Sukses

Sektor Tambang Pimpin Penguatan, IHSG Melonjak 25,99 Poin

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada perdagangan saham awal pekan ini. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung menguat.

Pada pra pembukaan perdagangan saham, Senin (12/3/2018), IHSG naik 25,99 poin atau 0,40 persen ke posisi 6.459,32. Pada pukul 09.00 WIB, IHSG menanjak 43,25 poin atau 0,67 persen ke posisi 6.476,58. Indeks saham LQ45 menguat 0,68 persen ke posisi 1.072,81.

Seluruh indeks saham acuan kompak menguat.Ada sebanyak 149 saham menguat sehingga mengangkat IHSG. 21 saham melemah dan 79 saham lainnya diam di tempat. Pada awal sesi, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.478,27 dan terendah 6.459,32.

Total frekuensi perdagangan saham sekitar 14.455 kali dengan volume perdagangan 290,1 juta saham. Nilai transaksi harian saham Rp 239,7 miliar. Investor asing melakukan aksi beli Rp 19,70 miliar di seluruh pasar. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 13.767. 10 sektor saham pun kompak menguat sehingga mengangkat IHSG.

Sektor saham tambang naik 2,06 persen dan memimpin penguatan sektor saham. Sebelumnya sektor saham tambang sempat tertekan. Sektor saham aneka industri naik 0,90 persen, dan catatkan penguatan terbesar. Sektor saham aneka industri mendaki 0,89 persen dan sektor saham manufaktur menanjak 0,56 persen.

Saham-saham sektor tambang mencatatkan penguatan terbesar. Saham PT Aneka Tambang Tbk naik 4,71 persen ke posisi Rp 890 per saham, saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) melonjak 4,01 persen ke posisi Rp 3.110 per saham, dan saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menguat 3,81 persen ke posisi Rp 3.000 per saham.

Sedangkan saham-saham yang tertekan antara lain saham PT Buana Listya Tama Tbk (BULL) melemah 10,09 persen ke posisi Rp 196, saham PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE) merosot 3,61 persen ke posisi Rp 80 per saham, dan saham PT Polychem Indonesia Tbk (ADMG) susut 2,68 persen ke posisi Rp 290 per saham.

Bursa saham Asia kompak menguat. Indeks saham Hong Kong Hang Seng naik 1,2 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi menguat 0,96 persen, indeks saham Jepang Nikkei mendaki 1,39 persen.Selain itu, indeks saham Shanghai menguat 0,28 persen, indeks saham Singapura menanjak 1,62 persen, dan indeks saham Taiwan menguat 1,08 persen.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

Prediksi Analis

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang menguat pada perdagangan saham awal pekan ini. Aliran dana investor asing diharapkan kembali masuk ke pasar saham sehingga mengangkat IHSG.

Analis PT Indosurya Sekuritas, William Suryawijaya menuturkan, IHSG masih akan ditopang oleh fundamental ekonomi yang stabil terutama dilihat dari data ekonomi yang dirilis.

Hal itu dapat menjadi sentimen untuk mendorong minat investror berinvestasi masih cukup tinggi. Ini jika melihat IHSG yang masih terus berpotensi menguat.

Selain itu, aliran dana investor asing juga diharapkan dapat kembali untuk memperkuat kenaikan IHSG.William menambahkan, rilis data penjualan kendaraan roda dua dan pertumbuhan kredit juga akan bayangi IHSG.

"IHSG berpotensi menguat di kisaran 6.345-6.578," ujar William dalam ulasannya, Senin 12 Maret 2018.Sementara itu, Analis PT Reliance Sekuritas Lanjar Nafi mengatakan, IHSG akan menguat terbatas pada awal pekan. IHSG akan bergerak di kisaran 6.380-6.510.

"IHSG terkonsolidasi seakan momentum arah balik kurang begitu kuat dibandingkan indikasi penurunan. Meski pun demikian potensi penguatan cukup terbatas melihat pergerakan masih tertahan pada level moving average lima harian," jelas dia.

Untuk saham-saham yang masih dapat diperhatikan antara lain PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG). Sedangkan William memilih saham BBNI, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA).

Pada penutupan perdagangan saham Jumat pekan lalu, IHSG melemah 9,7 poin atau 0,15 persen ke posisi 6.433,21 usai IHSG terkonsolidasi.

Sektor saham aneka industri menekan IHSG dan industri dasar menjadi penahan. Lanjar menilai, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, inflasi dan prospek suku bunga menjadi faktor kekhawatiran investor. Investor asing melakukan aksi jual Rp 938,20 miliar.

Artikel Selanjutnya
Bursa Asia Reli Usai Rilis Data Tenaga Kerja AS
Artikel Selanjutnya
IHSG Berpeluang Menghijau, Awasi Pilihan Saham Ini