Sukses

Bursa Asia Dibuka Menguat karena Ketakutan Geopolitik Memudar

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia menguat pada pembukaan perdagangan Selasa pekan ini. Kekhawatiran geopolitik memudar sehingga mendorong sebagian besar bursa saham di kawasan Asia berada di zona hijau.

Mengutip CNBC, Selasa (17/4/2018), indeks Nikkei 225 menguat tipis 0,1 persen. Topix juga seirama dengan menguat 0,01 persen. Saham-saham di sektor keuangan bergerak negatif sehingga penguatan bursa saham di Jepang tertahan.

Di Korea Selatan, indeks Kospi naik 0,1 persen. Saham-saham di sektor otomotif menjadi buruan pelaku pasar pada awal perdagangan.

Indeks S&P/ASX 200 Australia juga naik 0,21 persen. Seluruh sektor pembentuk indeks acuan di Australia ini bergerak di zona hijau.

Pergerakan bursa Asia ini seirama dengan Wall Street. indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 212,9 poin atau 0,87 persen menjadi 24.573,04.

Indeks S&P 500 naik 21,54 poin atau 0,81 persen menjadi 2.677,84. Adapun Nasdaq Composite menambahkan 49,64 poin atau 0,7 persen ke 7.156,29.

Wall Street menguat pada penutupan perdagangan Senin dengan pendorong utama adalah saham-saham di sektor teknologi dan kesehatan karena investor optimistis dengan laporan kinerja kuartalan.

Kekhawatiran akan risiko geopolitik dengan adanya serangan rudal ke Suriah mulai mereda.

1 dari 2 halaman

Konflik Suriah

Untuk diketahui, bersama koalisi militernya, Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris melancarkan serangan militer ke Suriah. Menurut Presiden Amerika Serikat Donald Trump, tindakan ini dilakukan untuk merespons serangan senjata kimia di negara tersebut.

Dikutip dari laman BBC, pada Sabtu kemarin, kebenaran serangan militer itu disampaikan secara langsung oleh Trump lewat siaran televisi.

"Sebuah operasi gabungan bersama angkatan bersenjata Prancis dan Inggris tengah berlangsung saat ini," ujar Presiden Amerika Serikat tersebut.

Dalam pidatonya, Trump telah memberi persetujuan atas serangan militer di lokasi penyerangan senjata kimia di Suriah. Serangan ini dilancarkan sebagai balasan Amerika Serikat terhadap serangan senjata kimia di Douma pekan lalu, yang menurutnya dilakukan oleh pemerintah Suriah. Sejumlah ledakan pun dilaporkan telah terjadi di dekat ibu kota Suriah, Damaskus.

Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Theresa May membenarkan keterlibatan negaranya. "Tak ada alternatif praktis lainnya selain tindakan militer."

Meski demikian, Theresa May menegaskan bahwa serangan ini dilancarkan bukan dengan maksud mendesak pergantian rezim.

Presiden Trump mengatakan, serangan-serangan ini diarahkan pada sasaran terkait -- lokasi yang dinilai menjadi pusat kemampuan senjata kimia pemerintah Suriah.

Trump mengatakan, tujuan serangan militer ini dimaksud untuk membangun pencegahan terhadap produksi, penyebaran, hingga penggunaan senjata kimia.

Dikatakan Trump, dugaan serangan kimia di Douma yang menurutnya dilancarkan oleh pasukan Presiden Bashar al-Assad, bukanlah tindakan yang dilakukan oleh seorang lelaki, melainkan kejahatan yang dilakukan oleh monster.

Di lain sisi, Suriah membantah tuduhan telah melakukan serangan senjata kimia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Abaikan Ketegangan Geopolitik, Bursa Asia Menguat Tipis
Artikel Selanjutnya
Peringkat Utang RI Naik, IHSG Turun Terbatas