Sukses

Investor Buru Instrumen Berisiko, Rupiah Kembali Menguat

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat pada perdagangan Selasa pekan ini. Sejumlah data ekonomi Indonesia dijadwalkan untuk dirilis pekan ini.

Mengutip Bloomberg, Selasa (13/3/2018), rupiah dibuka di angka 13.763 per dolar AS, menguat tipis jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 13.765 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 13.742 per dolar AS hingga 13.765 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 1,44 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 13.757 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan patokan sehari sebelumnya yang ada di angka 13.768 per dolar AS.

Chief Market Strategist FXTM Hussein Sayed menjelaskan, rupiah menguat karena selera risiko investor meningkat pada awal perdagangan.

Sejumlah data ekonomi Indonesia dijadwalkan untuk dirilis pekan ini. Namun neraca perdagangan hari Kamis khususnya akan dapat memberi isyarat mengenai momentum ekonomi domestik.

"Optimisme meningkat karena perdagangan global menguat dan potensi impor dan ekspor melampaui ekspektasi di bulan Februari yang bisa memperkuat pertumbuhan ekonomi," jelas dia.

1 dari 2 halaman

BI Jaga Stabilitas Rupiah

Bank Indonesia (BI) menyatakan senantiasa menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Selain itu juga konsisten dan berhati-hati merespons dinamika pergerakan nilai tukar rupiah.

Ini dilakukan untuk memastikan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan tetap terjaga sehingga keberlangsungan pemulihan ekonomi dapat berlanjut.

"Respons Bank Indonesia ditempuh untuk mengelola dan menjaga fluktuasi (volatilitas) nilai tukar rupiah agar tetap sejalan dengan kondisi fundamental makroekonomi domestik dengan juga memperhatikan dinamika pergerakan mata uang negara lain," ujar Gubernur BI Agus Martowardojo pada Rabu 7 Maret 2018. 

Ia menuturkan, ekonomi Indonesia semakin terintegrasi dengan sistem keuangan global, dinamika nilai tukar rupiah, saat ini merupakan dampak langsung dari kondisi ekonomi global yang terus alami pergeseran kebijakan moneter global saat ini, terutama di Amerika Serikat (AS) .

Saat ini, AS tengah memasuki era peningkatan suku bunga dan rezim kebijakan fiskal yang lebih ekspansif. "Dampak dari kebijakan ekonomi AS tersebut berpengaruh terhadap perekonomian di seluruh negara, termasuk Indonesia yang antara lain tercermin pada dinamika pergerakan mata uang negara-negara di dunia," ujar dia.

Artikel Selanjutnya
Dolar AS Tertekan di Asia, Rupiah Menguat ke 13.750 per Dolar AS
Artikel Selanjutnya
Menunggu Rapat Bank Sentral Eropa, Rupiah Bergerak Stabil