Sukses

CEO Perempuan Lebih Gampang Dipecat Ketimbang Pria?

Liputan6.com, New York - Studi menemukan nasib CEO perempuan jauh lebih volatile ketimbang para CEO laki-laki. Persentasenya pun tinggi, yakni 45 persen.

Dilansir dari The Ladders, hasil itu muncul dalam studi yang diterbitkan Journal. Management Studi itu mengobservasi pemecatan 641 CEO antara tahun 2000 dan 2014.

Yang diteliti adalah terminasi CEO berusia lebih muda dari 60 tahun yang bukan akibat isu kesehatan atau karena menerima pekerjaan lain.

Apabila perusahaan sedang dalam keadaan buruk, CEO laki-laki atau perempuan memiliki peluang pemecatan yang sama. Namun, jika perusahaan sedang sehat, CEO perempuan lebih sering kena pecat.

Jumlah perusahaan Fortune 500 yang dipimpin perempuan juga kurang dari 5 persen, yakni 25 orang. Di antaranya adalah Mary Barra (General Motors), Ginni Rometty (IBM), Indra Nooyi (PepsiCo) Safra A. Catz (Oracle Corporation). Jumlah ini akan berkurang ketika Nooyi pensiun tahun ini.

Tak semua kabar buruk terhadap nasib CEO perempuan. Pada 2018 lalu, ada 175 perempuan yang menggantikan CEO laki-laki. Secara keseluruhan, CEO perempuan juga bertambah drastis: total 264 perempuan diangkat menjadi pemimpin perusahaan.

lebih lanjut, mengutip NBC, laporan Woman CEO dari firma outplacement (perampingan perusahaan) Challenger, Gray & Christmas, pertumbuhan CEO perempuan naik 4 persen di tahun 2018 menjadi 22 persen dari 18 persen pada tahun sebelumnya.

Wakil presiden firma tersebut, Andrew Challenger, menyebut gerakan #MeToo yang menguak pelecehan di tempat kerja memberi kontribusi pada pertumbuhan jumlah CEO perempuan.

"Saya pikir gerakan #MeToo membawa perhatikan pada isu kecilnya CEO perempuan," jelasnya.

2 dari 2 halaman

Bergabung di Pepsi 24 Tahun, Nooyi Mengundurkan Diri

CEO PepsiCo Indra Nooyi, salah satu tokoh perempuan yang paling menonjol hingga memimpin salah satu perusahaan masuk Fortune 500 akan mengundurkan diri pada 3 Oktober 2018.

Indra Nooyi akan tetap jadi ketua dewan direksi hingga awal 2019. Nooyi akan digantikan oleh Chief Global Operations Ramon Laguarta. Perempuan kelahiran India ini merupakan segelintir tokoh yang memimpin perusahaan Fortune 500.

Dia membantu mengubah Pepsi menjadi salah satu perusahaan makanan dan minuman paling sukses di dunia. Penjualan tumbuh 80 persen selama 12 tahun Nooyi menjabat. Dia mempelopori Pepsi menjadi perusahaan lebih ramah lingkungan. Ia bergabung di Pepsi selama 24 tahun.  

Sebelum menjadi CEO, ia memimpin ekspansi perusahaan melalui akuisisi termasuk pembelian Quaker Oats pada 2001. Ia hasilkan USD 31 juta pada tahun lalu. Selanjutnya selama tiga tahun terakhir hasilkan USD 87 juta.

"Tumbuh di India, saya tidak pernah bayangkan akan memiliki kesempatan untuk memimpin perusahaan yang luar biasa seperti itu," ujar dia, seperti dikutip dari laman CNN Money.

Nooyi tumbuh di sebuah keluarga kelas menengah di India. Ia dan saudaranya masih muda ditantang oleh ibunya di meja makan setiap malam untuk berikan pidato apa yang akan mereka lalukan jika mereka adalah perdana menteri dan pemimpin dunia lain. Setelah pidato, ibu mereka akan memilih.

Pengunduran dirinya membuat jajaran perempuan yang memimpin perusahaan Fortune 500 hanya 24 perempuan setelah Beth Ford menjadi CEO Land O’Lakes pada pekan lalu. Hanya lebih dari setahun lalu, ada 32 perempuan yang memimpin perusahana Fortune 500.

Sejak pertengahan tahun lalu, beberapa CEO perempuan mengumumkan pengunduran diri termasuk Marissa Mayer di Yahoo, Irene Rosenfeld di Mondelez, dan Meg Whitman dari Hewlett Packard Enterprise (HPE).

12 tahun sebagai CEO, perjalanan karier Nooyi cukup panjang menurut standar pekerjaan. Sebuah studi Equillar menemukan kalau masa kerja rata-rata seorang CEO di perusahaan besar hanya lima tahun.

Nooyi pun memuji Laguarta yang merupakan penggantinya. Ia menyebutkan penggantinya sebagai orang tepat untuk membangun PepsiCo. Bahkan analis juga menyambut positif setelah pengumuman perseroan.

"Kami memiliki hak istimewa untuk mengenal Nooyi selama lebih dari satu dekade dan telah sangat terkesan dengan ketajaman pemimpinannya dan pendekatan yang sangat bijaksana untuk mengelola PepsiCo melalui tantangan terutama barang konsumsi," ujar Analis Senior Wells Fargo, Bonnie Herzog.

"Nooyi telah menjadi CEO yang patut dicontoh dan menetapkan standar tinggi," kata dia.

Namun, saham Pepsi saling  mengejar dengan Coke dan telah membuntuti saingan Coca-Cola. Saham turun 1,8 persen pada 2018 dibandingkan kenaikan hampir tujuh persen pada indeks S&P 500.

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Studi: Butuh 4 Hari untuk Lupakan Urusan Kerja saat Cuti
Artikel Selanjutnya
5 Cara Cerdas Menggali Potensi Diri dalam Karier