Sukses

Per 15 Juli 2020, Total Kapitalisasi Pasar Modal Capai Rp 5.880 Triliun

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) menjabarkan potret pasar modal Indonesia hingga 15 Juli 2020, perusahaan saham tercatat 696 perusahaan, dengan 117 obligasi.

“4 perusahaan lagi kita akan mencapai 700 perusahaan tercatat saham. Obligasi ada 117, total kapitalisasi pasar ada di RP 5.880 triliun,” kata Direktur Penilaian BEI I Gede Nyoman Yetna, dalam webinar, Kamis (16/7/2020).

Lanjut Nyoman, jumlah investor single investor ID (saham, Obligasi, dan Reksadana) sudah mencapai 2,9 juta investor. Dengan Index Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah kembali menyentuh 5.075,79.

“Rata-rata transaksi harian saham itu average transaksinya Rp 7,64 triliun. Dan Perusahaan yang sudah mencatatkan sahamnya, itu ada 32 IPO saham tahun dengan nilai penggalangan dana Rp 3,82 triliun,” katanya.

Bisa dibayangkan kontribusi pasar modal Indonesia sampai Juni, kata Dia sudah bisa memberikan kesempatan pada perusahaan tercatat, mendapatkan angka yang nilainya relatif cukup besar.

“Kalau kita lihat dari perusahaan tercatat kita yang menggalang dana per perusahaannya sekitar Rp 297 miliar. Jadi dari saham itu Rp 3,82 triliun adalah total dari 32 IPO,” ungkapnya.

Selain itu, sampai paruh 2020 di bulan Juni, kata Nyoman sudah ada 40 emisi yang diterbitkan oleh 28 penerbit, di satu penerbit bisa menerbitkan beberapa emisi.

Sedangkan untuk nilai penggalangan dana dari penerbitan surat utang dan sukuk sebesar Rp 33,6 triliun. Karena pendanaan melalui pasar modal sudah sejak dulu menjadi opsi selain sumber pendanaan lain selain perbankan.   

2 dari 4 halaman

19 Perusahaan Antre IPO, BEI Sebut Minat di Semester II 2020 Masih Tinggi

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, hingga data terakhir per 10 Juli 2020, masih ada 19 perusahaan yang berencana melakukan pencatatan saham perdana (Initial Public Offering/IPO) hingga akhir tahun ini.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Nyoman Gede Yetna menilai, kondisi ini berkebalikan dengan pasar modal di negara lain yang minat pencatatan sahamnya surut akibat wabah pandemi Covid-19.

"Tren semester 2 pada tahun 2020 menunjukan masih tingginya minat perusahaan untuk melakukan IPO," kata Nyoman, Kamis (16/7/2020).

Adapun 19 perusahaan yang berencana akan melakukan pencatatan saham di BEI berasal dari beberapa sektor. Sebanyak 9 perusahaan dari sektor trade, service and investment, serta 3 perusahaan dari sektor property, real estat dan building construction.

Lalu, 2 perusahaan dari sektor consumer good industry, 2 perusahaan dari sektor agriculture, dan 3 perusahaan lainnya merupakan perusahaan yang bergerak pada sektor basic industry and chemicals, infrastructure utilities and transportation, serta finance.

Selain itu, saat ini terdapat 30 penerbit yang akan menerbitkan 36 emisi obligasi/sukuk yang berada dalam pipeline di BEI. Sebagai catatan, 1 perusahaan dapat menerbitkaan lebih dari 1 emisi obligasi.

Lebih lanjut, Nyoman membandingkan capaian IPO hingga paruh pertama tahun ini dengan semester 2 2019. Hasilnya, jumlah perusahaan tercatat mengalami peningkatan sebesar 59 persen, dan total nilai penawaran umum mengalami peningkatan sebesar 40 persen.

"Harapan kami tentunya kondisi ke depan akan semakin kondusif, sehingga dapat menambah keyakinan perusahaan untuk dapat menggalang dana melalui pasar modal," pungkasnya. 

3 dari 4 halaman

Minat Perusahaan untuk IPO Tetap Besar di Tengah Pandemi Corona

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan, keberadaan wabah virus corona (Covid-19) pada tahun ini tidak mengecilkan minat perusahaan untuk melakukan penawaran perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) di pasar modal.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, hingga 30 Juni 2020 ada sebanyak 28 emiten yang melakukan pencatatan perdana.

Jumlah tersebut masih jauh lebih banyak dibanding perusahaan yang melantai di pasar saham pada periode sama di 2019, yakni sebanyak 17 perusahaan.

"Pada tahun 2020 ini kami melihat minat perusahaan untuk IPO masih tinggi, khususnya untuk IPO saham dimana untuk jumlah Perusahaan Tercatat baru saham di tahun 2020 per 30 Juni 2020 lebih tinggi bila dibandingkan jumlah perusahaan tercatat baru saham pada tahun sebelumnya," tuturnya, seperti dikutip Selasa (7/7/2020).

Nyoman berharap, dengan adanya beberapa kebijakan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization (SRO) berupa kebijakan potongan 50 persen untuk biaya pencatatan awal saham (ILF), itu dapat membantu dan mendukung perusahaan untuk tetap berencana IPO.

Menurut catatannya, hingga 3 Juli 2020, masih terdapat 21 perusahaan yang datang dari berbagai sektor untuk melakukan pencatatan saham perdana atau IPO di BEI. 

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: