Sukses

Kesepakatan Brexit Beri Tenaga ke Rupiah

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Selasa ini. Pergerakan pasar uang dunia pada hari ini akan sangat fluktuatif, terutama mata uang pound sterling terhadap dolar AS.

Mengutip Bloomberg, Selasa (12/3/2019), rupiah dibuka di angka 14.253 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.291 per dolar AS. Menjelang siang, rupiah terus menguat ke 14.242 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.241 per dolar AS hingga 14.291 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah masih menguat 1,03 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.251 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan patokan sehari sebelumnya yang ada di angka 14.324 per dolar AS.

Analis Monex Investindo Futures Dini Nurhadi Yasyi di Jakarta, Selasa, mengatakan dolar AS terkoreksi disebabkan penguatan pound sterling seiring meningkatnya harapan pasar akan tercapainya kesepakatan terkait Brexit.

"Memang kemarin May dan presiden komisi Eropa bilang mereka sudah ada kesepakatan. Jadi istilahnya pasar sudah berekspektasi tinggi terhadap kesepakatan Brexit," ujar Dini.

Menurut dia, pergerakan pasar uang hari ini akan sangat fluktuatif, terutama mata uang pound sterling terhadap dolar AS.

"Pergerakan pasar keuangan diperkirakan bakal sangat volatile tinggi hari ini, dari pergerakan GBP-USD khususnya yang akan berpengaruh ke dolar. Kekuatan dolar pasti berpengaruh ke rupiah," kata Dini.

2 dari 3 halaman

BI Nilai Rupiah Masih Terlalu Murah

Sebelumnya, Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) ke depannya masih berpotensi untuk terus menguat.

"Nilai tukar rupiah ke depan akan bergerak stabil dan rupiah saat ini masih undervalued," kata Perry saat ditemui di Mesjid BI, Jakarta, Jumat 22 Februari 2019.

Perry mengungkapkan ada 4 faktor yang akan menjadi pendorong stabilitas rupiah di tahun ini. 

"Jadi ke depan stabilitas rupiahakan didukung oleh 4 hal, yakni masuknya aliran modal asing tambah suplai valas (valuta asing) dalam negeri ,kedua fundamental ekonomi lebih baik dari sisi pertumbuhan,inflasi rendah dan CAD yang juga menurun," ujarnya.

Selain itu, kenaikkan suku bunga AS atau FFR yang dilakukan oleh The Fed tidak akan seagresif tahun lalu. Hal itu membuat posisi Rupiah semakin aman di pasar.

"Tentu saja ketiga FFR yang kan lebih rendah semula 3 kali, kemudian diturunkan 2 kali dan diperkirakan tahun ini hanya naik 1 kali FFR," jelasnya.

Terakhir adalah mekanisme pasar yang dinilai semakin membaik.

"Keempat mekanisme pasar yang terus semakin baik, baik di swap, dan DNDF (Domestic Non Deliverable Forward)," tutupnya.

 
3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Keputusan Bank Sentral Eropa Tekan Nilai Tukar Rupiah
Artikel Selanjutnya
Rupiah Merosot Imbas Kebijakan Bank Sentral Eropa