Sukses

Rogoh Kocek Rp 74,89 M, Kino Beli Saham Morinaga Co Ltd di MKI

Liputan6.com, Jakarta - PT Kino Indonesia Tbk (KINO) perusahaan bergerak di industri dan perdagangan akan membeli saham seluruh saham Morinaga and Co Ltd pada PT Morinaga Kino Indonesia.

Mengutip keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), seperti ditulis Kamis (11/10/2018), aksi tersebut telah dilakukan dengan menandatangani conditional share sale and purchase agreement pada 9 Oktober 2018. Pihak yang bertransaksi antara lain PT Kino Indonesia Tbk dan Morinaga and Co Ltd.

Dalam transaksi itu, PT Kino Indonesia Tbk akan membeli seluruh saham milik Morinaga and Co Ltd pada PT Morinaga Kino Indonesia (MKI). Nilai transaksinya mencapai Rp 74,89 miliar.

Sumber dana yang digunakan untuk beli saham tersebut berasal dari kombinasi sisa dana hasil penawaran saham perdana yang telah dialokasikan untuk keperluan akuisisi dank as internal.

"Tujuan transaksi ini untuk menjadi pihak pengendali pada PT Morinaga Kino Indonesia," ujar Direktur PT Kino Indonesia Tbk, Budi Muljono.

Dalam keterbukaan informasi itu disebutkan, transaksi pembelian saham ini diharapkan akan memberikan keuntungan bagi PT Kino Indonesia Tbk. Hal ini seiring dengan prospek pertumbuhan industri makanan yang menjanjikan.

Adapun transaksi pembelian saham ini bukan merupakan transaksi afiliasi dan benturan kepentingan transaksi tertentu. Ini diatur dalam Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Nomor KEP-412/BL/2009 pada 25 November 2009 tentang transaksi afiliasi dan benturan kepentingan transaksi tertentu.

Selain itu beserta Peraturan IX.E.I yang merupakan lampirannya, disebutkan kalau Morinaga and Co Ltd bukan merupakan afiliasi dari PT Kino Indonesia Tbk.

"Nilai transaksi pembelian saham ini juga tidak termasuk transaksi material dan perubahan kegiatan usaha utama. Ini sebagaimana dimaksud dalam KEP-614/BL/2011 pada 28 November 2011 tentang transaksi material dan perubahan kegiatan usaha utama beserta peraturan IX.E2. karena nilai transaksi tidak capai 20 persen dari ekuitas PT Kino Indonesia Tbk," ujar dia.

 

 

* Update Terkini Asian Para Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru di Sini.

 

2 dari 2 halaman

IHSG Tertekan, Ada Apa?

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) alami koreksi tajam pada perdagangan saham Kamis pekan ini. Sentimen eksternal terutama bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street yang tertekan  membuat IHSG kena imbasnya.

Pada penutupan sesi pertama, Kamis 11 Oktober 2018,  IHSG merosot  106,17 poin atau 1,82 persen ke posisi 5.714,49. IHSG sempat tergelincir 2,2 persen ke posisi 5.689.

VP Sales and Marketing PT Ashmore Assets Management Indonesia, Angganata Sebastian, menilai IHSG koreksi terkena imbas penurunan wall street. Pada penutupan perdagangan saham Rabu (Kamis pagi WIB), indeks saham Dow Jones melemah 831,83 poin atau 3,15 persen ke posisi 25.598,74.

Sedangkan dari sentimen internal, Angganata menilai belum terlalu pengaruhi IHSG. Pelaku pasar masih menunggu data neraca perdagangan pada 15 Oktober 2018. Angganata menuturkan, tekanan terhadap IHSG hanya jangka pendek.

Akan tetapi, penurunan IHSG tak sedalam indeks saham lainnya di Asia. Indeks saham Taiwan turun 6,25 persen, dan catatkan penurunan terbesar. Kemudian indeks saham Shanghai tergelincir 4,75 persen dan indeks saham Jepang Nikkei merosot 4,09 persen.

"Kalau saya lihat pasar global semalam pasar Amerika Serikat turun 3,3 persen. Jadi kita kena imbasnya. Penurunan kita tidak separah emerging market lainnya mungkin karena investor asing sudah tidak banyak," ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

Hal senada dikatakan Head od Equity Capital Markets PT Samuel International, Harry Su. IHSG merosot didorong bursa saham Amerika Serikat yang tertekan. Bahkan Harry prediksi, IHSG masih akan bergejolak hingga semester I 2019.

Angganata mengatakan, gejolak IHSG masih dipengaruhi perang dagang dan kebijakan moneter the Federal Reserve (the Fed).  "Kalau domestik dari data defisit perdagangan," tutur dia.

Meski IHSG tertekan dalam, Angganata menilai investasi saham masih menarik. Apalagi dengan valuasi saham murah, pelaku pasar dapat memanfaatkan momen itu untuk masuk. Selain itu, harapan pertumbuhan laba emiten pada 2018 masih positif. "Mengambil posisi saat ini karena valuasi murah," ujar dia.

Adapun sektor saham pilihan yang dapat dicermati investor, Angganata memilih sektor saham perkebunan. Ini karena ada proyek biodiesel 20 persen dari pemerintah. Selain itu, saham semen karena potensi biaya produksi dan harga batu bara yang turun. "Sektor telekomunikasi juga diuntungkan dengan berkembangnya e-commerce," kata dia.

 

 Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Artikel Selanjutnya
IHSG Berakhir Memerah, Rupiah di Posisi 15.305 per Dolar AS
Artikel Selanjutnya
IHSG Terjungkal dari Posisi 5.800, Ada Apa?