Sukses

Permintaan Kacamata Naik 30 Persen Saat Libur Lebaran

Liputan6.com, Jakarta Mendekati Lebaran, nampaknya menimbulkan berkah bagi sejumlah pelaku industri, seprti salah satunya produsen kaca mata. Permintaan kacamata diperkirakan mengalami peningkatan permintaan hingga 30 persen saat libur Lebaran nanti.

Direktur PT Atalla Indonesia Wenjoko Sidharta mengatakan peningkatan permintaan terhadap produk kacamata biasanya mulai terjadi sebelum memasuki Ramadan. Biasanya, para pedagang kaki lima mulai memesan kacamata untuk dijual saat libur lebaran.

"Paling kenceng (permintaan) itu sebelum puasa dan pas puasa ini. Kita jualan ke pedagang‎. Mereka beli pas puasa, dijualnya saat libur Lebaran di tempat-tempat wisata seperti di Ancol," ujar dia di Tangerang, Banten, Rabu (15/5/2019).

Menurut dia, saat libur Lebaran, permintaan akan produk kacamata meningkat hingga 30 persen. Peningkatan paling tinggi khususnya terjadi untuk jenis sunglasses.

"Biasanya sunglasses. Peningkatannya bisa 20-30 persen," kata dia.

Selain libur Lebaran, permintaan kacamata juga akan melonjak saat libur Natal dan Tahun Baru. Pada periode tersebut, permintaannya bisa melonjak lebih tinggi lagi.

"Biasanya juga libur Natal dan Tahun Baru. Itu mulai kenceng (permintaan) di November atau awal Desember," tandas dia.

2 dari 4 halaman

Kacamata Lokal Kalah Saing dengan Produk KW Asal China

Produk kacamata asal China menguasai 90 persen pangsa pasar di Indonesia. Akibatnya, produsen kacamata dalam negeri harus berjuang keras untuk bisa bertahan dari serbuan produk impor.

Direktur PT Atalla Indonesia, Wenjoko Sidharta mengatakan, salah satu sebab produk impor mampu menguasai pasar dalam negeri lantaran produk kacamata tersebut merupakan barang imitasi atau yang biasa disebut KW. Hal ini membuat produk impor tersebut laris manis di pasaran meski kualitasnya rendah.

"Dari 90 persen, 80 persennya itu produk KW. Misalnya Oakley, Gucci, Police. Masa kacamata Gucci harganya Rp 20 ribu-Rp 30 ribu. Enggak masuk akal. Tetapi masalahnya pemegang mereknya malah tidak komplain," ujar dia di Tangerang, Banten, Rabu (15/5/2019).

Joko mengungkapkan, meski harga jual kacamata produksi dalam negeri terhitung lebih murah, tapi tetap saja konsumen lebih memilih membeli kacamata KW dengan merek yang sudah terkenal.

"Misalnya kita jual dengan merek kita Rp 7.000, kemudian merek KW Rp 10 ribu. Orang akan pilih yang KW. Tapi kalau misalnya sama-sama pakai house brand masing-masing kita pasti menang. Cuma kita kan enggak mau pakai merek KW," kata dia.

 

3 dari 4 halaman

Harapan Pelaku Industri

Oleh sebab itu, lanjut dia, Joko berharap pemerintah memiliki solusi untuk menekan banjirnya impor kacamata. Jika tidak, industri kacamata dalam negeri akan sulit untuk berkembang.

"Kita tidak minta apa-apa, tapi tolong ini disetarakan.‎ Kita kalah dengan produk KW dan tidak ada satu pun yang bisa lakukan sesuatu," tandas dia.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Loading
Artikel Selanjutnya
Cerita Operator PLTA Lamajan, Rela Bekerja Saat Lebaran
Artikel Selanjutnya
Arus Mudik Lebaran, 2 Juta Kendaraan Bakal Penuhi Tol Tangerang - Merak