Sukses

Neraca Dagang RI Surplus USD 227 Juta, IHSG Naik 10,94 Poin

Liputan6.com, Jakarta - Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu menguat di tengah rilis neraca perdagangan yang surplus USD 227 juta pada September 2018.

Pada penutupan sesi pertama perdagangan saham, Senin (15/10/2018), IHSG menguat 10,94 poin atau 0,19 persen ke posisi 5.767,43. Indeks saham LQ45 mendaki 0,65 persen ke posisi 908,67. Sebagian besar indeks saham acuan kompak menguat.

Sebanyak 128 saham menguat sehingga mengangkat IHSG. 226 saham melemah dan menahan penguatan IHSG. 123 saham diam di tempat. Pada sesi pertama, IHSG sempat berada di posisi 5.816,04 dan terendah 5.735,05.

Transaksi perdagangan saham cukup ramai. Total frekuensi perdagangan saham 214.234 kali dengan volume perdagangan 5,2 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 3,2 triliun.

Investor asing beli saham Rp 161,24 miliar di pasar regular. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di posisi Rp 15.229.

Sebagian besar sektor saham tertekan. Sektor saham industri dasar merosot 1,97 persen, dan catatkan penurunan terbesar. Disusul sektor saham tambang melemah 0,75 persen dan sektor saham pertanian turun 0,38 persen.

Sektor saham keuangan menguat 1,07 persen, dan bukukan penguatan terbesar. Disusul sektor saham barang konsumsi mendaki 0,48 persen dan sektor saham aneka industri menguat 0,23 persen.

Saham-saham yang menguat antara lain saham SURE mendaki 24,84 persen ke posisi Rp 980 per saham, saham SKRN mendaki 21,37 persen ke posisi Rp 1.590 per saham, dan saham SMCB mendaki 19,11 persen ke posisi Rp 1.870 per saham.

Sedangkan saham-saham yang tertekan antara lain saham ASJT melemah 15,31 persen ke posisi Rp 332 per saham, saham AKPI merosot 13,98 persen ke posisi Rp 800 per saham, dan saham BSIM susut 12,80 persen ke posisi Rp 545 per saham.

Bursa saham Asia pun bervariasi. Indeks saham Hong Kong Hang Seng melemah 1,21 persen, indeks saham Jepang Nikkei tergelincir 1,80 persen dan catatkan penurunan terbesar. Disusul indeks saham Taiwan melemah 1,44 persen, indeks saham Shanghai merosot 0,66 persen dan indeks saham Singapura tergelincir 0,58 persen.

VP PT Sales and Distribution PT Ashmore Assets Management Indonesia, Angganata Sebastian, menuturkan pelaku pasar merespons positif neraca dagang September 2018 yang surplus USD 227 juta. Hal itu berdampak positif untuk IHSG.

"Tadi ketika ekspor cuma naik 1,7 persen, market reaksi negatif. Tapi ternyata impor turun lebih banyak sehingga perdagangan surplus langsung market bounce. Rupiah ada sedikit menguat ketika data keluar," ujar Angganata saat dihubungi Liputan6.com.

 

 

* Update Terkini Asian Para Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru di Sini.

 

 

2 dari 2 halaman

RI Alami Surplus pada September 2018

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indonesia mencatatkan neraca perdagangan surplus USD 227 juta pada September 2018 dibandingkan neraca perdagangan bulan sebelumnya.

Angka ini disumbang oleh ekspor sebesar USD 14,83 miliar dan impor sebesar USD 14,60 miliar. Hal itu disampaikan Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Yunita Rusanti.

"Neraca perdagangan September Surplus USD 0,23 miliar atau USD 227 juta. Migas defisit dan nonmigas surplus. Jadi kalau migas September defisit USD 1,070 juta sedangkan nonmigas surplus USD 1.297,4 juta," ujarnya di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin 15 Oktober 2018.

Sementara kondisi Januari hingga September 2018 total defisit 2018 sebesar US 3,78 miliar. Untuk migas, defisit USD 9,375 juta baik minyak mentah maupun hasil minyak defisit sementara gassurplus. Sedangkan, nonmigas surplus USD 5.593,6 juta untuk periode Januari hingga September 2018.

"Yang pernah mengalami defisit pada Januari hingga September itu tahun 2014 sebesar USD 1,67 miliar USD dan 2013 sebesar USD 1,30 miliar," kata Yunita. 

Negara yang mengalami surplus neraca perdagangan tertinggi pada September adalah India dan AS. Total surplus Januari hingga September dari India USD 6.437 juta, untuk September sendiri sebesar USD 895 juta. Sedangkan ke AS Januari hingga September 2018 itu surplus USD 6.341 juta. 

"Memang kalau dibanding 2017 yang ke AS surplus nya mengalami penurunan. Kalau 2017 surplusnya tinggi yaitu USD 7.166 juta. Selanjutnya, yang lain yang surplus itu ke Belanda sebesar USD 2.030 juta. Naik dari 2017 yang sebesar USD 2.313 juta," ujar dia.

Yunita melanjutkan, defisit perdagangan terbesar terjadi dengan Tiongkok, yang dalam periode Januari hingga September 2018 defisit sebesar 13.964 juta USD. Untuk, Thailand Indonesia juga defisit USD 3,816 juta, Australia defisit USD 2.119 juta. "Kalau ke Australia defisitnya mengecil, tapi Thailand dan Tiongkok membesar," kata dia. 

 

Saksikan video pilihan di bawah ini: