Sukses

5 Jebakan yang Harus Dihindari Jika Ingin Sukses Atur Duit di Umur 20-an

Liputan6.com, Jakarta Banyak generasi milenial yang baru memulai karier, dan membuat keputusan yang dapat merusak kesehatan dan keuangan jangka panjangnya.

Jadi, sebenarnya hal apa saja yang membuat generasi ini berpotensi masuk dalam jebakan keuangan saat berusia 20-an. Simak penjelasannya dilansir dari laman Freemalaysiatoday, Rabu (20/5/2020).

1. Menjadi buta huruf secara finansial

Literasi keuangan dimulai dengan penguasaan enam istilah akuntansi yakni aset, kewajiban, ekuitas, pendapatan, pengeluaran dan arus kas. Hubungan semua itu merupakan kunci menuju kesejahteraan finansial.

Kesejahteraan finansial dapat dinilai dengan menggunakan enam istilah akuntansi in, dan memahaminya membantu dalam membuat keputusan keuangan yang bijak.

2. Utang kartu kredit

Kartu kredit dapat digunakan untuk melakukan pembayaran tanpa uang tunai, mendapatkan diskon dan, yang paling penting, untuk membangun profil kredit.

Profil kredit yang baik memungkinkan akses ke pinjaman bank untuk berinvestasi di real estate, strategi umum untuk mendapatkan kekayaan dan kemandirian finansial.

Namun, beberapa menggunakan kartu kredit untuk menutupi kekurangan karena pengeluaran yang berlebihan. Jika berusia 20-an, namun tidak mampu membayar bentuk utang ini maka jangan coba-coba untuk memiliki kartu kredit.

Suku bunga utang kartu kredit itu tinggi di antara semua kewajiban. Jika Anda memiliki utang kartu kredit, prioritaskan menghapusnya dengan cepat.

Jika utang sangat besar, cari bantuan dari perencana keuangan atau Agensi Konseling dan Pengurusan Kredit.

 

2 dari 3 halaman

3. Membayar lebih untuk mobil

Mobil adalah kebutuhan. Tetapi, jika semua orang memandang mobil mereka semata-mata sebagai kebutuhan, maka akan ada lebih banyak kendaraan memenuhi di jalanan dan menyebabkan masalah baru yakni kemacetan. Namun, itu juga merupakan simbol status yang menentukan kedudukan sosial dan tingkat kemakmuran Anda.

Biaya mobil termasuk uang muka, cicilan, servis dan pemeliharaan, asuransi dan pajak jalan. Ini tidak termasuk biaya seperti bensin, tol dan parkir.

Apakah Anda membelanjakan 30 persen hingga 50 persen dari penghasilan untuk mobil semata? Jika ya, dan Anda merasa mobil itu memakan biaya secara finansial, mungkin sudah saatnya untuk mempertimbangkan kembali untuk memilikinya, atau bisa mencoba menumbuhkan penghasilan.

Jika Anda baru memulai dan membutuhkan mobil, pilihlah mobil bekas atau mobil bekas yang harganya lebih murah. Mengapa? Karena nilai mobil terdepresiasi atau berkurang dari waktu ke waktu.

Kendati begitu, apabila menghabiskan 30 persen hingga 50 persen dari penghasilan untuk mobil, Anda tidak dapat menabung dan berinvestasi untuk masa depan.

4. Membeli properti yang tidak mampu dibeli

Ada dua bagian untuk masalah ini, yakni keterjangkauan dan harga mahal. Seseorang biasanya membayar uang muka 10 persen untuk sebuah properti.

Jika dihargai Rp 1 miliar, maka pembeli diharuskan membayar uang muka sebesar Rp 100 juta. Selain itu, akan ada biaya transaksi lainnya termasuk perjanjian jual beli, perjanjian pinjaman, bea materai untuk perjanjian ini dan laporan penilaian.

Idealnya, pembeli harus menyisihkan uang tunai lebih dari Rp 100 juta untuk membeli properti.

Biasanya properti yang baru dikembangkan dihargai 20 persen hingga 40 persen di atas nilai properti di sekitarnya. Pembeli dijanjikan pembayaran uang muka rendah dan penghematan pada beberapa biaya transaksi.

Namun, pembelian ini didanai dengan pinjaman yang ditandai secara substansial untuk menghindari keharusan membayar uang muka 10 persen.

Kendati begitu, masalah muncul setelah pembeli mendapat kunci properti mereka. Sebagian besar tidak dapat menjual dengan untung karena mereka membutuhkan pembeli yang mau membayar 10 persen uang muka.

Tetapi jika seseorang memiliki uang tunai untuk membeli properti, mengapa membeli satu dengan harga lebih tinggi dari yang semula dibeli dan dengan premi 20 persen hingga 40 persen dibandingkan properti lain di sekitarnya?

Jadi, apa yang terbaik jika Anda berusia 20-an hari ini? Hemat untuk uang muka, yang memungkinkan cukup waktu untuk mempersiapkan diri secara finansial dan emosional untuk menjadi pemilik properti.

 

3 dari 3 halaman

5. Mengejar keuntungan cepat

Dalam perekonomian saat ini, berinvestasi adalah keterampilan hidup yang menentukan ketahanan dan stabilitas finansial jangka panjang Anda.

Meskipun ada kebutuhan untuk berinvestasi, masalah ini sering kali adalah keinginan investor untuk mendapatkan keuntungan cepat tanpa meluangkan waktu untuk mempelajari dan mengelola investasi mereka dengan benar.

Bagaimana jika Anda ingin berinvestasi tetapi Anda tidak tahu harus mulai dari mana? Jangan khawatir Anda bisa belajar secara otodidak melalui membaca buku, internet dan lainnya.

Lalu bagaimana cara memulai keuangan di usia 20-an? Berikut sembilan hal yang dapat Anda lakukan sekarang untuk membangun fondasi kemandirian finansial, yakni:

1. Memahami dasar-dasar laporan keuangan

2. Pelajari cara menyusun rencana keuangan.

3. Hindari utang kartu kredit. Jika sudah, selesaikan sesegera mungkin

4. Gunakan kartu kredit untuk membangun skor kredit

5. Jangan membelanjakan lebih dari 25 persen penghasilan untuk pengeluaran terkait mobil

6. Jangan membeli properti jika tidak mampu membelinya

7. Jangan membeli properti hanya karena mendapatkan uang kembali

8. Jangan mengejar keuntungan cepat dari investasi

9. Pelajari cara berinvestasi, baik itu saham atau real estate.