Sukses

IMF Pangkas Prediksi, Pengusaha Sebut Tanda Ekonomi Melemah Berlanjut

Liputan6.com, Jakarta Dana Moneter Internasional (IMF) kembali menurunkan proyeksi ekonomi global menjadi 3 persen pada tahun ini. Perlambatan ekonomi dunia, perang dagang, hingga faktor geopolitik lainnya masuk menjadi pertimbangan.

Wakil Ketua Kadin Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta Kamdani menilai pengusaha telah membaca tanda-tanda pelemahan ekonomi dunia tersebut. Indikator itu bahkan memang mengkhawatirkan bagi sejumlah negara.

"IMF melakukan revisi karena memang sudah perkiraan yang mereka buat sebelum-sebelumnya sudah kurang realistis untuk dicapai, karena memang kondisi ekonomi global semakin parah," tuturnya kepada Liputan6.com, Rabu (16/10/2019).

Shinta mengungkapkan, negara-negara di kawasan Eropa telah menunjukan pelemahan ekonomi yang signifikan akibat perlambatan ekonomi global.

Belum lagi, hal tersebut diperparah dengan situasi politik dagang yang terus berlangsung antara Amerika Serikat dengan Tiongkok.

"Sejak awal, hampir tiap quarter di tahun ini kita melihat tanda-tanda pelemahan ekonomi yang terus berlanjut. Bahkan semakin turun di berbagai negara ekonomi utama dunia seperti China, Jerman, Perancis, Inggris, AS dan secara global tidak ada sinyal yang kuat bahwa trade war akan berakhir," ujarnya.

Dia melanjutkan, hampir tak satupun fenomena ekonomi global yang terjadi saat ini memberikan sinyal positif terhadap perbaikan ekonomi dunia.

"Kemudian juga Brexit. Intinya tidak ada satu pun fenomena global yang mendukung adanya perbaikan ekonomi global bahkan perkembangan yang terjadi justru lebih menyebabkan kekhawatiran lebih dari perkiraan awal seperti trade war Jepang-Korea, sanksi AS terhadap Turki, dan lainnya," papar dia.

* Dapatkan pulsa gratis senilai Rp10 juta dengan download aplikasi terbaru Liputan6.com mulai 11-31 Oktober 2019 di tautan ini untuk Android dan di sini untuk iOS

2 dari 2 halaman

Meski Melambat, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tak Separah Negara Lain

IMF baru saja merilis laporan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia akan merosot dari 3,5 persen menjadi 3 persen saja. Prediksi ekonomi Indonesia pun ikut turun dari 5,2 persen menjadi 5 persen saja.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Iskandar Simorangkir berkata fenomena ini memang sedang terjadi di berbagai negara akibat dampak perang dagang. Penurunan ekonomi Indonesia juga dinilai tak terlalu parah dibanding negara lain.

"India yang tadinya (pertumbuhan ekonomi) sampai 9 persen, sekarang sama kayak kita 5 persen. Turun jadi 8 persen, sekarang dia 5 persen. Jadi in term of penurunan, kita enggak signifikan," ujar Iskandar pada Rabu (16/10/2019) di Jakarta.

Perlambatan ekonomi global memang membuat ekspor berkurang, tetapi impor pun menurun. Iskandar pun menyebut konsumsi domestik bisa menjadi tameng terhadap perlambatan ekonomi global sehingga pertumbuhan ekonomi tak anjlok ke bawah 5 persen.

"Sepanjang kita bisa mempertahankan domestic demand, kita paling apes skenario terburuk di 5 persen, tapi masih bisa kita mencapai 5,1. Pesimisnya 5.0," jelas Iskandar.

CNBC melaporkan Pemangkasan prediksi pertumbuhan ekonomi global oleh IMF adalah yang terendah sejak krisis finansial satu dekafe lalu. Apabila ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China tidak kunjung reda, maka pertumbuhan ekonomi global bisa makin buruk.

 

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Gandeng BPS, BI Hitung Pertumbuhan Ekonomi Syariah Indonesia
Artikel Selanjutnya
Tak Akan Ekspansi ke Luar, Tokopedia Dukung Pemerataan Ekonomi Daerah