Sukses

Kebutuhan Rumah di Selatan Ibu Kota Bakal Terus Meningkat

Liputan6.com, Jakarta Kebutuhan masyarakat akan hunian diprediksi akan tumbuh tinggi pada semester II 2019 ini. Meski di semester sebelumnya penjualan properti sedikit mengalami perlambatan di tengah berlangsungnya pesta demokrasi seperti Pemilihan Presiden (Pilpres).

Direktur Utama PT Emerald Land Development, Dodi Pramono mengungkapkan, saat ini kebutuhan hunian berkualitas dengan harga terjangkau bagi masyarakat di wilayah selatan Jakarta, seperti Cinere, Depok, Taman Mini, dan Pasar Rebo terbilang masih cukup tinggi.

Selain itu, tidak sedikit pengguna KRL Commuter Line yang beraktivitas di Ibu Kota Jakarta yang mengincar Cibinong, Bogor sebagai lokasi hunian favorit.

“Berdasarkan pengalaman kami sebelumnya, mayoritas pembeli unit-unit hunian pada Emerald Land, adalah yang berasal dari wilayah selatan Jakarta. Daya serap merekaterhadap unit-unit hunian kelas menengah dengan kisaran harga Rp 700 juta-Rp 1,5miliar terbilang masih cukup tinggi,” kata dia di Jakarta, Kamis (1/8/2019).

Melihat potensi tersebut, lanjut Dodi, pihatnya merilis proyek properti terbaru bernama Emerald City. Proyek ini yang berlokasi di jalan Raya Tegar Beriman, Cibinong, Kabuaten Bogor, Jawa Barat,

Dia mengungkapkan, kawasan properti di atas area seluas 11 hektare (ha) tersebut akan dikembangkan dalam tiga tahap pembangunan rumah tapak seluas 9 hektare dan sisanya di rencanakan untuk pembangunan apartemen (hunian bertingkat).

Tahap pertama, akan dibangun hunian premium dua lantai sebanyak 160 unit di area seluas 3 hektare. Untuk mewujudkan kawasan hunian tersebut, Emerald Land Development rmerogoh dana investasi sebesar Rp 50 milar.

"Untuk tahap pertama, kami estimasikan sudah bisa diserahterimakan kepada konsumen dalam waktu 18 bulan," tutup dia.

 

 

2 dari 4 halaman

Pemangkasan Bunga Acuan BI Untungkan Sektor Properti

Keputusan Bank Indonesia (BI) memangkas BI 7-Day Repo Rate dinilai bakal menguntungkan pelaku usaha properti. Pasalnya, ditengah kondisi politik yang makin stabil, penurunan tingkat bunga itu akan mendorong konsumsi masyarakat terus meningkat, termasuk pasar properti.

Persepsi investor terhadap aset investasi juga terus menguat sejak berakhirnya hajatan politik 17 April silam. Ini ditandai dengan menurunnya Credit Default Swap (CDS) 5 tahun dari semula 137,452 di akhir 2018 menjadi 86,245 akhir pekan lalu.

Kepala Riset PT Koneksi Kapital, Marolop Alfred Nainggolan melihat sektor properti akan sangat diuntungkan dengan penurunan suku bunga acuan BI. Apalagi kebutuhan rumah di berbagai segmen pasar masih cukup besar.

"Membaiknya iklim investasi, khususnya pasca Pemilu dan adanya keberlanjutan pemerintahan Jokowi akan menjadi sentimen positif untuk pelaku usaha. Sektor properti akan kembali semarak di semester II ini," ujarnya di Jakarta, Selasa (23/7/2019).

Marolop menilai fundamental sejumlah emiten properti seperti Agung Podomoro Land (APLN), Bumi Serpong Damai (BSDE) dan Ciputra (CTRA) bakal semakin solid. Beberapa proyek properti APLN seperti di Bandung, Batam, Balikpapan dan juga Cimanggis, Depok diperkirakan bakal menjadi target konsumen.

"Proyek-proyek properti milik APLN memiliki segmen konsumen yang kuat. Ini yang mendorong pertumbuhan bisnis perusahaan semakin tinggi," kata dia.

Terkait penurunan rating surat utang APLN oleh moodys dan fitch rating, Marolop meyakini perusahaan memiliki jalan keluar. Sebagai grup usaha properti besar dengan aset yang bagus, APLN memiliki banyak ruang untuk menyelesaikan tantangannya. Apalagi situasi ini juga dihadapi oleh banyak pelaku usaha properti lainnya.

"APLN ini memiliki aset-aset properti yang strategis, yang memudahkan untuk mencari pendanaan di pasar baik dengan penjaminan aset atau bisa juga sekuritisasi. Apalagi Perusahaan juga didukung bisnis recurring income dengan segmen premium yg sangat positif buat pendanaan dan bisnis jangka panjang APLN," jelasnya.

3 dari 4 halaman

BI Turunkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,75 Persen

Sebelumnya, Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan Juli 2019 Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan Bank Indonesia (BI) 7-day Reverse Repo Rate atau suku bunga acuan 25 basis poin (bps) pada angka 5,75 persen.

BI juga menahan suku bunga Deposit Facility pada angka 5 persen dan Lending Facility 6,5 persen.

"Rapat Dewan Gubernur BI pada 17-18 Juli 2019 memutuskan untuk menurunkan BI 7-day repo" ujar Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, di Kantor BI, Jakarta, pada Kamis 18 Juli 2019. 

Penurunan suku bunga menurutnya dilakukan sejalan dengan kondisi perekonomian global yang melambat. 

"Kebijakan ini sejalan dengan tetap rendahnya perkiraan inflasi kedepan dan perlunya mendorong momentum pertumbuhan ekonomi ditengah pasar keuangan global yang menurun dan stabilitas ekonomi Indonesia yang terkendali," ujarnya.   

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
LRT Jabodebek Uji Coba, Minat Membeli Hunian di Cipayung Naik
Artikel Selanjutnya
Pasar Properti di Tangerang Mulai Menggeliat