Sukses

Ekonomi Indonesia Hanya 5 Persen, Pengusaha Ogah Ekspansi

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan Roeslani menyebut bahwa para pelaku usaha Tanah Air saat ini tengah menahan diri untuk melakukan perluasan pasar atau ekspansi.

Hal ini ditenggarai pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang selama ini hanya stagnan di 5 persen.

"Tapi memang kita haris realistis karena pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen pengusaha untuk ekspansi masih menahan diri," kata Rosan saat ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (10/10/2019)

Rosan mengatakan salah satu alasan pelaku usaha menahan diri dikarenakan permintaan konsumen memang sedang dalam keadaan tidak begitu bagus. Apalagi ditambah dengan kondosi ekonomi global yang saat ini tengah bergejolak.

"Karena kalau mereka ekspansi demand lagi flat kan agak susah juga jadi dalam hal ini yang harus dilakukan oleh dunia usaha adalah membuat perusahaan menjadi lebih efisien dan baik," jelas dia.

Di sisi lain, Rosan juga meminta kepada pemerintah untuk membenahi beberapa kebijakan terkait dengan perpajakan.

Di tengah terkontraksinya pertumbuhan ekonomi dia berharap pemerintah lebih aktif dan banyak memberikan insentif kepada para pelaku usaha.

"Tentunya yang diharapkan adalah bagi pemerintah adalah ketika ada kontraksi pertumbuhan mestinya banyak melakukan relaksasi kebijakan maupun insentif, ketika perekonomian sedang naik lagi bagus lagi kita akan sangat mengerti ketika diketatkan kembali, dunia usaha naik turun, kebijakan kebijakan yang dikeluarkan seperti tax holiday, tax allowance yang memang kita butuhkan," tandas dia.

 

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

2 dari 3 halaman

Bank Dunia Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Asia Timur dan Pasifik Melambat

Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik melambat dari 6,3 persen pada 2018 menjadi 5,8 persen pada 2019. Perlambatan ini juga akan berlanjut menjadi 5,7 persen pada 2020 dan 5,6 persen pada 2021.

Menurut laporan Weathering Growing Risk (laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi Oktober 2019), melemahnya permintaan global dan meningkatkan tensi perang dagang AS dengan China menyebabkan penurunan ekspor dan pertumbuhan investasi di negara berkembang.

"Ketika perusahaan mencari cara menghindari tarif (impor), akan sulit bagi negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik untuk menggantikan peran Tiongkok dalam rantai produksi global dalam jangka pendek karena infrastruktur yang belum memadai dan skala produksi yang kecil," ujar Andrew Mason, Ekonom Utama Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik dalam telekonferensi dari Bank Dunia Bangkok, Kamis (10/10/2019).

Di Indonesia sendiri, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan melambat dari 5,2 persen pada 2018 menjadi 5,0 persen pada 2019, namun meningkat menjadi 5,1 persen pada 2020 dan 5,2 persen pada 2021.

Sementara, pertumbuhan konsumsi dilaporkan stabil meski lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan di sektor pariwisata, real estate dan ekstraktif juga stabil untuk negara-negara yang lebih kecil di kawasan ini.

Kemudian di beberapa negara, tingkat utang yang tinggi juga turut berpengaruh terhadap kebijakan. Perubahan yang mendadak berdampak pada meningkatnya biaya pinjaman yang akhirnya menekan pertumbuhan kredit dan investasi.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Mau Panjang Umur? Miliki Sahabat Hingga Tua
Artikel Selanjutnya
Bamsoet Berharap Generasi Milenial Tak Alergi Politik