Sukses

Riset: Segelintir Orang Terkaya Bakal Kuasai 64 Persen Kekayaan Dunia

Liputan6.com, New York - Sekitar satu persen orang terkaya di dunia akan menguasai sebanyak dua pertiga dari kekayaan dunia pada 2030. Hal itu berdasarkan pengamatan analisis yang mengejutkan.

Para pemimpin dunia diperingatkan jika akumulasi kekayaan ini terus berlanjut tak terbendung, hal ini akan mendorong kemarahan serta ketidakpercayaan untuk dekade mendatang. Kecuali sampai diambil keputusan untuk memulihkan keseimbangan.

Proyek yang mengkhawatirkan dihasilkan oleh the House of Commons. Proyeksi itu menunjukan jika tren yang terlihat sejak krisis keuangan pada  2008 tersebut terus berlanjut. Sekitar satu persen orang terkaya akan mengendalikan 64 persen kekayaan di dunia pada 2030. Tak hanya itu, orang terkaya juga dipandang akan memiliki lebih dari setengah dari semua kekayaan yang ada.

Sejak 2008, kekayaan sekitar satu persen orang terkaya di dunia telah tumbuh rata-rata enam persen per tahun. Hal ini jauh lebih cepat tiga persen persen dibanding 99 persen sisa populasi dunia yang ada. Demikian mengutip dari laman The Guardian, Minggu (22/4/2018).

Jika hal ini terus berlanjut, satu  persen orang terkaya tersebut akan memiliki kekayaan setara dengan USD 350 triliun. Angka itu naik sekitar USD 140 triliun.

Analis memperkirakan kekayaan tersebut telah terkonsentrasi karena ketimpangan pendapatan yang baru-baru ini terjadi, antara lain tingkat tabungan yang lebih tinggi di kalangan orang kaya dan juga akumulasi aset yang ada.

Orang kaya juga menginvestasikan sejumlah besar modal dalam bisnis, saham, aset keuangan lainnya, yang secara tidak langsung memberikan manfaat yang tidak proporsional pada keuangan.

 

1 dari 2 halaman

Hasil Poling

Hasil polling dari Opinium menunjukan pemilih (voters) merasakan masalah besar dengan pengaruh yang dimiliki oleh orang yang sangat kaya ini. Saat diminta untuk memilih kelompok yang memiliki kekuatan terbesar pada 2030, sebagian besar (34 persen) mengatakan ialah super kaya, sementara yang 28 persen memilih pemerintah nasional.

Dengan ini, para pemilih khawatir konsekuensi dan ketidaksetaraan kekayaan akan meningkatkan korupsi (41 persen). Kemudian orang terkaya ini menikmati pengaruh kesenjangan terhadap kebijakan pemerintah yang ada yaitu sebesar 43 persen.

Penelitian ini ditugaskan atas dasar perintah dari Liam Byrne yaitu Mantan Menteri Kabinet Partai Buruh yang merupakan bagian dari pertemuan anggota parlemen, akademisi, pemimpin bisnis, serikat pekerja dan juga pemimpin masyarakat sipil yang berfokus pada penanganan masalah tersebut.

Harapannya adalah menciptakan tekanan untuk aksi global saat para pemimpin negara G20 bertemu di Buenos Aires pada November ini. Byrne yang mengorganisir konferensi parlementer global pertama OECD ini mengatakan, ketidaksetaraan global sekarang telah berada pada titik kritis.

"Jika kita tak mengambil langkah untuk menulis ulang aturan tentang cara kerja ekonomi kita, maka kita mengutuk diri sendiri di masa depan. Ini buruk secara moral. Dan secara ekonomi ini akan membawa ledakan baru dengan adanya ketidakstabilan, korupsi, serta kemiskinan," ujar dia.

Profesor Geografi University of Oxford Danny Dorling menyatakan skenario orang terkaya dapat akumulasi kekayaan pada 2030 ini merupakan hal realistis yang mungkin saja terjadi.

"Bahkan jika pendapatan orang-orang terkaya ini berhenti meningkat di masa depan, kekayaan mereka akan tetap tumbuh untuk beberapa waktu.

"Puncak terakhir dari ketidaksetaraan pendapatan terjadi pada 1913 dan kita berada dekat pada fase tersebut lagi. Tetapi bahkan jika kita mengurangi ketidaksetaraan saat ini, hal ini akan terus tumbuh selama satu hingga dua dekade lagi," tambah dia.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

Artikel Selanjutnya
Ini 10 Negara Pencetak Miliarder Terbanyak di Dunia
Artikel Selanjutnya
Jadi Orang Terkaya Sejagat, Ini 3 Sosok Panutan Jeff Bezos