Kekayaan PwC Swizterland Marcel Tschanz menilai, kebijakan tersebut akan membuat daftar miliarder baru terus bertambah, bahkan di tengah kekhawatiran pasar saham yang tengah tertekan.

"Kita berharap kekayaan para miliarder di China terus bertambah. Faktor utama yang mendorong miliarder tumbuh yakni disrupsi pada model bisnis dan pasar domestik yang besar," ujar dia.

3 dari 3 halaman

Tonton Video Ini