Sukses

Mengenal Sosok Mathieu Flamini yang Sukses di Lapangan Hijau dan Jago Bisnis

Liputan6.com, Jakarta - Namanya Mathieu Flamini. Walaupun tidak memperkuat tim nasional Prancis dalam Piala Dunia 2018, ia termasuk dalam daftar pemain sepak bola dengan kekayaan berlimpah. Flamini sukses dalam sepak bola, pun bisnisnya. Ia memiliki hidup yang nyaris seimbang.

Jauh dari gembar-gembor dan kehidupan mewah, Mathieu Flamini menampakkan kesan humble sebagai pesepak bola. Padahal dia pemain terkaya di dunia saat ini.

Pemilik tinggi badan 178 cm ini, mengawali karier sepak bola saat bergabung bersama Marseille pada tahun 2003. Setahun kemudian, Flamini meneken kontraknya bersama tim liga Inggris, Arsenal.

Sepanjang masa kariernya bersama Arsenal hingga 2008, Flamini menorehkan 7 gol dari 102 penampilan.

 

1 dari 4 halaman

Investasi di Bisnis Levulinic Acid (LA)

Menurut data Forbes, kekayaan eks-pemain AC Milan yang kini berseragam Getafe itu kini bernilai sekitar Rp 206,3 triliun. Angka tersebut jauh di atas Cristiano Ronaldo yang kekayaannya senilai Rp 8,4 triliun, Lionel Messi Rp 3,1 triliun, dan David Beckham Rp 6,7 triliun.

Lelaki kelahiran Marseille, Perancis pada 7 Maret 1984 ini, dinobatkan sebagai pesebak bola terkaya di dunia versi Forbes. Majalah Forbes menilai ia memiliki aset tertinggi di dunia. Pesepak bola terkaya dinilai bukan berdasarkan gaji dan sponsor belaka, tetapi juga termasuk usaha yang dimiliki pemain tersebut.

Kekayaan gelandang bertahan untuk Getafe dan Prancis ini tentunya bukan hanya dari hasilnya bermain sepak bola. Rupanya, ia memiliki berbagai bidang usaha di samping pekerjaannya tersebut.

Mantan pemain Arsenal dan rekan bisnisnya, Pasquale Granata, membangun GF Biochemiclas sejak 2008. Saat ia bergabung di klub sepakbola AC Milan. GF merupakan gabungan inisial keduanya, Granata dan Flamini.

Usahanya tersebut bergerak pada bidang energi alternatif, yakni bisnis biokimia bernama GF Biochemicals. GF Biochemicals merupakan perusahaan pertama di dunia yang memproduksi Levulinic Acid (LA) atau asam levulinik secara massal.

Selain digunakan sebagai pengganti bahan bakar minyak bumi, Levulinic Acid juga dimanfaatkan dalam industri kimia, kosmetik, bahan baku plastik, industri makanan, dan banyak lagi.

Departemen Energi Amerika Serikat menyatakan Levulinic Acid dapat diproduksi dari gula melalui konversi biologi atau kimia dan kemudian dapat dikonversi menjadi bahan kimia berbasis biologis yang bernilai tinggi.

Menurut Flamini, tantangan utama yang harus diatasi perusahaannya adalah menurunkan biaya produksi dan memecahkan masalah produksi yang berkelanjutan.

Sekarang GFB telah mulai memproduksinya dalam skala industri. Ia mengatakan GFB adalah perusahaan pertama yang telah memecahkan tantangan ini, dan pada 2017 lalu mereka dapat membuat sekitar 10.000 ton per tahun.

2 dari 4 halaman

Investasi Jutaan Euro

Demi mengembangkan bisnis tersebut, ia menginvestasikan jutaan Euro untuk biaya penelitian, uji coba, pembangunan pabrik, dan gaji karyawan.

Ditambah lagi, perusahaan tersebut adalah perusahaan pertama di dunia yang memproduksi Levulinic Acid (LA), bahan kimia pengganti bahan bakar minyak bumi untuk skala industri. Selain itu, LA juga dapat digunakan dalam industri kimia, kosmetik, bahan baku plastik, industri makanan, dan sebagainya.

Kini, perusahaan tersebut telah membuka kantor di Milan, Gellen (Belanda), dan Amerika Serikat. Pada 2015, ia mengatakan perusahaannya bisa bernilai sekitar Rp 20 miliar poundsterling atau sekitar Rp 389 triliun.

Saat ini, Flamini dan Granata memiliki 80 orang karyawan di pabrik dan sekitar 400 karyawan di tempat lain. Itu belum termasuk para peneliti, ahli kimia, dan ilmuwan-ilmuwan lain dari lima negara Eropa, serta Mesir.

Bisnis ini berdampak positif bagi Italia karena masyarakat di sana, terutama orang muda, sedang sulit mendapatkan pekerjaan.

3 dari 4 halaman

Arsene Wenger adalah Inspirasi

Flamini mengungkapkan bahwa dirinya berinvestasi dalam suatu bisnis rahasia yang diharapkan akan menciptakan sebuah perusahaan biotek yang bisa memiliki nilai potensial 20 miliar poundsterling di pasar energi.

Ia menjelaskan dirinya membuat perusahaan bukan karena ingin menghasilkan uang. Lebih dari itu, motivasi utamanya adalah seorang figur harus punya dampak positif yang ditimbulkan bagi lingkungan. Lelaki tampan ini memang seorang pengusaha kaya di luar lapangan, tetapi dia akan kembali beraksi bersama Getafe dan menjadi tokoh sentral dalam permainan Getafe.

Sumber : www.wormtraders.com

Artikel Selanjutnya
Arsenal Bidik Pemain FC Porto
Artikel Selanjutnya
Unai Emery Sudah Pegang Susunan Pemain Idamannya di Arsenal