Sukses

Bursa Asia Melandai, Saham Perusahaan Baja Tertekan

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia melemah pada pembukaan perdagangan Selasa ini. Kebijakan yang dikeluarkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memukul produsen baja regional.

Mengutip CNBC, Selasa (13/3/2018), beberapa negara di Asia diperkirakan bakal terpukul dengan keputusan Donald Trump untuk memungut tarif impor yang tinggi bagi produk baja dan aluminium.

"Kami percaya bahwa produk baja dari Korea Selatan, Jepang, Vietnam, Thailand, Afrika Selatan, Australia dan Argentina paling berisiko mengalami perpindahan pasar dari AS," jelas analis energi Wood Mackenzie dalam catatannya.

Saham Australia turun 0,31 persen didorong oleh pelemahan saham Bluescope Steel yang melemah 0,44 persen dan Rio Tinto yang merupakan perusahaan yang berfokus pada bijih besi, bahan utama baja melemah 1,05 persen.

Saham-saham di sektor keuangan juga mengalami tekanan. AMP kehilangan 0,74 persen sementara Westpac merayap turun 0,3 persen.

Indeks acuan bursa Jepang Nikkei 225 tergelincir 0,35 persen di tengah perkembangan skandal terbaru kronisme yang menekan pemerintahan Perdana Menteri Shinzo Abe.

Di sektor baja, saham JFE Holdings kehilangan 0,90 persen dan Nippon Steel turun 0,33 persen.

Indeks Kospi Korea Selatan dibuka mendatar. Saham-saham sektor baja juga bergerak di teritori negatif. Posco, Dongkuk Steel dan Hyundai Steel masing-masing turun lebih dari 1 persen.

1 dari 3 halaman

Wall Street

S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average (DJIA) merosot pada penutupan perdagangan saham Senin usai Donald Trump menandatangani aturan tarif impor baja pada pekan lalu. Sedangkan Nasdaq naik karena dorongan saham-saham teknologi.

Mengutip Reuters, Selasa (13/3/2018), Dow Jones Industrial Average turun 157,13 poin atau 0,62 persen menjadi 25.188,61. Untuk S&P 500 kehilangan 3,55 poin atau 0,13 persen menjadi 2.783,02. Sedangkan Nasdaq Composite naik 27,52 poin atau 0,36 persen menjadi 7.588,33.

Saham Boeing Co turun 2,9 persen dan Caterpillar Inc melemah 2,4 persen karena mendapat tekanan atas sikap proteksi Donald Trump terhadap impor baja dan aluminium.

Alasannya, aturan memberikan tarif bea yang tinggi untuk produk baja dan aluminium tersebut dapat meningkatkan biaya dan menghambat penjualan perusahaan.

"Perusahaan industri multinasional besar di dunia semua terpukul dengan kekhawatiran bahwa mereka akan menjadi sasaran sanksi pembalasan," kata direktur Per Stirling Capital Management, Austin, AS, Robert Phipps.

Kekhawatiran akan adanya perang tarif tersebut meluruhkan optimisme pelaku pasar dengan adanya perbaikan angka ekonomi berupa kenaikan upah yang bisa mendorong kenaikan suku bunga acuan Bank sentral AS lebih cepat dari perkiraan awal.

2 dari 3 halaman

Teken Tarif Impor

Untuk diketahui, pada pekan lalu Presiden Trump merealisasikan janji kampanyenya. Salah satunya dengan menandatangani tarif impor baja dan aluminium.

Akan tetapi, Trump membeaskan Kanada dan Meksiko dari tarif tersebut. Tarif impor dikenakan sebesar 25 persen untuk baja dan 10 persen untuk aluminium.

AS kemungkinan juga mengecualikan sekutu lain. Rencananya tarif tersebut mulai berlaku dalam 15 hari. Pengenaan tarif tersebut dinilai merupakan masalah penting untuk keamanan nasional dan domestik.

Selain pengecualian untuk kedua mitra NAFTA, Gedung Putih juga akan memberikan kesempatan kepada negara-negara lain untuk membenarkan mengapa mereka tidak boleh disertakan.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Artikel Selanjutnya
Sektor Tambang Pimpin Penguatan, IHSG Melonjak 25,99 Poin
Artikel Selanjutnya
Bursa Asia Menghijau, IHSG Melonjak 42,44 Poin